Tak Berkategori  

Meraih Untung dengan Budidaya Bawang Merah Sistem Biji Botani

Oleh : Latifah Putri Syalina
Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Bawang merah merupakan komoditi pertanian yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat. Dilihat dari segi fungsinya bawang merah mempunyai peran dalam setiap cita rasa masakan, oleh karenanya bawang merah harus tetap tersedia di pasaranan agar tidak terjadi kelangkaan barang dan peningkatan harga.

Menurut sebagian besar petani bawang, yang menjadi penghambat rendahnya produktivitas bawang adalah mahalnya harga bibit umbi bawang merah, sehingga petani tidak memaksimalkan populasi budidaya di lahan yang telah tersedia. dengan demikian hasil yang diperoleh pun tidak optimal dan tidak mencukupi kebutuhan pasar akan bawang merah.

Arah pengembangan bawang merah di Indonesia yaitu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, memenuhi kebutuhan bahan baku industri, mengurang inpor bawang merah dan mengisi peluang pasar ekspor. Rata rata produktivitas bawang merah Indonesia tahun 2019 yaitu 9,93 ton/ha masih rendah dibandingkan dengan potensi hasilnya ( kementan 2020).

Penyebab rendahnya produktivitas bawang merah adalah banyak petani yang menggunakan benih yang tidak bermutu, akibatnya tanaman menjadi mudah terserang penyakit seperti penyakit, Virus OYDV (onion yellow dwarf virus), penyakit Virus SYSV (shallot yellow stripe virus) dan penyakit layu fusarium (fusarium oxysporum). Proses budidaya bawang merah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan petani adalah menggunakan umbi bibit.

Namun permasalahannya umbi yang digunakan untuk penanaman periode selanjutnya tidak mudah untuk diperoleh karena memerlukan waktu lama dalam proses pengeringan. Umbi bibit yang dapat digunakan sebagai bibit merupakan umbi benih yang berusia 75 HST dan harga yang harus dibayarkan juga tidak murah.

Pada umumnya bawang merah dikembangkan secara generatif menggunakan umbi, namun banyak resiko yang dihadapi oleh petani mulai dari harga umbi bibit yang mahal, kelangkaan benih sampai banyaknya hama dan penyakit yang menyerang karena penyakit tular bibit.

Sehingga apabila harga bawang merah turun maka keuntungan yang didapatkan petani akan sangat tipis, dan bahkan mengalami kerugian. Harga 1 kg bibit umbi mencapai Rp.30.000, dan ini bukan harga yang murah bagi petani bawang, apabila diasumsikan petani memiliki lahan dengan luas sebesar 1 Ha dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm maka akan memerlukan sebanyak 1,6 ton umbi bibit dan jika dikalikan maka harga yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp. 48.000.000.

Dengan demikian maka direkomendasikan untuk bertani bawang merah dengan sistem TSS (True Shallot of Seed). Teknik TSS merupakan budidaya menggunakan benih biji botani, artinya yaitu apabila sebelumnya budidaya bawang merah menggunakan umbi benih maka sekarang melalui biji dari bunga bawang merah dan dilakukan persemaian terlebih dahulu. Dibandingkan dengan benih umbi benih, biji botani ini lebih menguntungkan bahkan 3 kali lipat.

Untuk 1 Ha lahan kita membutuhkan 5 kg, dengan harga Rp. 3000.000 dan yang harus dikeluarkan adalah sebesar Rp 15.000.000. Selain itu daya simpan benih juga lebih lama yaitu mencapai 1 tahun dibandingkan umbi yang hanya 4 bulan. Dengan kata lain dari penyediaan Saprodi (Sarana Produksi) penggunaan benih dari biji botani sudah memperoleh untung sebesar 3 kali lipat.

Tanaman bawang merah dapat tumbuh di dataran rendah sampai tinggi (0 – 1000 m dpl). Ketinggian optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0 – 450 m dpl, tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi serta cuaca berkabut.

Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari maksimal (minimal 70% penyinaran) dengan suhu udara 25 – 32 0C dan kelembaban udara 50 – 70 %. Tanaman bawang merah butuh tanah berstruktur Remah, tekstur sedang sampai liat, dengan pH tanah netral (5,6 – 6,5). Di provinsi Sumatera Barat sentra produksi bawang merah terbanyak adalah daerah Alahan Panjang kabupaten Solok.

Kementerian pertanian ( Kementan ) mengembangkan teknologi Proliga dengan prinsip, penggunaan benih bermutu melalui benih asal TSS, peningkatan populasi tanaman per satuan luas menjadi 2-3 kali lipat. Pengelolaan hara berbasis analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman. Penerapan pengendalian hama terpadu (HPT). Penggunaan alat dan mesin pertanian untuk pengolahan tanah dan pengairan.

Teknologi proliga bawang merah yang diadopsi BPTP Sumbar dilatar belakangi oleh tidak tercukupinya produksi bawang merah pada bulan bulan tertentu. Yang mana pada bulan bulan tertentu bawang merah sulit ditemukan dipasaran sehingga menyebabkan Elastisitas permintan meningkat yang mana jumlah bawang merah sedikit, sedangkan permintaan banyak dan harga menjadi tinggi. Selain itu banyak kita temui bahwa para petani bawang merah melakukan budidaya di lahan sawah, sehingga ketika masuk musim hujan maka para petani bawang lebih memilih melakukan budidaya Padi karena ketersedian air yang cukup, dan apabila melakukan budidaya bawang merah menggunakan umbi bibit pada musim hujan akan mengalami gagal tumbuh, karena mengalami umbi busuk atau pun umbi tidak bermutu.

