Tak Berkategori  

Minyak Sawit Berkelanjutan untuk Semua

Petani sawit Sungai Aur, Pasaman Barat memindahkan TBS sawit ke truk.

Persoalan legalitas lahan, biaya perawatan mahal,  rendahnya harga TBS, hingga minimnya pendampingan petani dalam praktik budidaya berkelanjutan, masih mewarnai perjalanan dunia persawitan di tanah air. Padahal, bertutur soal minyak sawit berkelanjutan, sudah harus menjadi paradigma bersama. Tentang betapa besarnya kebutuhan minyak makanan dan non makanan produk yang satu ini bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Gusnaldi Saman (Wartawan hariansinggalang.co.id)

Sesaat, rehat sejenak, mengusir lelah. Duduk santai di bawah rerimbunan pohon sawit, sambil menikmati embusan angin dalam sepotong siang yang cerah. Mengeringkan peluh.

Namun, tak lama, Ilham, 48, bersama beberapa orang rekannya kembali mengambil buah sawit. Matanya tak lepas memandang setiap tandan buah sawit, terutama melihat tandan mana saja yang sudah bisa dipanen.

Mereka bekerja setiap hari. Tak pernah lelah dipanggang matahari. Dibasuh rintik hujan. Sebagai petani penggarap di sebuah lahan sawit yang terdapat di Sungai Aur, Pasaman Barat, Sumatera Barat, Ilham dan ratusan bahkan ribuan petani serupa di daerah setempat, sangat menggantungkan hidup dari komoditi ini.

Saat ditanya, Ilham mengaku, tak begitu tahu apa itu sawit berkelanjutan atau minyak sawit berkelanjutan, yang sejak beberapa tahun terakhir digaungkan pemerintah, swasta dan pihak berkompeten lainnya. Yang mereka harapkan jutru bagaimana dengan sawit hidup mereka tetap “berlanjut”. Itu saja.

“Entahlah, Pak! Kami hanya petani kecil. Petani penerima upah. Orang biasa. Bekerja di kebun sawit orang. Bagi saya, bisa makan dan menyekolahkan anak-anak, sudah cukup,” ujar Ilham.

Ayah tiga anak ini, yang sudah enam tahun bekerja di ladang sawit itu, tak pernah berharap yang muluk-muluk. Dia dan sejumlah petani lain, hanya minta agar harga sawit tetap stabil, tidak dimainkan spekulan, sehingga upah atau bagi hasil yang mereka terima, pun stabil.

Sementara, jika kalau ada pelatihan atau edukasi seputar minyak sawit berkelanjutan, kontan mereka pun sangat welcome, sehingga kegiatan bertani mereka lancar dan anak-anak mereka juga tetap punya masa depan.

“Ini yang masih kurang. Kami minim sekali mendapat pelatihan atau semacam pencerahan, baik dari pemerintah, pihak perusahaan atau pihak terkait lainnya. Kami juga ingin bertahan dan ingin maju dengan perkebunan sawit ini,” sambar dua petani sawit, Hijjul Abdi dan Rozi, pemilik lahan sawit rakyat di Sungai Aur dan Air Bangis, kepada hariansinggalang.co.id, Rabu (11/03/2020).

Hijjul Abdi, salah seorang pemilik lahan sawit Sungai Aur, Pasbar.

Keduanya mendukung program minyak sawit berkelanjutan. Tapi, katanya, jangan hanya terkesan di hilirisasinya saja dan bicara produk sawit dan turunannya. Soalnya, bukankah semuanya berawal dari lahan dan peluh petani di tingkat bawah, sehingga sawit itu tumbuh dan berbuah sebelum diproduksi menjadi berbagai komoditi unggulan?

“Percuma bicara minyak sawit berkelanjutan tanpa bicara tetes peluh keringat petani,” tegas Hijjul.

Makanya, dari kacamata petani, dia berharap agar program tersebut lebih dioptimalkan di tingkat bawah. Sering-seringlah berdiskusi dengan petani, baik petani penggarap maupun pemilik lahan. Soalnya, luas kebun rakyat juga cukup signifikan sebagai penopang kebun inti milik perusahaan besar. Katanya, mulai saja dari hal-hal sederhana, dari edukasi seputar bibit, cara pengolahan, pemupukan hingga cara bertani yang ramah lingkungan.

Satu lagi, yang tak kalah penting, mengajak berdiskusi dengan pemangku kepentingan di tingkat nagari (baca; desa) dan komunitas hingga lembaga peduli lingkungan. Bila semuanya sudah dilibatkan dan mendapatkan pencerahan, jelas akan bisa meminimalisir imej yang selama ini berkembang bahwa sawit bisa merusak lahan. Sawit merampas masa depan anak cucu dan sebagainya.

