oleh

Menikmati Kereta Cepat Mekkah – Madinah

Catatan: Ilham Bintang

TERNYATA belum banyak jamaah umrah yang tahu Saudi kini memiliki moda transportasi Harramain High Speed Railway ( HHSR). Itu kereta cepat dan modern yang menghubungkan dua kota Suci, Mekkah -Madinah, dalam waktu hanya dua sampai 3 jam. Memotong perjalanan dengan mobil maupun angkutan bus yang biasanya menelan waktu sekitar 6-7 jam. Itu pun kalau tak ada gangguan badai gurun.

Padahal, proyek raksasa Saudi itu telah beroperasi sejak Oktober tahun lalu. Diresmikan sendiri oleh Putra Mahkota Mohammad Bin Salman. Proyek ini dibangun dalam dua fase oleh dua konsorsium yang melibatkan perusahaan-perusahaan Saudi, Prancis, Cina, dan Spanyol. Nilai proyeknya US$6,7 miliar atau sekitar Rp100 triliun

Penyanyi senior Arie Koesmiran kaget mengetahui saya naik HHSR dari Mekkah -Madinah.
“Hah! Memangnya sekarang ada kereta di Saudi, Bang? Tanyanya.

Arie dan rombongan berumrah rute Madinah baru kemudian masuk Mekkah. Sedangkan rute kami sebaliknya, masuk Jeddah/ Mekkah, dulu baru melanjutkan ke Madinah.
Begitu pun dengan banyak jamaah kita lainnya. Saya ketemu Haji Rizal, kader PDI-P di Lounge Bandara Madinah Sabtu (6/4) tengah malam saat menunggu boarding pesawat Garuda GA 961 kembali ke Tanah Air. Seperti Arie, dia juga terkejut. “Kalau tahu saya juga mau nyobain kereta itu,” katanya.

Pemred Kumparan.com, Arifin Asydhad demikian juga. Dia berangkat Umrah Sabtu (6/4) ke Tanah Suci. Tiba di Mekkah dinihari. Setelah tahu, usai Umrah di Baitullah dia pun berziarah ke Madinah pulang hari dengan menumpang HSRR. Seatnya dibooking lewat online sejak masih di Jakarta.

Mewah tapi masih lengang
Pemerintah Saudi tidak main-main menghadirkan moda transpormasi modern dan bertehnologi tinggi ini untuk kenyamanan ibadah haji dan umrah jamaah dari seluruh dunia Infrastruktur HSRR sangat modern. Super mewah. Sudah terasa sejak menginjak halaman stasiun di Mekkah. Lahan parkir luas dan ditata rapi. Masuk stasiun kita seperti masuk sebuah taman fantasi. Arsitekturnya menawan. Tampak lengang, hanya beberapa staf yang bertugas hari itu. Belum ada fasilitas seperti restoran atau butik, dan toko- toko penjualan cendera mata, seperti lazimnya di stasiun kereta di beberapa negara. Penumpangnya sendiri belum banyak.

Saya sempat sempat cemas jangan- jangan salah masuk saking lengangnya. Bagian check – in dijaga hanya 2-3 orang. Sama jumlahnya dengan bagian pemeriksaan bagasi. Mereka menggunakan seragam HSRR yang resik. Saya kira inilah stasiun kereta cepat terbaik di dunia saat ini. Stasiun kereta cepat London dan Paris, kalah.

Ada wifi
Interior gerbong HSRR juga mewah. Jok kursinya kulit, ditata dalam formasi dua-satu. Dilengkapi dengan layar monitor, seperti halnya di pesawat. Kursinya bisa diatur penumpang dengan formasi berhadapan. Menyerupai seat dalam private jet. Di tengah ada meja untuk bersantap. Separuh perjalanan, penumpang mendapatkan lunch berupa dua potong sandwich plus salad, dan jus.

Ruang penyimpanan koper cukup luas, tersedia di setiap gerbong. Saya juga baru tahu setelah membaca tiket, saat seorang kawan bertanya lewat WA. Harga tiket one way Mekkah- Madinah 268 RS (Rp1 juta).

Gerbong dilengkapi area salat, toilet dan wifi. Selama perjalanan hubungan telpon berfungsi baik, saya beberapa kali menerima telpon dari Jakarta, dan kontak WA dari petugas penjemputan di Madinah.

Saya dan isteri naik HHSR dari Mekkah-Madinah Kamis (4/4) siang. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam 50 menit termasuk transit di Jeddah sekitar 20 menit. Mestinya kalau rute langsung Mekkah- Madinah sudah mulai berlaku, maka waktu tempuhnya sekitar dua jam. Rute Mekkah -Madinah untuk sementara memang masih transit di Jeddah dan baru operasi melayani penumpang empat kali seminggu.

