Tak Berkategori  

Minang dan Sejarah Andaikata

Khairul Jasmi (ist)

Khairul Jasmi

DARI kamar di lantai enam, Hotel Movenpick Amsterdam City saya memandang pelabuhan yang damai. Sebuah kapal pesiar sandar di sisi hotel. Pagi yang dingin, apalagi angin bertiup kencang.

Kanal di depan hotel berair jernih, di sisinya orang-orang Belanda berjaket tebal mengayuh sepeda dengan kencang. Kereta api lewat tiap sebentar entah kemana. Saya hendak menemui kawan, Dr Suryadi, dosen di Leiden.

Kenangan itu muncul lagi saat saya mencari inspirasi guna membuat tulisan ini, demi buku TOP 100.

Di Leiden banyak mahasiswa Indonesia, hilir mudik. Saya diajak Suryadi duduk di kafe di tepi kanal. Dia adalah urang awak yang dosen di sana.

Jika sudut padangnya Minang, maka Suryadi mewakili “rasa hebat” kita, walau kita belum hebat. Suryadi selain dosen selalu membantu berbagai daerah di Indonesia, juga negara-negara lain, yang butuh kisah masa lampau. Ia mewakili Indonesia.

Sebenarnya di dalam dan di luar negeri sejak dulu, Minang selalu mewakili selera Indonesia. Keheningan Minang dalam hiruk pikuk dan hiruknya di atas rumah dalam keheningan bangsa, merupakan sebuah perangkap dalam tubuh intelektual Minang. Jalan keluarnya biasanya ada dua. Pertama romantisme sejarah dan kedua, menafikan asumsi umum saat ini atas kondisi Minangkabau kontemporer. Lalu lahirlah analisa-analisa bahkan pembenaran atas Minang Hebat. Bisa jadi tulisan ini termasuk ketegori itu.

Sejarah Andaikata

Saya suka “sejarah andaikata,” yang jika begini maka akan begitulah sekarang. Jika saja jadi kereta gantung dari Ladang Padi ke Teluk Bayur dibuat Belanda doeloe, maka perkembangan Padang takkan begini. Jika saja Indonesia dijajah Inggris nasib kita sebagai bangsa takkan begini.

Jika saja begini: Pada 1955, pemuka Minangkabau rapat dan memutuskan, putera-puteri Minang mesti diajari nasionalisme. Disekolahkan ke tempat terbaik di Indonesia dan dunia. Kelak jika dia tamat, bekerjalah dan berkokoklah. Yanf miskin, biaya disokong bersama.

Jika saja begini: Tidak ada PRRI, yang ada sebuah kesepakatan baru yang dibuat pada 1970. Isinya: siapa saja yang sudah bekerja seusai kuliah, siapa saja yang sukses berdagang dimana saja, lakukan sesuatu yang membuat orang geleng kepala. Misalnya, jadi tokoh politik terbaik di zamannya.

Jika saja begini: Nak, kau mestilah bisa jadi orang hebat seperti Hatta Yamin Sjahrir dan lainnya. Kami orang tuamu akan menyokong. Apa yang kau perlukan.

Jika saja begini: ada lima rumah tangga terbaik di setiap nagari. Terbaik dalan adab, ilmu agama, ilmu umum dan visi kebangsaannya.

Sejarah andaikata adalah sebuah visi. Visi yang dibangun di tiap rumah tangga. Biasanya, visi rumah tangga itu dalam satu komunal suku bangsa jika takkan persis sama akan ada ruh kesamaannya. Minimal saling sokong.

Saya masih menikmati secangkir kopi di pinggir kanal di Leiden. Sudah lama sebenarnya, 2016, tapi saya selalu ingat. Suryadi dari Sunua, Padang Pariaman, hinggap di sana, bagi saya adalah sesuatu yang menakjubkan, sebab saya hanya lulusan IKIP/ UNP.

Fokus

Minangkabau kontemporer, tidak bisa menangkap selera konsumen, yaitu keinginan Indonesia: Minang mesti melahirkan tokoh hebat, lagi.

