Menimbang Andre Rosiade

Oleh: Ronny P Sasmita

Modal utama Andre Rosiade sebagai politisi sudah lebih dari cukup, yakni rasa percaya diri yang menjulang tinggi. Nah, jika sudah superpede, urusan lain tentu bisa susul-menyusul. Perkara sponsor bisa diatur. Urusan visi misi bisa dinomorsebelaskan. Apalagi hanya perkara display photo iklan atau photo di headline media lokal Sumbar. Semuanya bisa di-generate dan diatur.

Rasa percaya diri nan tinggi memang mahal harganya. Tak banyak yang demikian di Kota Padang dan di Sumbar hari ini. Namun menariknya, rasa percaya diri yang tinggi tersebut tidak membuat Andre Rosiade menjadi sosok yang jumawa. Rasa itu justru mampu membawanya kepada posisi spritual dengan langit-langit tak berbatas. Cukup ikhlas nampaknya beliau dengan apapun reaksi publik atas keberanian dan kepercayaan dirinya.

Peduli amat di belakangnya orang akan bicara apa, mencibir, memanfaatkan situasi, atau hanya sekedar basa-basi mereaksinya, tak pentinglah itu. Begitulah kira-kira kepercayaan diri Andre Rosiade dalam menerima respon publik. Dengan kata lain, beliau ikhlas jikapun ada orang yang berbicara sinis tentang aksi-aksinya.

Boleh jadi, perspektif Andre Rosiade dalam melihat politik jauh lebih luas. Bebas berekpresi tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Dengan kata lain, Andre sebagai politisi boleh bebas beraspirasi, tapi audiennya juga bebas memberikan reaksi. Dan nampaknya Andre sangat memahami itu.

Meski demikian, keberanian Andre Rosiade memberikan kritik kepada penguasa di Sumbar sedari dulu patut diacungi jempol. Karena saya kira, boleh jadi juga menurut Andre Rosiade, demokrasi semestinya adalah dinamika politik yang tidak sekedar bergantung kepada apa kata pejabat terpilih, tapi juga dinamika yang dialektis di semua tingkatan.

Sekalipun sudah secara de facto dan de jure menjabat sebagai penguasa, kritik tetap diperlukan. Toh memang demokrasi tidak hanya milik pemenang, tapi juga milik pemilih, sebelum dan sesudah pemilihan. Jadi memang seharusnyalah siapapun penguasanya, imagi dan energi kritis harus tetap dijaga. Nah, Rosiade termasuk salah satu politisi yang menjaganya, setidaknya selama beliau belum menjadi Gubernur Sumbar.

Dan setelah sukses menjadi Jubir Prabowo Sandi di Pemilihan Presiden 2019, diikuti dengan keterpilihan Andre Rosiade jadi anggota DPR dari Sumbar dengan raihan suara terbanyak, beliau tetiba didapuk jadi ketua DPD Gerindra Sumbar, lalu ditugasi memenangkan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar dari Gerindra, Nasrul Abit dan Indra Catri, walaupun akhirnya ternyata kalah.

Otomatis, sejak duduk jadi anggota DPR yang terhormat, Andre semakin “auto” menjadi-jadi. Andre menginisiasi interpelasi Gubernur Sumbar (di era Irwan Prayitno kala itu) karena dianggap terlalu sering pergi ke luar negeri, walaupun secara fundamental konstitusional interpelasi sejatinya untuk hal-hal yang strategis sifatnnya.

Kemudian, tanpa teding aling-aling, Andre Rosiade menggrebek praktek prostitusi online di Kota Padang, dengan skenario dan settingan yang nampaknya telah disiapkan terlebih dahulu. Jagat pun media ramai, sampai ke tingkat nasional. Pendapat publik pun terbelah.

Prostitusi online terjadi di mana-mana karena distimulasi oleh hadirnya aplikasi seperti “mechat” yang tidak bisa dilarang oleh pemerintahan daerah. Tapi Andre bersikeras, walikota Padang kala itu, Mahyeldi, yang menjadi saingan berat calon gubernur dari Gerindra, seharusnya bertanggung jawab atas maraknya prostitusi online di Kota Padang.

Tak cukup dengan itu. Andre pun terus bergerak. Andre mendatangi tempat-tempat hiburan malam di kota Padang dan mendapati minuman keras di beberapa TKP. Andre memang tak sendiri, sedari awal, ia sudah membawa beberapa awak media lokal, agar aksinya langsung tertulis di laman berita-berita online lokal dan laman media cetak lokal keesokan harinya.

Targetnya jelas, mencari kesalahan walikota Padang kala itu. Publik pun kembali terbelah. Para pendukung Andre Rosiade menganggap aksi tersebut sebagai langkah hebat, naif mungkar, dari seorang anggota DPR yang baru terangkat. Walau jauh dari wewenangnya di komisi BUMN DPR RI, tapi setidaknya ikut menjadi tanggung jawab moral beliau sebagai ketua DPD salah satu partai besar

Banyak yang mengira bahwa melambungnya nama Andre Rosiade sebagai langkah awalnya untuk mengukir nama sebagai calon Gubernur Sumbar di 2024 dan akan sangat membantu Gerindra dalam menggelorakan nama pasangan calon Nasrul Abit dan Indra Catri di Pilgub lalu. Memang, tak ada yang meragukan kebesaran namanya setelah sukses jadi Jubir Prabowo Sandi, walaupun pasangan Capres itu kalah. Setidaknya, Andre mengantongi suara terbanyak di dapilnya untuk kursi DPR.

