Tak Berkategori  

Menristek : Belum Ada Bukti Mutasi Virus Corona Lebih Ganas 

Bio Farma segera memproduksi alat pendeteksi covid-19, berupa rapid test berbasis real time PCR yang dapat melakukan pemeriksaan SARS Cov2 atau covid-19. (foto: antara)

JAKARTA – Virus corona SARS-CoV-2 yang bermutasi menjadi D614G terdeteksi di sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Surabaya, Yogyakarta, Tangerang, Jakarta dan Bandung.

“Dari 24 whole genom sequencing atau WGS (urutan genom utuh) yang disampaikan oleh Indonesia, sembilan mengandung mutasi D614G, yaitu dua dari Surabaya, tiga dari Yogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung,” kata Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro dalam konferensi pers virtual yang diadakan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta, Rabu (2//2020), dikutip dari Antara.

Dikatakan Bambang, dari sembilan WGS yang dikumpulkan ke GISAID, lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus SARS-CoV-2, satu WGS terkategori dalam clade GR dan berasal dari Jakarta. Saat ini Indonesia sudah menyampaikan ke GISAID sekitar 34 sekuens dari genom virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Namun hanya 24 sekuens atau urutan genom utuh yang dilakukan analisis lebih lanjut oleh GISAID karena dinilai sudah memenuhi syarat sebagai WGS.

Tak Ganggu Pengembangan Vaksin

Meski demikian, menurut Bambang, mutasi D614G pada virus corona tipe SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 tersebut tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin untuk menangkal penyakit tersebut.  Pengaruh D614G pada intinya tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin karena mutasi tidak menyebabkan perubahan struktur maupun fungsi dari RBD, receptor-binding domain, yang merupakan bagian dari virus spike yang dijadikan target vaksin.

Bambang juga meminta masyarakat agar tidak panik berlebihan terkait informasi mengenai mutasi yang terjadi pada virus corona. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Mutasi virus, menurutnya, sama dengan virus SARS-Cov-2 saat ini yang tengah jadi pandemi di Indonesia.

“Jadi saya ulangi lagi, tidak ada, atau belum ada bukti yang menyatakan bahwa mutasi D614G ini lebih ganas atau lebih berbahaya,” kata Bambang. (lek/*)