HeadlineOpini

Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang

×

Menjelang Ramadan, Baraja Ka nan Manang

Sebarkan artikel ini

Dr. Nur Azizah, S.Pd., M.Si, (Anggota Forum Lingkar Pena Sumatera Barat)

Menjelang bulan Ramadan, udara terasa semakin panas dan kering di beberapa daerah, terutama daerah pesisir pantai. Berdasarkan laporan BMKG, prakiraan rata-rata suhu di kota Padang dan sekitarnya berkisar 31o C pada siang hari dengan kondisi berawan, dan semakin menurun hingga 25o C pada malam hari dengan kondisi cerah berawan.

Udara yang panas terik terasa seperti membakar, hal ini bersesuaian dengan arti kata Ramadan dalam Bahasa Arab yaitu ramida atau ar-ramad yang berarti panas yang menghanguskan atau kekeringan (wikipedia).

Walaupun demikian, bulan Ramadan tetap menjadi bulan yang sangat dinantikan oleh umat muslim sedunia.

Ramadan Bulan Keberkahan

Kata Ramadan menurut Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mengapa dinamakan bulan Ramadan karena ia mengugurkan (membakar) dosa-dosa dengan amal saleh.

Berarti Ramadan dapat berarti panas yang menghanguskana dalam arti panasnya udara, dapat juga berarti panas yang menghanguskan dosa-dosa dengan amal sholeh yang dikerjakan pada bulan itu.

Bulan Ramadan merupakan bulan yang diwajibkan berpuasa bagi umat muslim (QS 2 ayat 183). Juga merupakan bulan penuh keberkahan.

Mengapa penuh keberkahan? Karena banyak hadist yang menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan dilipatgandakan ganjaran semua kebaikan, bulan diturunkannya Al Quran, bulan dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka, bulan ampunan semua dosa, dan yang paling keren adalah pada Ramadan terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu malam lailatul qodar.

Bagaimana cara agar Ramadan tidak berlalu begitu saja?  Bagaimana cara supaya seorang Muslim dapat maksimal ibadah dan mendapatkan keberkahan di bulan Ramadan?  Ternyata sangat manjur apa yang diajarkan dalam pepatah Minang “baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” (artinya: belajar dari orang yang sudah menang dan mengambil hikmah dari pengalaman orang lain, baik itu keberhasilan maupun kegagalan).

Baraja ka nan manang merupakan satu filosofi Minangkabau yang dapat diterapkan untuk meraih sesuatu yang sangat penting, misalnya dengan baraja dari kehidupan Buya Hamka. Buya Hamka pernah menunaikan ibadah puasa di Ramadan dan tetap terus menulis tafsir 30 juz Al Quran yang dikenal dengan tafsir Al-Azhar, dan itu dilakukan di dalam penjara, dalam keadaan tidak baik-baik saja, luar biasa.   Pelajarannya, selama Ramadan seorang muslim selain berpuasa, juga dapat memaksimalkan interaksi dengan Al-Quran, baik dengan membacanya, mempelajarinya, menelaahnya, dan menuliskan sesuatu yang dapat dibagikan pada orang lain.   Seorang muslim dapat juga baraja dari kehidupan tokoh alim ulama lainnya.