Sayangnya, kebesaran nama itu ternyata tak mampu menghindarkan Gerindra kalah dalam Pilgub Sumbar tahun 2019 lalu. Masuknya Prabowo ke delam pemerintahan, bergemingnya Prabowo atas ditangkapmya HRS, atau ditangkapnya Eddhy Prabowo oleh KPK, getarannya lebih kuat ketimbang resonansi dari nama besar Andre Rosiade di Sumbar. Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur dari Gerindra, Nasrup Abit dan Indra Catri, harus gigit jari karena kalah suara dibanding Mahyeldi, walikota Padang yang sering disudutkan Andre Rosiade.

Andre tentu harus banyak belajar dari kejadian ini, untuk dijadikan cerminan agar tak terulang di Pilgub Sumbar 2024, di mana Andre diproyeksikan akan menjadi Calon Gubernur. Terlalu pede tak ada salahnya, grasak-grusuk mengkritik juga tak ada salahnya, tak ada yang melarang, tapi bagaimana publik menilainya, Andre tak bisa mengaturnya.

Namun demikian, sejak menjadi anggota DPR, langkah Andre dalam memikat hati para pemilih di Sumbar layak diacungi jempol. Andre berusaha menunjukan kinerja dan hasilnya sekaligus. Andre memperjuangkan aspirasi temporal yang berkembang di Sumbar ke semua jejaringnya di Jakarta, terutama BUMN-BUMN.

Pun Andre nyaris tak pernah absen dalam memperjuangkan berbagai donasi dalam kejadian-kejadian pahit yang dialami komunitas dan kelompok tertentu di Sumbar. Memfasilitasi kepentingan elit-elit Sumbar ke Jakarta dan sebaliknya. Namun apa yang dilakukan Andre masih dalam kategori standar, karena memang demikian semestinya tugas wakil rakyat atas daerah pemilihannya.

Yang membuat Andre menonjol bukanlah karena aktifitas-aktifitas itu, tapi karena wakil rakyat lainya dari Sumbar justru tak terlihat menjalankan fungsi layaknya yang dijalankan Andre. Karena itu pula, Andre terlihat lebih maju satu langkah dibanding wakil-wakil rakyat lainya dari Sumbar. Walhasil, namanya mulai digaungkan oleh beberapa pihak sebagai nama potensial untuk menjadi calon gubernur Sumbar potensial di laga 2024 nanti

Karena Andre baru bergerak di dalam kapasitas yang semestinya, alias belum melampaui kapasitas tersebut, meskipun melebihi wakil rakyat dari Sumbar lainya, maka Andre Rosiade sangat berpotensi bermain di ranah aman jika terpilih nanti layaknya gubernur Sumbar hari ini dan gubernur-gubernur Sumbar terdahulu.

Jika berkaca pada dua ketegori kepemimpinan klasik versi ilmuwan politik Amerika, James McGregor Burns dalam buku klasiknya “Leadership”, kepemimpinan Andre Rosiade masih wara-wiri dalam kategori kepemimpinan “transaksional”, alias belum masuk kategori “transformational”.

Pasalnya, Andre sampai hari ini hanya memaksimalkan apa yang memang seharusnya menjadi fungsinya sebagai wakil rakyat dan ketua DPD Gerindra. Menerima aspirasi publik, menjembatani kepentingan elit daerah dan pemerintah daerah dengan pusat atau dengan BUMN pusat, melakukan donasi personal, dan menginisiasi pertemuan-pertemuan di daerah pemilihan.

Yang tidak terlihat sampai hari ini adalah realisasi ambisi Andre Rosiade untuk merubah kondisi “status quo” di Sumbar dalam berbagai bidang. Bukankah itu yang menjadi isi “komplain” para elit intelektual Sumbar selama ini?

Sampai hari ini, belum terdengar keluar dari mulut Andre tentang mimpinya atas Sumbar dalam sekian tahun yang akan datang. Bahkan secara politik, Andre cenderung mencari aman dengan melakukan hal-hal yang akan dipuji publik, terlepas apakah hal tersebut akan menjadi pintu perubahan di Sumbar atau tidak.

Nah, karena konteks inilah saya masih mengategorikan potensi kepemimpinan Andre Rosiade jika hari ini menjadi gubernur masih akan sama dengan gubernur-gubernir terdahulu, yakni transaksional. Dengan kata lain, jika berkaca pada konteks Andre hari ini, ia berpeluang mencari aman jika menjadi gubernur.

Selama bisa terpilih dan bertahan, sekalipun tanpa perubahan dan transformasi, nampaknya tak akan ada masalah baginya. Saya pikir, Andre harus menjawab hal ini sebelum beliau benar-benar menjadi calon gubernur, agar masyarakat Sumbar teryakinkan bahwa Andre adalah jalan keluar bagi segala kemandegan yang ada di Sumbar selama ini, mulai dari kemandegan ekonomi, sosial budaya, dan intelektualitas.

Untuk itu, Andre Rosiade semestinya sudah mulai mempertontonkan sisi-sisi transformasional tersebut, meskipun secara politik tak akan lepas dari sisi transaksional. Sebuah saran sederhana dari yunior asal Sumbar yang sederhana pula. Semoga didengarkan

(Penulis adalah Penikmat Kopi)