Tak Berkategori  

Meningkatkan Self Confidence Mahasiswa Melalui Modul Pembelajaran Kewirausahaan

Oleh Zuwirda/Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UNP

Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik, Senior Partner & Co Founder Creco Consulting Chatib Basri menyoroti satu hal yang nilainya harus menjadi perhatian pemerintah, yakni tingkat pengangguran di level sarjana yang semakin bertumbuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tingkat pengangguran di Indonesia terus menurun. Pada Agustus 2018 misalnya, tingkat pengangguran terbuka tercatat 5,34 persen atau 7 juta orang, Angka itu turun bila dibandingkan Agustus 2017 yang mencapai 7,04 juta pengangguran. Namun jika dilihat lebih rinci, pengangguran di kalangan tenaga terdidik makin hari malah tambah makin banyak.

Deretan persoalan nasional yang tak kalah penting terkait dengan kemunculan angkatan kerja baru (new laborforce) yang terus bertambah antara dua sampai tiga juta orang per tahun (Suryana dan Bayu, 2013). Tingginya jumlah pengangguran berpendidikan tinggi menunjukkan bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi kurang menyentuh persoalan-persoalan nyata di dalam masyarakat. Perguruan tinggi belum bisa menghasilkan lulusan yang mampu berkreasi di dalam keterbatasan dan berdaya juang di dalam tekanan.
Fenomena yang terjadi saat ini banyak mahasiswa ketika lulus kuliah mereka hanya ingin menjadi seorang pegawai, ini terlihat dari hasil wawancara dengan para mahasiswa sekitar 75% menjawab akan melamar kerja, dengan kata lain menjadi pegawai (karyawan), dan hanya sekitar 4% yang menjawab ingin berwirausaha.

Untuk menjembatani permasalahan ini setiap perguruan tinggi telah membekali mahasiswa dengan mata kuliah kewirausahaan dan telah memasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi dengan tujuan untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi seorang wirausaha setelah lulus kuliah nanti.

Mata kuliah kewirausahaan bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa terhadap dunia kewirausahaan serta memotivasi mereka untuk terlibat langsung dalam dunia wirausaha sebagai wirausahawan muda yang tangguh, sehingga mahasiswa dapat ikut berkontribusi dalam meningkatkan perekonomian negara Indonesia.
Kartono (2005) menjelaskan banyak pakar menyatakan bahwa jiwa kewirausahaan dapat berasal dari faktor budaya yang berkembang dalam masyarakat atau kultur sosial. Stereotip dan genetika yang melekat dalam individu secara tidak langsung dapat diwariskan kepada keturunannya. Fakta dapat menunjukkan, dimana seorang pengusaha sukses akan memiliki anak yang juga memiliki jiwa kewirausahaan yang diturunkan dari gen orang tuanya. Begitu juga budaya, mampu menciptakan jiwa kewirausahaan seperti budaya masyarakat Minangkabau yang berjiwa pedagang. Perlu dipahami bahwa kultur sosial bukan satu-satunya faktor menciptakan jiwa kewirausahaan dalam masyarakat karena masih banyak faktor lain seperti pendidikan.

Untuk mengembalikan pemahaman generasi muda terhadap budaya dasar masyarakat Minangkabau dalam kewirausahaan maka dibutuhkan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan keyakinan akan self confidence dan semangat kewirausahaan generasi muda Minangkabau. Salah satu upaya yang dapat membangkitkan self confidence generasi muda Minangkabau adalah melalui pengembangan modul pembelajaran kewirausahaan yang berbasis budaya Minangkabau.

