Tak Berkategori  

Model Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Sumbar

 

Oleh : Syukra  Alhamda

Limbah medis adalah sebuah kata yang kerap kali ditemui di tengah warga atau masyarakat, baik tua atau muda, mahasiswa atau karyawan. Limbah medis adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan medis dalam bentuk padat, cair, dan gas. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dihimpun dari 34 provinsi di Indonesia, Oktober 2020 tercatat sebanyak 11.662,75 ton limbah medis padat. Limbah medis padat yang dihasilkan termasuk dalam kategori limbah B3. Limbah jenis ini merupakan limbah yang dapat menimbulkan dampak berbahaya bagi manusia maupun lingkungan. Limbah medis padat merupakan satu tantangan terbesar sehari-hari yang dihadapi oleh penyedia layanan kesehatan. Pengelolaan limbah medis padat  di Indonesia hingga kini dinilai masih belum optimal.

Pengelolaan limbah medis dari fasilitas kesehatan masih menyimpan banyak persoalan. Direktur Kesehatan Lingkungan Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr.Imran Agus Nurali,Sp.KO., menyebutkan masih adanya limbah medis padat yang belum dikelola jumlahnya masih sangat besar. Volume limbah medis padat yang berasal dari 2.820 rumah sakit dan 9.884 puskesmas di Indonesia mencapai  290-an ton per hari. Ditambahkan juga hingga saat ini baru ada 10 jasa pengelolaan limbah medis padat berizin di Indonesia dengan kapasitas pengelolaan limbah 170-an ton per hari. Sementara itu, baru ada 87 rumah sakit yang memiliki alat incinerator untuk mengolah limbah medisnya sendiri dengan kapasitas 60-an ton per hari. Jika ditotal kapasitas pengelolaan limbah medisnya 220 ton per hari, sedangkan limbah yang dihasilkan secara nasional 290 ton per hari.  Jadi, masih ada gap timbunan 74 ton limbah medis per hari yang belum dikelola. Keterbatasan jasa pengelolaan limbah ini menjadi salah satu penyebab banyaknya limbah medis padat yang tidak terkelola dengan baik. Selain itu, Kemenkes juga mendorong pemilahan dan penyimpanan limbah medis padat untuk mengurangi kapasitas limbah yang masuk ke incinerator. Tak hanya itu, rumah sakit juga diharapkan dapat menggunakan teknologi pengelolaan limbah medis padat  tanpa incinerator, misalnya menggunakan  microwave yang dapat mengurangi volume limbah medis di pihak ke-3. Sekjen Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) Pusat, Dr. dr. Lia Gardenia Partakusuma, Sp.PK(K), MM., MARS., FAMM., mengatakan pengelolaan limbah medis padat perlu dilakukan agar tidak membawa dampak negatif bagi

lingkungan dan masyarakat. Salah satunya rumah sakit melakukan pengelolaan limbah sendiri dengan incinerator. “Langkah lain bagi rumah sakit yang tidak bisa mengelola limbahnya sendiri bisa kerjasama dengan pihak ke-3 yang sudah  berizin,” tuturnya. Lia menyampaikan kerja sama dapat dilakukan dengan transporter atau pihak pengangkut dan pengolah limbah. Hingga saat ini terdapat 100 transporter berizin dan 10 pengelola limbah medis berizin. “Untuk pengelola limbah medis memang masih sedikit, hanya terdapat 10 buah se-Indonesia dan ini masih banyak di Pulau Jawa,” terangnya. Lia menegaskan pengelolaan limbah medis padat  ini penting dilakukan sebab jika tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif baik bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat. Salah satunya dalam jangka panjang bisa menimbulkan penyakit kanker.

Penelitian disertasi ini dilakukan untuk menemukan sebuah Model Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit se-Sumatera Barat. Novelty adalah unsur kebaruan atau temuan dari sebuah penelitian. Penelitian dikatakan baik jika menemukan unsur temuan baru sehingga memiliki kontribusi baik bagi keilmuan maupun bagi kehidupan. Adapun novelty atau luaran dari penelitian ini adalah model dan modul pengelolaan limbah medis padat rumah sakit Sumatera Barat. Penggunaan kuesioner, deep-interview dan panduan observasi  juga sudah melewati tahapan dari validator ahli dengan bidang ilmu lingkungan dan tata bahasa Indonesia,

