Menikmati Malam dari Sky Lounge Santika Bukittinggi

Oleh: Khairul Jasmi

Malam di Bukittinggi sedang menuju puncaknya bersama angin yang sedang riang berhembus. Sementara itu, gulita sobek oleh cahaya lampu di sini, di jantung kota hingga ke kaki dua gunung.

Gunung itu Marapi dan Singgalang membentangkan panorama abadi untuk kota kecil nan cantik ini. Menyaksikan sejarahnya tumbuh abad demi abad.

Malam ini, Jumat (29/7) pukul 22.00 saya bersama beberapa teman sedang menikmati suasana di sky lounge, Santika Hotel di jantung Bukittinggi. Ada musik yang lembut. Saya duduk sembari menikmati secangkir wedang jahe. Rambut saya dikisai angin yang kencang, tapi tetap saja kalah oleh angin di Waikiki, Hawaii.

Dingin Bukittinggi lebih terasa di lantai 9 hotel grup Kompas ini. Tapi, suasana panorama malam yang aduhai, seperti mengikat kaki saya bersama kerlap-kerlip malam, agar jangan beranjak dulu. Tak hendak pergi, di sini barang sejenak.

Seleluasanya saya pandangi kota tua bersejarah dengan 170 hotel memiliki 2.230 kamar tersebut. Ada 27 bukit, yang menjadikan Bukittinggi sangat layak sebagai kota pejalan kaki. Dan kota Jam Gadang ini selalu ramai dan kisahnya ditulis setiap saat.

Malam terus memanjat di dinding waktu yang perlahan seperti menuturkan dongeng pada para tetamu. Jika jiwa manusia ada pada aroma mereka, maka jiwa kota ini ada pada panoramanya.

Mungkin doeloe, pemilik kota mulai membangun pemukimannya dengan hati sebesar rembulan. Dan, orang-orang yang datang, tiba dengan hati nan riang. Lalu Bukittinggi yang kisah-kisah tuanya Anda sudah tahu, selalu dengan tabah menerima, apapun yang terjadi.

Bukittinggi terkuat idenritasnya di Sumbar, menjadi ibukota lebaran dan liburan. Menjadi kota rakyat dan tentu saja menjadi rumah yang jauh bagi pelancong.

Malam masih lama akan selesai, angin berhembus menemaninya dengan setia dan di lantai 9 Santika, tamu silih berganti melantunkan lagu. Petikan gitarnya pas, enaknya memang bersenandung tapi saya tak bisa. Biarlah malam menunaikan tugas tersebut.(**)