Mister “M” sang Palu Godam

Oleh: Ruslan Ismail Mage/Direktur Eksekutif Sipil Institut Jakarta

Seminggu sebelum deklarasi pasangan Capres-Cawapres, publik sudah disuguhkan teka-teki siapakah inisial huruf M yang akan mendampingi Sang Patahana Jokowi menuju Pilpres 2019. Hari berganti jam menuju menit, hingga semakin dekat batas akhir penentuan pasangan Capres-Cawapres, namun teka-teki siapakah huruf M itu belum juga terpecahkan.

Publik pun dibiarkan berspekulasi bahwa ada dua pemilik nama huruf awalnya M yang paling berpeluang mendampingi Sang Patahana, yaitu Mahfud MD dan Ma’ruf Amin. Namun dari kedua nama itu, yang paling banyak mendapat respon positif dari publik adalah Mahfud MD, seiring dengan seluruh persyaratan administratif penentuan Cawapres sampai ukur baju yang akan dipakai saat deklarasi pasangan sudah dilakukan oleh Mahfud MD.

Namun di detik-detik terakhir Kamis (9/8) sehari sebelum batas akhir pendaftaran pasangan Capres-Cawapres di KPU, tiba-tiba ada badai angin kepentingan politik bertiup begitu deras menerbangkan nama Mahfud MD dari daftar Cawapres Patahana, yang tersisa kemudian hanya baju putihnya di Istana. Tragis memang, tetapi itulah politik! Semua serba kemungkinan dan pasti membutuhkan korban.

Sesaat kemudian teka-teki siapakah sebenarnya Mister M terjawab sudah. Mister M ternyata bukan Mahfud MD yang sudah hampir bisa dipastikan, tetapi Ma’ruf Amin. Lalu apakah Mahfud MD menjadi korban politik? Berdasarkan fakta politik yang mengikuti proses penentuan Cawapres, tidak ada yang bisa membantah kalau Mahfud MD adalah korban dari konspirasi politik beberapa elite kelompok kepentingan tertentu. Namun secara kebangsaan Mahfud MD adalah seorang negarawan yang lebih memetingkan persatuan dan kesatuan bangsanya dengan tidak melakukan reaksi negatif atas penyingkiran dirinya, sebagaimana pengakuannya di acara ILC TVone Selasa (14/8).

Pengakuan Mahfud MD di acara ILC secara gamblang dan sistematis perihal apa yang dialaminya sampai disingkirkan dari arena penentuan Cawapres, mengingatkanku kepada Bung Karno yang suatu waktu mengatakan “jika engkau ingin membangunkan rakyat, hantamkan ‘Palu Godam’ di mejamu”.

Ya betapa tidak! Pengakuan Mahfud MD (Sejatinya Menjadi Mister M) itu laksana menghantam ‘Palu Godam’ pada dinding jiwa anak-anak bangsa. Membangunkan dan menyadarkan kita betapa kepentingan politik kelompok-kelompok tertentu lebih dominan dalam proses menentukan siapa pemimpin bangsa ini. Padahal sejatinya satu-satunya kepentingan yang harus diperjuangkan adalah kepentingan rakyat!

Kalau sepakat Mahfud MD adalah korban konspirasi beberapa elite politik yang berpikir pragmatis, maka tidak menutup kemungkinan ‘hantaman palu godamnya’ di meja ILC akan melahirkan banyak pecundang politik pada Pemilu 2019. Kita tunggu. (*)

 

Loading...