Yang dilakukan adalah menampilkan dialektika di dalam rumah sendiri. Berdebat bahkan bertengkar. Dialektika itu berputar-putar di saja saja. Melaju kencang ke depan, balik lagi ke awal-awal kemerdekaan.

Sejarah itu adalah hutang Indonesia pada Minang, sama denganĀ  bahasa ke Riau dan hutang janji ke Aceh. Lalu kita ramai-ramai menyalahkan sistem politik Indonesia yang dinilai tidak sesuai dengan selera Minang. Padahal di rumah sendiri dipakai sistem itu untuk memilih pemimpin, yang setelah dipilih mereka berkelahi satu sama lain.

Kita belum fokus pada selera konsumen, tapi juga tidak membuat produk berkualitas. Tamatan lembaga pendidikan mayoritas ingin jadi pegawai negeri atau bank, sebagaimana kehendak orang tuanya. Lama sudah kita tak sadar, kepala anak diganti kepala orang tua. Kata Prof Rhenald Kasali, burung dara disuruh terbang, tapi sayapnya dijahit.

Maunya mambangkik batang tarandam, tapi perkakas intelektual untuk itu tidak ada. Orientasi utama adalah keluarga inti, paling inti lagi, salery harus bagus.

Manajemen risiko

Andaikata Minang secara kompak menerapkan manajemen risiko maka, merantau melarikan nasib akan berkurang. Penganguran akan kurang, orang miskin pasti sedikit.

Tak akan ada gunanya menulis: pendidikan kita rata-rata kelas II SMP, anak-anak banyak yang tak bisa mengaji. Yang banyak penderita AIDS dan LGBT. Ekonomi tidak tumbuh. Ini semua adalah buah dari pohon yang kota tanam dengan pupuk yang salah.

Manajemen risiko, mengelola risiko jadi peluang. Itu paling buruk. Sedapatnya jangan ada risiko. Jangan jadi ring piston, istilah Musfi Yendra untuk menyindir orang-orang di ring kekuasaan. Mereka cenderung lupa manajemen risiko.

Tugas Semua

Kalau soal pidato, nomor satu, nomor dua dia juga. Jika sudah mau diaplikasikan: dana kita kurang, APBD kecil. Itu jika sudah menyangkut, membantu rakyat. Untuk pendidikan misalnya, luar biasa susahnya minta bantu ke pemerintah. Jikapun dapat, dana BAZ yang diberikan.

Tugas pemerintah dan kita semua membangun Minangkabau di luar bingkai apbd apbd itu. Celakanya visi membangun masa depan tersebut sering kandas karena sesering diniatkan, seacap itu pula lupa.

Lalu juga tugas bersama membangun adat dan budaya. Yang sebenarnya tak sulit-sulit amat, tapi dipersulit. Jangan heran anak-anak sekarang banyak yang tak mengerti soal Minangkabau karena terus-menerus dibiarkan mereka tanpa asupan budaya lokal.

Akan ada hari pertama dan semoga Minangkabau terbangun dan keluar dari kandang, sebab di luar, ternyata dunia alangkah luasnya.

Betapa panjangnya waktu berlalu untuk menunggu sebuah momen. Minangkabau sedang sakit rupanya.

Leiden telah jauh, kami titipkan Suryadi di sana. Dan pada tahun yang berbeda saya telah berada di negara tetangga. Saya sedang di sebuah teluk. Kapal pesiar Paradise Cruises, gagah dan mewah sedang menusuk laut dengan lembut. Laut itu sendiri setenang kolam renang. Inilah Teluk Ha Long Bay di Vietnam, satu dari tujuh keajaiban dunia. Saya di sini. Tak ada masakan padang di Hanoi. Tapi, ada orang Padang. Wisata Vietnam maju dan pertanyaannya: apakah Sumbar sudah maju? Bukan pertanyaan saya, tapi bunyi sebuah baliho calon kandidat gubernurĀ di waktu yang belum jauh ke belakang.