Kelebihan budidaya bawang merah dengan sistem biji botani, harga terjangkau kebutuhan yang tidak banyak. Harga yang diperlukan untuk 1 Ha lahan adalah bekisar Rp15.000.000 yang dapat dikatakan lebih murah dan terjangkau. Sedangkan kebutuhan benih untuk luas 1 Ha lahan adalah sebanyak 5 kg benih.

Penyimpanan lebih murah. Tidak diperlukan ruangan yang besar untuk untuk penyimpanan biji botani, dibandingkan umbi yang memerlukan ruangan khusus penyimpanan khusus. Dengan demikian menggunakan biji kita dapat menghemat biaya sewa atau biaya penyimpanan umbi.

Umur simpan benih lebih lama.Umur simpan benih lebih lama sehingga lebih fleksibel dan dapat ditanam saat dibutuhkan. Penyimpanan pada suhu dan kelembaban yang terjaga akan menjaga viabilitas benih dalam waktu lama. Penelitian Rao et al 2006 pada biji bawang Bombay menunjukkan penyimpanan dengan kantong aluminium dan penambahan silica gel pada suhu 25 oC dapat memelihara daya kecambah dan viabilitas biji lebih 1 tahun.

Murah dan mudah untuk di distribusikan. Dengan pengemasan yang baik, kerusakan selama proses distribusi akan sangat kecil.

Variasi mutu benih rendah dan produktivitas tinggi.Benih TSS yang baik berasal dari induk homozygous atau galur murni sehingga variasi sifat/mutunya rendah. Hal ini menyebabkan bentuk dan ukuran umbi yang dihasilkan relatif lebih beragam dan memiliki produktivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan umbi. Penggunaan TSS sebagai bahan tanam dapat meningkatkan produktivitas bawang merah dengan kisaran 24- 34 ton/ ha tergantung varietas yang digunakan.

Pada kondisi pandemic Covid-19 budidaya bawang merah menggunakan biji botani akan sangat menguntungkan, kerena pada saat ini perekonomian sedang tidak stabil dan harga yang dikeluarkan untuk membeli umbi bibit tidaklah sedikit, sehingga akan mengakibatkan kondisi ekonomi akan semakin mencekik. Dan solusi terbaiknya adalah menggunakan sistem biji botani.

Biji yang digunakan adalah biji bawang merah yang sebelumnya telah dilakukan pengeringan, produksi TSS akan lebih optimal dilakukan pada musim kemarau, sebab pada musim kemarau serangan penyakit berkurang. selain itu untuk menghindari musim hujan, karena bunga bawang merah tidak akan tahan terhadap air hujan dan akan busuk. Karena bunga bawang merah rentan terhadap hujan, agar tidak busuk area pertanaman harus diberi naungan.

Benih umbi dan benih biji memiliki perbedaan, diantaranya cara pembuatan pada sistem TSS atau cara pembuatan relatif lebih sulit dibandingkan benih umbi. Dimulai dari menunggu tanaman bawang berbunga sampai proses pengeringan biji, bunga bawang merah sensitif terhadap air maka pemeliharaannya harus intens. Sedangkan untuk umbi cukup mudah tanaman bawang merah yang telah dipanen dapat dijadikan bibit setelah proses pembenihan selama 1 atau 2 bulan.

Sifat benih. Benih asal biji lebih steril dibandingkan benih asal umbi dikarenakan pada benih biji risiko tertular penyakit cendawan, bakteri, nematoda, insektisida dan jarang terkontaminasi virus dan penyakit menular benih seperti Bebas cendawan, bakteri, nematoda, insektisida. Sebaliknya umbi benih akan sangat rentan tertular penyakit benih dari induk sebelumnya.

Umur benih. Benih asal biji botani lebih tahan lama dibandingkan benih asal umbi, benih biji dapat bertahan hingga 1 atau 2 tahun, sedangkan benih umbi mutunya berkurang setelah 4 bulan dan rusak setelah 6 bulan.
Kebutuhan benih dan harga benih. Benih biji yang dibutuhkan untuk 1 Ha lahan adalah sebanyak 5 kg sedangkan benih umbi adalah sebanyak 1,5 ton. Harga untuk benih biji yaitu mencapai Rp 3.000.000 / kg, sedangkan benih umbi sebesar Rp. 30.000.000 / kg.

Kesesuaian untuk budidaya. Benih biji dapat ditanam kapan saja dan mudah tersedia, sedangkan benih umbi memiliki waktu tanam yang singkat, apabila ditanam sedikit lebih lama maka umbi akan rusak dan keropos.
Kebutuhan tenaga kerja. Untuk benih biji kebutuhan tenaga kerja lebih banyak dibandingkan umbi, karena memerlukan tenaga kerja untuk persemaian dan penanaman berbeda dengan benih asal umbi hanya membutuhkan tenaga kerja penanaman.

Umur panen. Benih asal biji panen lebih lama 19 – 30 hari di banding dengan benih asal umbi. Apabila benih umbi dapat dipanen dalam 70 HST hari , maka benih biji dipanen 90 HST. Ini dikarenakan sebelum ditanam biji disemai dulu selama lebih kurang 20 hari.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa banyak keuntungan dari usaha budidaya sistem biji botani ini. Dan sangat diharapkan petani bawang beralih dari menggunakan umbi benih menjadi menggunakan benih biji botani. (*)