oleh

Menikmati Secangkir Kopi Kawa Kuliner Zaman Kolonial

Secangkir kawa daun hangat tanpa gula, di hawa nan sejuk, terasa nikmat sekali. Di sini pondok kuliner, Bukit Siangan, Tanjuang Alam, amat dekat ke Tabek Patah, Tanah Datar, sedang ramai. Semua meja penuh. Melimpah sampai keluar.

Muda-mudi perantau dari Pekanbaru terlihat sedang menikmati goreng pisang hangat, sehangat cinta mereka. Saya memesan dua cangkir dan beberapa butir cemilan, pisang goreng.

Suara mengaji Abdurrahman as Sudais terdengar dari kaset yang diputar dari masjid terdekat. Memang sebentar lagi magrib akan masuk. Walau begitu, di sini masih ramai atau mungkin akan kian sesak.

Ada 10 meja di dalam plus satu balai-balai. Di luar dibuat meja sehelai papan, memanjang separuh pondok, ditambah satu meja di depan. Penuh. Inilah pondok kawa daun Mangkuto yang terkenal itu.

Pengunjung singgah untuk melepas lelah sembari menikmati sajian hangat dan berpacaran juga. Satu keluarga di sebelah kiri di satu meja empat kaki, terlihat menikmati kuliner yang diambil sendiri. Beberapa orang menyerbu sampai ke dapur. Di sana, kuali-kuali besar sedang terjerang, beberapa pekerja berbaju seragam, memakai celemek, bekerja sigap. Kawa daun dipesan apa adanya, pakai gula atau susu. Yang manapun, enak diseruput kala hangat.

Saya dan kawan memesan 3 cangkir tambah lima resoles dan pisang goreng, terbayar Rp20 ribu.

Kuliner zaman kolonial

Tikaman pedang ekonomi Belanda di ujung masa penjajahannya di Indonesia bukan hanya belasting, tapi juga Tanam Paksa.

Sebuah plakat dikeluarkan  1 November 1847 dan kelak diakhiri 1908. Sekitar setengah abad, khusus orang Minang dipaksa menanam kopi. Kopinya dibawa ke Amsterdam, pribumi hanya boleh menyangai daunnya, diolah jadi minuman seperti teh. Perih, tapi apa hendak dikata, Belanda sekuat lokomotif kereta api yang menuju Sawahlunto.

Tiap keluarga yang punya lahan di wilayah yang cocok, wajib menanam 150 batang kopi. Ketika petani yang menanam kopi itu sudah meninggal dan anaknya sudah bercucu, pokok-pokok kopi eks Taman Paksa itu masih bisa ditemukan. Juga sekarang di beberapa nagari di kaki Gunung Marapi, terutama di kawasan Tanah Datar. Itulah salah sebab kenapa di sini kawa sangat populer dan diseduh jadi kuliner di zaman milenial.

Dan seorang bujang berusia sekitar 15 tahun, pipinya elok dipiciak-piciak karena wajah kanak-kanaknya bertindak sebagai kasir di pondok kawa daun Mangkuto. Ia cekatan menghitung belanjaan orang. Inilah hari ketiga pada Hari Raya Idul Fitri, Jumat (7/6). Malam telah datang, saya sudah sampai di Salimpaung, hendak menuju Batusangkar, kota masa kecil saya (Khairul Jasmi)

Loading...

Berita Terkait