Komunikasi saya dengan Arie Korsmiran lewat FB, Kamis siang itu ketika dalam perjalanan HSRR. Setelah saya jelaskan, Arie berubah pikiran untuk naik kereta cepat ke Mekkah. Arie mengaku masih punya kesempatan mengubah moda transportasi karena masih akan tinggal dua hari di Madinah. Apalagi bisa dipesan online lewat ponsel.

Proyek lama
HHSR ini sebenarnya proyek lama Pemerintah Saudi. Semula direncanakan akan beroperasi awal 2017. Waktu itu, Maret 2017, pas saya lagi berumrah. Sudah merencanakan akan mencoba moda transportasi modern itu dari Mekkah ke Madinah. Tapi rupanya belum rampung. Masih butuh waktu untuk melakukan beberapa kali uji coba sebelum dioperasikan.

Pada perjalanan Umrah, akhir Maret tahun ini, booking naik HHSR dari Mekkah -Madinah, dilakukan dari Jakarta oleh Jamaluddin Mahmud, SH, MH, Boss Al -Bilad Tour & Travel. Jamal pula yang mengkonfirmasi pengoperasian HHRS itu saat dia berkunjung ke rumah bersama produser film Zairin Zain. Dia yang langsung pesan tiket. Jamal adalah pemilik Al Bilad Tour & Travel.

Jamal juga yang menghandel perjalanan umrah kami di Tanah Suci. Dia berkolaborasi dengan TFA Manasek. Yang disebut terakhir ini juga perusahaan Indonesia yang khusus menangani kebutuhan handling jamaah di Saudi. Pemilik perusahaan itu adalah Nordin yang berpengalaman puluhan tahun menangani bidang itu.

Berbeda dengan sebelumnya, perjalanan Umrah kali ini kami mau coba, “jalan sendiri”. Tidak melalui travel atau biro perjalanan umrah. Beli tiket pesawat sendiri, juga booking hotel di Mekkah dan Madinah secara online via Agoda.com.

Berkat bantuan Direktur Niaga Garuda, Pikri Ilham Kurniansyah, saya beli tiket jauh hari dengan harga lebih murah dibandingkan lewat agen yang menjual tiket khusus ke Saudi. Ketika kami mempercepat dua hari kepulangan ke Tanah Air dari jadwal, Pak Pikri juga turun tangan membantu. Maklum di Saudi tidak mudah mengubah jadwal kepulangan biarpun naik pesawat Garuda.

Dengan coba “jalan sendiri” memang terdapat selisih besar dalam hal biaya dibandingkan menggunakan jasa travel. Tapi saya ragu sendiri dengan perhitungan itu. Sebab, ada bantusn banyak teman.Mengurus visa saja dibantu atau menggunakan jasa travel Anta Umrah. Biro perjalanan yang dulu menghandel keberangkatan rombongan kami bersama anak – cucu tahun 2016 dan 2017. Boss Anta Umrah, Iwan Giwangkara terjun langsung mengurus visa kami tanpa fee.

Begitu juga dengan Boss Al Bilad, Jamaluddin Mahmud. Dia menghandel penjemputan kami di bandara secara khusus ketika tiba di Jeddah Kamis(28/3) petang. Bak pejabat, kami tidak mengikuti rute penumpang lain, tetapi dijemput dengan mobil BMW serie 7 lewat tangga khusus di bawah pesawat —saat tiba di bandara King Abdul Azis, Jeddah. Ruangan kami menunggu koper pun, sifatnya khusus. Luas, mewah, dan lengang. Dilengkapi dengan ruang makan. Tim penjemput menginformasikan, itu fasilitas penjemputan standar tamu Raja. Masya Allah. Jamal bikin saya terharu.

Tak cukup itu. Jamal juga melengkapi kami dengan petugas yang melekat selama kami ibadah di Mekkah dan Madinah, serta tur ke berbagai tempat, dengan kendaraan jeep DMC yang terkenal di Saudi. Sayang, Jamal tidak pernah bersedia manyebut berapa nilai Real Saudi sebenarnya untuk semua fasilitas itu.

60 juta penumpang pertahun

Proyeksi HSRR dapat mengangkut 60 juta penumpang setiap tahun. Memiliki total 35 gerbong dengan seat masing – masing 417 orang. Stasiun HSRR di Mekkah sendiri yang berjarak 4 kilometer dari Masjidil Haram mampu menampung 20.000 penumpang per jam. Moda transporasi baru diyakini pemerintah Saudi dapat melonggarkan lalu lintas bagi para jamaah haji maupun beribadah di Tanah Suci. Semoga. (*)

 

News Feed