Pemahaman terhadap nilai-nilai budaya Minangkabau dalam hal ini penting untuk dijadikan rujukan, baik secara prinsip religiusitas maupun spirit ilmiahnya. Elfindri, Ayunda & Saputra (2010) menjelaskan diantara pepatah yang dijadikan panduan masyarakat Minangkabau dalam berwirausaha yaitu dima bumi dipijak, disinan langik di junjuang, dima aie disauak disinan ranting di patah. Makna dari filosofi tersebut mengungkapkan bahwa masyarakat Minangkabau belajar dari kehidupan yang terjadi dari lingkungan sekitar dan melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan. Mereka menjadikan kejadian-kejadian dalam kehidupan sebagai bahan pembelajaran untuk perbaikan diri.

Berdasarkan uraian di atas dikembangkanlah sebuah modul pembelajaran kewirausahaan berbasis budaya Minangkabau, berdasarkan analisis kondisi self confidence mahasiswa dan kondisi keterlaksanaan pembelajaran kewirausahaan saat ini. Pengembangan modul pembelajaran kewirausahaan berbasis budaya Minangkabau untuk meningkatkan self confidence mahasiswa. Hal ini disebabkan belum adanya modul pembelajaran kewirausahaan berbasis budaya Minangkabau untuk meningkatkan self confidence mahasiswa yang dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran kewirausahaan yang disajikan dalam proses perkuliahan terutama di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol selama ini belum menyentuh kearifan lokal atau budaya Minangkabau. Padahal kebanyakan bahkan hampir seratus persen mahasiswanya berasal dari daerah Minangkabau.

Pembelajaran kewirausahaan sudah dikembangkan hampir di semua perguruan tinggi Indonesia dengan proses yang bervariasi dan bertujuan untuk menciptakan wirausaha. Wirausaha adalah seseorang yang dengan kreativitasnya menciptakan suatu yang memiliki nilai. Proses tersebut dapat dilakukan di dalam kewirausahaan yang diciptakan sendiri maupun di dalam organisasi dimana seseorang bekerja (Susilaningsih, 2015).
Berdasarkan kajian yang dilakukan terhadap pembelajaran kewirausahaan pada umumnya dalam pembelajarannya lebih banyak terfokus pada inovasi bussines entrepreneur saja, padahal kewirausahaan tersebut bukan sebatas dibidang bussines saja, serta dalam pembahasannya belum menyinggung bagaimana budaya yang membesarkan para wirausahawan tersebut berpengaruh pada perilaku, semangat dan self confidence wirausahawan tersebut.

Modul ini menjembatani bagaimana budaya Minangkabau yang telah membesarkan masyarakatnya menjadi wirausahawan handal, baik di tingkat nasional maupun internasional. Di samping itu, modul ini menghadirkan nilai-nilai budaya Minangkabau yang tertuang dalam pepatah-petitih yang selama ini dijadikan falsafah, panduan dan pegangan bagi masyarakat Minangkabau dalam kegiatan kewirausahaan.

Modul pembelajaran kewirausahaan yang dikembangkan meliputi; Konsep dasar kewirausahaan; Faktor yang mempengaruhi kewirausahaan; Self confidence dalam kewirausahaan; Kewirausahaan dalam budaya Minangkabau; Karakteristik pelaku kewirausahaan masyarakat Minangkabau yang sukses baik ditingkat Nasional maupun Internasional yang bergerak pada bidang; Business Entrepreneur, Academic Entrepreneur, Government Entrepreneur, Social Entrepreneur dan Cooperate Entrepreneur.

Mereka mampu mengaplikasikan terobosan dalam aktivitas perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan baik. Mereka bisa berasal dari pimpinan perusahaan atau para staf perusahaan. Dari ranah Minang untuk sosok Corporate Intrapreneur, kita mengenal Emirsyah Satar (CEO Garuda Indonesia), Rinaldi Firmansyah (CEO Telkom) atau Arwin Rasyid (CEO CIMB Niaga).

Artikel ini ditulis Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana UNP, dengan Promotor I, Prof. Dr. Firman, MS., Kons, Promotor II Prof. Dr. A Muri Yusuf, M.Pd dan Promotor III Prof. Dr. Gusril, M.Pd. (*)