Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang

×

Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang

Bagikan berita
Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang
Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang

Menjelang bulan Ramadan, udara terasa semakin panas dan kering di beberapa daerah, terutama daerah pesisir pantai. Berdasarkan laporan BMKG, prakiraan rata-rata suhu di kota Padang dan sekitarnya berkisar 31o C pada siang hari dengan kondisi berawan, dan semakin menurun hingga 25o C pada malam hari dengan kondisi cerah berawan.Udara yang panas terik terasa seperti membakar, hal ini bersesuaian dengan arti kata Ramadan dalam Bahasa Arab yaitu ramida atau ar-ramad yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan (wikipedia).

Walaupun demikian, bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang sangat dinantikan oleh umat muslim sedunia.Ramadan Bulan Keberkahan

Kata Ramadan menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mengapa dinamakan bulan Ramadan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh.Berarti Ramadan dapat berarti panas yang menghanguskana dalam arti panasnya udara, dapat juga berarti panas yang menghanguskan dosa-dosa dengan amal sholeh yang dikerjakan pada bulan itu.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang diwajibkan berpuasa bagi umat muslim (QS 2 ayat 183). Juga merupakan bulan penuh keberkahan.Mengapa penuh keberkahan? Karena banyak hadist yang menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan dilipatgandakan ganjaran semua kebaikan, bulan diturunkannya Al Quran, bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, bulan ampunan semua dosa, dan yang paling keren adalah pada Ramadan terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu malam lailatul qodar.

Baca juga:

Bagaimana cara agar Ramadan tidak berlalu begitu saja?  Bagaimana cara supaya seorang Muslim dapat maksimal ibadah dan mendapatkan keberkahan di bulan Ramadan?  Ternyata sangat manjur apa yang diajarkan dalam pepatah Minang “baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” (artinya: belajar dari orang yang sudah menang dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain, baik itu keberhasilan maupun kegagalan).Baraja ka nan manang merupakan satu filosofi Minangkabau yang dapat diterapkan untuk meraih sesuatu yang sangat penting, misalnya dengan baraja dari kehidupan Buya Hamka. Buya Hamka pernah menunaikan ibadah puasa di Ramadan dan tetap terus menulis tafsir 30 juz Al Quran yang dikenal dengan tafsir Al-Azhar, dan itu dilakukan di dalam penjara, dalam keadaan tidak baik-baik saja, luar biasa.   Pelajarannya, selama Ramadan seorang muslim selain berpuasa, juga dapat memaksimalkan interaksi dengan Al-Quran, baik dengan membacanya, mempelajarinya, menelaahnya, dan menuliskan sesuatu yang dapat dibagikan pada orang lain.   Seorang muslim dapat juga baraja dari kehidupan tokoh alim ulama lainnya.

Menyusun Program Ramadan dan TargetMenyusun dan menuliskan program Ramadan merupakan langkah awal agar waktu di bulan Ramadan dapat dimanfaatkan secara maksimal.  Mulai dari program amalan wajib berupa sholat wajib 5 waktu, hingga semua sholat sunnah, seperti sholat rawatib 10 hingga 12 rakaat, sholat dhuha, sholat tahajud, sholat tarawih, sholat witir, sholat taubat, sholat hajat, sholat syuruq, dan sholat Mutlaq.  Program lainnya dapat juga ikut dituliskan seperti membaca Al Quran, berinfaq, sedekah, menyediakan waktu untuk menjalin shilaturahim dengan tetangga, dapat juga dengan memberikan makanan/masakan hari itu, atau menuliskan amalan yang bermanfaat secara umum, seperti menjadi konten creator atau youtuber tentang Bulan Ramadan, menulis artikel motivasi tentang kesabaran, keikhlasan dan lainnya.

Program Ramadan yang ditulis sangat dianjurkan disertai dengan target maksimal.  Ramadan adalah bulan dilipatgandakan pahala semua amal kebaikan.    Memperbanyak amal sholeh dan memperbaiki kualitasnya.   Meningkatkan kualitas sholat fardhu, misal sholat fardhu selama ini dilaksanakan tidak awal waktu, maka di bulan Ramadan berlatih dikerjakan di awal waktu, bahkan bersiap beberapa menit sebelum waktunya datang.  Jika sebelumnya sholat fardhu dilakukan sendirian, maka dapat diperbaiki dengan sholat berjamaah di masjid untuk laki-laki dan ditambah dengan sholat rawatib untuk menyempurnakannya.Menyusun dan menuliskan target amal ibadah dimaksudkan supaya ibadah semakin efektif dan efisien. Efektif dari segi waktu dan efisien dari segi pembiayaan.  Hal ini dapat dicontohkan pada pengalaman seorang ibu yang biasanya memasak makanan untuk berbuka di sore hari.  Sang ibu dapat menggeser sedikit waktu masaknya lebih awal, dan menambah sedikit bahan dari stok masak biasa.  Tujuannya agar makanan atau masakan tersebut lebih awal matang dan dapat diberikan pada tetangga atau pada anak-anak yatim sebelum waktu berbuka.  Menambah sedikit bahan pada masakan tidak akan menambah waktu dan biaya memasak ibu secara signifikan.  Dua program Ramadan dapat terlaksana dalam satu waktu.

 Efektivitas Waktu dalam Mencapai Target

Mengenal efektivitas waktu berarti mengenal efektivitas kerja.  Semua tidak mungkin dapat dilakukan secara instan, perlu latihan setiap hari, bahkan setiap waktu.   Mungkin ada masa gagal, ada masa berhasil, dan itu dapat terus dipelajari dengan cara mancontoh ka nan sudah.   Belajar dari pengalaman orang lain, mengurangi resiko kegagalan, dan meningkatkan resiko keberhasilan.  Dapat juga dengan mencoba hal baru bagi para ibu, seperti membaca Al Quran digital di telepon genggam sambil berjalan kaki di rumah selama 30 menit.  Program membaca Al-quran dan menjaga kebugaran tubuh dapat dilaksanakan dalam satu waktu.  Dapat juga mendengar kajian ilmu di spotify sambil membersihkan rumah atau berkendaraan.Banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan dalam 1 hari membuat seorang muslim harus menuliskan prioritas amal sholeh mana yang harus dikerjakan segera, dan mana yang dapat ditunda setelah Ramadan.  Prioritas sebaiknya disusun sebelum Ramadan tiba, penyusunan dapat berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. dengan sedikit koreksi dibagian-bagian yang mungkin terjadi kebocoran amal, misalnya prioritas mengkhatamkan bacaan Al Quran 3 kali (90 Juz), maka ada kerja lain yang digeser, ada cara cerdas membagi 90 juz dengan jumlah hari di bulan Ramadan, hingga detil waktu, begitu juga dengan hal yang lain.

Setelah menyusun program Ramadan berupa berbagai amal sholeh beserta target dan prioritas kerjanya, maka bismillah, laksanakan dengan sekuat daya upaya.  Jika setiap hari ada evaluasi program Ramadan, sehingga program dapat dilakukan dengan kualitas dan kuantitas ditingkatkan, maka insya Allah target Ramadan semakin banyak tercapai.   Setelah itu bertawakal pada Allah atas setiap hasilnya dan bersyukur atas semua karunia-Nya.  Banyak berdoa semoga Allah beri kekuatan dan kesehatan selama beribadah di bulan Ramadan, semoga dapat mencapai semua targetnya. Aamiin ya Allah.(*)

Editor : Eriandi
Bagikan

Berita Terkait
Terkini