Ya, sore mulai rebah di Sungai Aur. Sawit yang sudah dipetik itu, pun dikumpulkan ke atas becak motor, sebelum dimuat ke truk yang sudah menunggu di pinggir jalan. Truk itu kemudian melaju ke salah satu perusahaan pengolah sawit PT Agrowiratama, sekitar 5 Km dari perkebunan tersebut. Dan, ada juga yang diantar ke perusahaan lain.

Begitulah setiap hari, rutinitas itu selalu terjadi. Denyut masyarakat yang menggantungkan asa dari sawit.

Konsumen Minyak Sawit

Di tempat berbeda, denyut kehidupan lain pun terasa. Seorang ibu muda tengah melihat-lihat minyak goreng di salah satu gerai swalayan yang terletak di Jl. Khatib Sulaiman, Padang. Tak lama, dia menjatuhkan pilihan kepada salah satu merk yang di kemasannya tertulis ‘minyak goreng sawit’.

Saat disapa, kenapa membeli produk tersebut, sepintas dia pun memberikan penjelasan. “Tidak mudah gosong. Tidak berbau dan kayaknya lebih hemat saat penggorengan,” sebut seorang ibu rumah tangga yang mengaku bernama Vivit, 41, kepada hariansinggalang.co.id, Kamis (12/03/2020).

Katanya, minyak sawit juga kaya dengan berbagai vitamin. Dia juga mengetahui kalau minyak sawit itu juga ada pada berbagai jenis produk lain seperti kosmetik, sabun, cokelat, mentega hingga untuk bahan bakar. “Ya rajin-rajin saja membaca berbagai literasi di internet. Jadi sedikit tahu juga tentang minyak sawit,” bebernya.

Disinggung soal minyak sawit berkelanjutan, diakuinya tak begitu paham. “Dengar ada sih, itu tuh label RSPO produsen sawit gitu. Tapi nggak begitu mengerti juga,” terang Vivit.

Ya, seorang Vivit, sebenarnya, telah berupaya menjadi konsumen cerdas. Tapi, jutaan masyarakat lainnya pun tentu perlu edukasi, bagaimana memilih produk yang baik. Termasuk produk minyak sawit tentunya.

Petani usai memanen TBS sawit.

Riak tak Henti

Bicara minyak sawit berkelanjutan, kontan sudah harus meminimalisir berbagai masalah di tingkat bawah. Salah satunya, soal lahan sawit yang selalu menjadi buah bibir. Akan halnya terkait lahan plasma dan inti.

Awal 2020 ini, misalnya, pucuk adat Nagari Aia Gadang, Pasbar, Sawalman Sutan Lauik Api, bersama para ninik mamak dan cucu kemanakan mereka, melayangkan  tuntutan hak plasma mereka ke PT. AK. Ironisnya, menurut mereka, sudah 23 tahun perusahaan sawit (inti) tersebut beroperasi, tapi tak kunjung memberikan hak-hak masyarakat berupa plasma,  sebagaimana yang dilakukan perkebunan  kelapa sawit di daerah setempat.

“Kita tengah berusaha memperjuangkan hak-hak masyarakat melalui pengadilan. Mudah-mudahan apa yang menjadi hak kita kembali untuk kita,” kata Sawalman, seperti diwartakan Singgalang, baru-baru ini.

Dikatakannya, perjanjian tanah ulayat Nagari Aia Gadang,  diserahkan ninik mamak (pemangku adat) sekitar tahun 1990-an, seluas 4.740 hektare. Setidaknya, sepuluh persen harusnya lahan plasma untuk masyarakat. Namun, sampai saat sekarang hanya sebatas di atas kertas saja.

Selain lahan, soal masih tidak stabilnya harga tandan buah segar (TBS) sawit, pun sering dikeluhkan. Akan halnya pertengan 2019 lalu, petani sawit di berbagai daerah terpekik dengan rendahnya harga TBS.

Petani sawit Dharmasraya, misalnya, mereka sangat mengeluhkan rendahnya harga yang berada di titik Rp1.010/Kg. Padahal normalnya waktu itu Rp1.500/Kg.

“Benar-benar situasi tidak menguntungkan,” ungkap petani asal Kecamatan Koto Baru, Jamil (53).

Menurut dia, rendahnya harga jual TBS tidak berbanding lurus dengan biaya produksi. Seperti upah panen dan biaya pupuk yang dikeluarkan.