Kondisi Sumatera Barat saat ini terdapat 1.899,15 ton limbah medis padat termasuk Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berasal dari 2.839 fasilitas kesehatan di Sumatera Barat per tahunnya, dan pihak rumah sakit ataupun fasilitas kesehatan lainnya tidak boleh membuang limbah medis sembarangan, sehingga dibutuhkan biaya cukup besar untuk dikirim ke Jawa dengan biaya angkut senilai Rp20 ribu hingga 40 ribu per kilogram. Kapasitas pengolahan limbah medis yang dilakukan oleh semua pihak swasta dan semua rumah sakit dengan insinerator berizin masih belum sebanding dengan limbah yang dihasilkan oleh fasyankes. Hal ini membuat masih banyak timbunan limbah medis yang tidak terolah sesuai standarnya. Sehingga menimbulkan kerusakan alam dan lingkungan yang merupakan akibat dari perbuatan umat manusia.

Posisi ataupun tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi yaitu untuk memanfaatkan, mengatur, menjaga, dan mengelola supaya unsur-unsur bumi tersebut tetap lestari dan tidak rusak. Rumah sakit adalah sarana publik yang sangat penting, dan berfungsi sebagai tempat pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan pemulihan kesehatan. Lingkungan dan sanitasi yang baik, bersih dan sehat tentu dibutuhkan agar berbagai fungsi rumah sakit tersebut tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya. Tantangannya, setiap kegiatan dengan fungsi yang berbeda yang terjadi di setiap bagian di rumah sakit tersebut ternyata juga menghasilkan limbah. Namun secara garis besar, dapat dibagi menjadi limbah berbentuk padat, cair dan gas. Salah satu faktor yg dapat merusak citra sekaligus menghambat pelaksanaan tugas dan fungsi sebuah rumah sakit adalah belum terlaksananya pengelolaan limbah medis baik padat dan cair dan non-medis secara baik dan benar berdasarkan  peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Masih buruknya pengelolaan limbah ini terlihat mulai dari kurangnya upaya pencegahan atau setidaknya pengurangan jumlah limbah, ketiadaan sistem pemilahan, pewadahan, pengangkutan, penyimpanan sementara, penempatan atau pengumpulan limbah yang tidak sesuai aturan, serta masih tidak konsistennya sistem pengolahan/pemrosesan akhir limbah dan pembuangannya.

Temuan Model Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Sumatera Barat menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan instrumen kuesioner, panduan deep-interview, dan panduan observasi untuk pengumpulan data. produk divalidasi oleh pakar/ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4 variabel independen yang mempengaruhi pengolahan limbah medis padat, penyimpanan merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi pengolahan limbah. Model yang dihasilkan dari penelitian ini adalah sebuah realitas di lapangan dan telah dituangkan dalam dua buah buku, yaitu “Buku Model

Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Sumatera Barat Berdasarkan Analisis SEM”, dan “Buku Modul Pengelolaan Limbah Medis Padat Rumah Sakit Sumatera Barat”.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa proses pengolahan memiliki nilai varian setiap variabel sebesar 66,5%, artiya adalah bahwa dari proses pemilahan, pengangkutan, dan penyimpanan sementara memiliki varian tiap variabelnya sebesar 66,5%,  dan terdapat nilai 33,5% lainnya yang artinya terdapat faktor lain yang mempengaruhinya, dan setelah diteliti berdasarkan wawancara mendalam dan berlandaskan teori serta faktor lain yang mempengaruhi adalah kurangnya pelatihan bagi tenaga cleaning service dalam pengelolaan limbah, kurangnya pengetahuan, dan rendahnya tingkat pendidikan tenaga cleaning service. Sesuai dengan penelitian pada 12 RS se-Sumatera Barat dengan wawancara maka peneliti mendapatkan informasi bahwa ada variabel lain sebagai pengaruh tersembunyi/faktor lain dalam penelitian ini yaitu pelatihan pengelolaan limbah medis, dan rendahnya tingkat pendidikan bagi tenaga cleaning service.

Artikel yang ada di rubrik Opini Koran Singgalang ini merupakanhasil dari penelitian disertasi saya pada Program Studi S3 Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Negeri Padang di bawah bimbingan Promotor Prof. Dr. Eri Barlian, MS dan Co-Promotor Prof. Dr. Abdul Razak, MSi. (***)