Tak Berkategori  

Menikmati Malam di Masjid At Thohir

Khairul Jasmi

“Wow bos klub bola,” kata Menteri BUMN Erick Thohir ketika saya salami. Yang bos klub tentu Erick. Saya adalah orang yang ia tugaskan untuk melihat-lihat klub bola Semen Padang, SPFC. Percakapan ini terjadi di teras Masjid At Thohir, Kamis (10/3) malam.

Begitulah, saat itu, malam jatuh sempurna pelataran masjid ini. Para anggota Forum Pemred baru saja selesai Shalat Isya, diimami seorang pemuda bersuara merdu.

Masjid dengan langit-langit tinggi dan dominan warna putih itu, terletak di kawasan Cimanggis, Depok. Lantainya dari marmer itali.

“Bisa dibuka?” Menteri BUMN Erick Thohir, spontan berucap tatkala saya kesulitan membuka pintu besi jangkung, tinggi, berdaun dua. Pintu geser itu, saya dorong, manalah bisa dibuka.

Saya dan beberapa kawan dari Forum Pemred memang hadir di sini, sebelum magrib karena diundang oleh Garibaldi Boy Thohir dan Erick. Masjid tersebut, sehari sebelumnya diresmikan Presiden Jokowi.

Selesai Isya, kami beralih ke pelataran luas di depan masjid, yang dibatasi jalan yang lempang. Dari sini, film anisa pendek dipancarkan ke dinding depan masjid. Film itu berkisah tentang ayah Boy dan Erick.

“Masjid ini indah, serba putih, bergaya arsitektur klasik modern. Satu kubah besar dikelilingi 16 kubah kecil, dan diapit empat menara setinggi 40 meter. Masjid At-Thohir, yang berarti suci dan bersih, seluas 8 ribu meter, dua lantai, di areal 2,8 hektare dengan kapasitas 1.976 orang jamaah shalat, ” tulis Asro Kamal Rokan, wartawan senior di FB-nya.

Dalam pengamatan Asro, posisi masjid strategis. Masuk dari gerbang kompleks Podomoro, Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, masjid berada di sebelah kiri jalan Mochamad Thohir.

” Di seberang jalan, ada plaza dengan beberapa anak tangga. Di plaza ini, pada malam hari, masyarakat akan disuguhkan atraksi lampu warna warni dan pemutaran video dakwah dengan menggunakan masjid sebagai layar. Rencananya, atraksi akan ditampilkan pada setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu, setelah shalat Isya. Di sebelah plaza sedang dibangun parkir dan pusat kuliner, ” kembali Asro menulis.

Pemutaran video animasi itu, diperkaya oleh permainan cahaya, membuat pesan yang diantarkan, bisa dicerna dengan baik.

Tentu saja, masjid ini dimaksudkan untuk bakti anak-anak untuk ayahnya, Mochamad Thohir, yang wafat 1 November 2016.

Boy, Erick dan kakak mereka,
Rika Thohir, dibesarkan oleh ayah mereka dalam kehidupan yang jungkir-balik. Perjalanan hidup Teddy, yang dilahirkan di Lampung, 1935, bermula dari bawah. Sejak kecil didera kerasnya kehidupan. Tinggal di gubuk berlantai tanah dan kemudian menjadi konglomerat. Sebuah kehidupan yang sempurna.

“Sebagai bakti, kami anak-anaknya, tentu selain berdoa agar ayah kami diberikan tempat terbaik oleh Allah SWT, juga berbakti untuk membangun masjid ini,” kata Erick.

Tentu saja, anak-anaknya takkan mampu membelas apa yang dilakukan orang tuanya. Teddy Thohir, jadi yatim sejak kecil. Tatkala ayahnya Abdul Halik tiada, Teddy berjuang untuk tetap bisa sekolah. Baginya, pendidikan harus diutamakan. Sejak tamat SMP, ia menyeberang dari Sumatera ke Jakarta dan terus ke Solo. Ia menemukan cintanya di sana. Mereka menikah.
Menurut catatan Republika, kariernya terus meningkat setelah mendapat tawaran dari Theodore Permadi Rachmat dan bergabung dengan Astra yang dipimpin William Soeryadjaya, dari awalnya staf hingga memegang posisi sebagai salah satu direktur dan pemegang saham. Teddy juga mendirikan PT Trinugraha Thohir (TNT Group), yang bergerak di bidang sumber daya alam, properti, otomotif, hingga restoran. Orang kaya itu, lalu dipanggil Tuhan pada 2016.

Dan, masjid rancak ini dipersembahkan pada sang ayah. Kami kini telah di pelataran masjid, bukan hanya minum yang tersedia, tapi juga durian. Hidangan itu lebih setengah jam tak ada yang menyentuh, karena semua serius menyaksikan tayangan film animasi, perjalanan hidup ayah Boy dan Erick.

Dan, malam kian sempurna, Erick permisi pergi, karena besok (Jumat tadi) ia akan ke Mandalika. Tetamu yang masih bertahan, berbincang dengan Boy. Tak lama kemudian, bubar. Masjid itu, memang gagah. **