Lebih risau lagi, di daerah sawit lain seperti Pasbar, dimana diprediksi warganya bisa ramai-ramai jatuh miskin. Betapa tidak, sekitar 70 persen sumber kehidupan rakyat daerah ini bergantung kepada sawit.

TBS sempat menyentuh angka paling rendah yakni Rp600 Kg. Ibarat berdagang, jangankan untung, pulang pokok saja tidak. Begitulah derita petani sawit waktu itu.

Salah seorang petani sawit, Andi, memberikan hitung-hitungan,  dia memiliki kebun sawit 2 Ha. Sekali panen menghasilkan 3 ton TBS. Dijual, menerimalah Rp1,8 juta. Dalam satu bulan dua kali panen, sehingga total hasil penen sawitnya Rp3,6 juta.

Sementara pengeluarannya, untuk satu kali panen, dimana upah panen Rp300 ribu/ton. Alhasil, Andi mengeluarkan uang Rp900 ribu untuk upah panen. Satu bulan dua kali panen, mengeluarkan uang Rp1,8 juta.

Kemudian pupuk sawit. Katanya, pemupukan dilakukan satu kali tiga bulan. Total dana yang dikeluarkan Rp7,2 juta. Jika dibagi 3 maka menjadi Rp2,4 juta. Ditaksir, sebesar inilah pengeluaran untuk pupuk satu bulan, sehingga total pengeluaran perbulan sawitnya yang 2 Ha sebanyak Rp4,2 juta. Sementara hasil panen hanya Rp3,6 juta.

“Keberpihakan harga dari pemerintah kepada petani sawit tidak ada. Ini namanya, membunuh rakyat secara perlahan. Mana ada hasilnya lagi, kita bahkan menombok untuk biaya panen dan pupuk,” katanya, sedikit emosi.

Begitu kira-kira emosi petani jika harga TBS tak stabil. Ini baru testimosi kecil soal sawit yang sering menjadi keluhan. Sementara persoalan lain juga masih menumpuk. Belum lagi soal imej sawit merusak kesuburan tanah, deforestasi dan persoalan lingkungan lainnya, yang bisa menghambat laju program minyak sawit berkelanjutan.

Program Berkelanjutan

Peranan sektor sawit sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), seperti diwartakan katadata.co.id, mencatat, produksi minyak kelapa sawit sepanjang 2019 mencapai 51,8 juta ton. Meningkat 9% dibanding 2018 yang hanya 47,3 juta ton.  Sementara ekspor minyak sawit Indonesia terdiri (CPO dan turunannya) sepanjang 2019 mencapai 36,17 juta ton. Angka tersebut tumbuh 4,2% dari capaian 2018 yang hanya 34,70 juta ton. Lalu, nilai industri sawit tahun lalu menyumbang devisa sebesar US$ 19 miliar. Sementara, konsumsi minyak sawit domestik pada 2019  mencapai 12,75 juta ton atau sekitar 17% dari total konsumsi dunia yang mencapai 74,48 juta ton.

Hari ini, kita dihadapkan pula hantaman virus corona, yang bisa menggerus turunnya harga crude palm oil (CPO). Padahal, bisnis minyak nabati termasuk CPO dan turunannya, kerap menjadi indikator bagi kesejahteraan masyarakat yang mengonsumsinya. Jika kesejahteraan meningkat, maka konsumsi minyak nabati juga akan bertambah.

Betapa tidak, produsen minyak sawit mentah CPO PT Astra Agro Lestari Tbk., misalnya, menyebutkan harga jual CPO masih akan tertekan mengingat tingkat permintaan dari China masih akan rendah. Hal ini jelas karena penyebaran virus corona.

Direktur Utama Astra Agro Lestari, Santosa, seperti diwartakan CNBC Indonesia, Selasa (11/2/2020), mengatakan, China merupakan pasar kedua terbesar untuk CPO, setelah India. Yang jelas, heboh virus corona memang sangat berdampak pada ekspor CPO.

Senada, Sekjen Gapki Kanya Lakshmi Sidarta, mengatakan, jika dalam tiga bulan virus corona tidak tertangani maka akan berdampak serius terhadap industri sawit Indonesia.

Corona memang sebuah fenomena. Semua kena dampak, termasuk sektor sawit. Namun, apapun alasannya, kita tak boleh terhenti di titik itu. Dunia persawitan Indonesia harus tetap tumbuh, karena jutaan rakyat bergantung pada sektor ini.

Lalu, bicara soal sawit berkelanjutan, tak terlepas dari munculnya Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), sebagai sertifikasi berkelanjutan yang wajib dilakukan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Indonesia. ISPO harus diterapkan semua operator perkebunan kelapa sawit, termasuk bagi petaninya sendiri.

Lalu diperkuat dengan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang merupakan sertifikasi bersifat sukarela, yang dikembangkan para pelaku dunia usaha, untuk membuktikan produksi minyak sawit mampu berkelanjutan di dunia. Tak hanya mengembangkan bisnis minyak sawit semata, namun keberadaan industri minyak sawit, menjadi bagian pula dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Betapa tidak, dikutip dari literatur terkait, RSPO adalah badan sertifikasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari semua sektor industri kelapa sawit (termasuk produsen, pengolah dan pedagang minyak sawit, pengecer dan organisasi lingkungan). Hal ini untuk mengembangkan, memproduksi, dan menggunakan minyak sawit, dengan meminimalisir terjadinya dampak negatif pada lingkungan dan masyarakat.

Setiap produsen kelapa sawit yang telah tersertifikasi RSPO, harus punya komitmen terhadap transparansi, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Berkomitmen untuk kelangsungan ekonomi dan keuangan jangka panjang. Lalu, penggunaan praktik terbaik yang sesuai oleh petani dan pabrik, adanya tanggung jawab lingkungan dan konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Pertimbangan yang bertanggung jawab atas karyawan, dan individu serta masyarakat yang dipengaruhi oleh petani dan pabrik. Yang tak kalah penting, bertanggung jawab atas pengembangan dan penanaman baru dan komitmen untuk terus meningkatkan segala kegiatan di area tersebut.

Untuk Semua

Nah, jelaslah betapa program minyak sawit berkelanjutan tersebut, sangatlah komprehensif untuk semua lini, yang tidak hanya kepentingan pemerintah, pabrik, atau pelaku usaha di hilirisasinya saja, tapi juga menyentuh kepentingan petani dan masyarakat konsumen secara luas. Inilah yang perlu diinapmenungkan, betapa program rancak ini sangat mulia. Untuk itu, menurut saya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

Pertama, sosialisasi tiada henti. Perlu pemahaman dan edukasi kepada pemangku kepentingan di tingkat bawah, bahwa sektor sawit dibutuhkan semua orang. Dengan program minyak sawit berkelanjutan ini, jelas tidak ada niat jahat pemerintah atau level pengusaha yang bergerak di sektor tersebut. Artinya, sosialisasi minyak sawit berkelanjutan ini, tak boleh hanya terhenti di tingkat pengusaha saja, tapi juga harus sampai ke telinga petani, pemilik lahan, tokoh adat, pemerhati lingkungan, dan elemen terkait lainnya. Sering-seringlah berdiskusi dengan mereka.

Kedua, bermitra dengan petani. Dalam hal ini, pelaku usaha besar harus benar-benar menunjukkan niat baiknya. Pelaku usaha yang sudah menyandang RSPO, harus menerapkan praktik berkelanjutan, seperti pentingnya perlindungan lingkungan. Misalnya, dalam membuka lahan, tidak boleh melakukan penanaman di lahan gambut atau membuka lahan dengan cara membakar.

Perusahaan besar harus membantu petani atau kelompok tani (kebun rakyat). Apakah dalam hal mendapatkan sertifikasi berkelanjutan, atau dalam tahap meningkatkan hasil panen, dengan mengadopsi metode modern yang ramah lingkungan. Cara ini jelas memungkinkan perusahaan besar mendapatkan pasokan kelapa sawit yang lebih banyak, tanpa harus membuka lahan baru.

Ketiga, peduli lingkungan dan sosial. Sekali lagi, sawit kerapkali dihubung-hubungkan dengan deforestasi. Merusak hutan dan fauna. Dengan program berkelanjutan ini, seyogyanya isu miring itu bisa ditepis. Bagi perusahaan besar, CSR yang dimiliki benar-benar dimanfaatkan dengan baik.

Keempat, gerakan konsumen cerdas. Ini yang tak boleh tinggal, yakni bagaimana selalu mengedukasi masyarakat konsumen untuk kian memanfaatkan berbagai produk minyak sawit. Gerakan ini bisa saja dilakukan sejak bangku sekolah atau masuk ke kelompok-kelompok masyarakat seperti melalui gerakan PKK, komunitas-komnitas tertentu hingga gelar aksi di mall atau tempat-tempat tertentu lainnya. Gandeng lembaga konsumen, dan sebarkan nilai-nilai dan kebermanfaatan minyak sawit bagi kesehatan.

Nah, saatnya mengkonsumsi minyak sawit sebagai gaya hidup. Betapa tidak, karena program minyak sawit berkelanjutan itu tidak untuk kepentingan perusahaan besar belaka, tapi untuk semua. Semoga. (*)