Tak Berkategori  

Museum Inyiak Canduang dan 94 Tahun MTI Candung

Oleh Khairul Fahmi

PAGI Kamis nan cerah di kaki gunung Marapi Agam Sumatera Barat, 26 Mei 2022, sebuah museum yang diberi nama dengan Museum Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) diresmikan. Museum ini terletak di Jalan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli, Jorong Lubuak Aua, Nagari Candung, Koto Laweh, Agam, Sumatera Barat. Sebelumnya, bangunan museum dimaksud adalah rumah tempat kediaman Inyiak Canduang semasa masih hidup dan membina tarbiyah islamiyah.

Peresmian museum nasional ini langsung dipimpin oleh Gubernur Sumatera Barat Buya H. Mahyeldi Ansharullah, S.P. didampingi Ketua PD Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-Perti) Sumatera Barat, Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, MM, pihak keluarga, Provinsi Sumatera Barat, jamaah Tarbiyah-Perti, dan masyarakat yang sudah sejak pagi memenuhi lokasi Gedung Syekh Sulaiman Ar-Rasuli yang dijadikan museum. Sekitar jam 09:00 WIB Gubernur melakukan prosesi tekan sirine dan gunting pita sebagai penanda dilakukannya peresmian museum.

Museum ini menyimpan berbagai karya, peninggalan, dan catatan perjalanan hidup Inyiak Canduang berupa kitab-kitab yang ditulis beliau, foto, baju, sorban, kitab kuning yang dimiliki, tongkat, lampu strongkeng dan lain-lain yang memotret perjalanan Inyiak Canduang. Berbagai karya dan peninggalan tersebut menjadi penanda bagaimana Inyiak Canduang sebagai seorang ulama kharismatik sekaligus tokoh adat dulunya berjuang untuk menyembangkan ajaran Islam sembari tempat menjadi keberlangsungan adat Minangkabau yang dinilai tidak bertentangan dengan syariat.

Berbagai peninggalan Inyiak Canduang yang disimpan juga menjadi penanda bahwa Syekh Sulaiman Ar-Rasuli memiliki peran yang strategis dalam perjalanan bangsa ini. Hal ini bisa dilihat dari peran-perannya yang begitu besar dalam perjalanan sejarah bangsa, seperti terlibat dalam konstituante dengan menjadi pimpinan sementara, mendirikan MTI Canduang yang hingga kini terus menjadi tempat menggembleng calon-calon ulama dan cendikiawan muslim, serta menjaga paham ahlussunah waljamaah.

Selepas dari museum, matahari mulai meninggi dan sengat matahari sudah mulai terasa, Gubernur, Bupati, dan masyarakat berbondong-bondong berjalan kaki menuju Rumah Gadang Inyiak Canduang yang berjarak beberapa meter dari museum untuk melakukan penanaman pohon. Kegiatan ini hendak memberi pesan bahwa di tengah kondisi lingkungan hidup yang terus makin mengkhawatirkan, menanam adalah solusi untuk menjaga keseimbangan alam akibat berbagai kerusakan yang terjadi. Setelah agendai tersebut selesai, Gubernur dan rombongan pun berjalan kaki menuju MTI Candung untuk menghadiri pemberian ijazah dan juga peringatan 94 tahun berdirinya MTI Canduang. Sebelum memasuki pekarangan sekolah, masyarakat, santriwan/wati, orang tua wali murid, telah menunggu kedatangan rombongan di gerbang sekolah. Sebelum memasuki pekarangan rombongan disambut dengan pertunjukan tari dan musik khas Minangkabau.

Pemberian Ijazah angkatan ke-82 MTI Candung kali ini dilakukan dengan mewisuda sebanyak 145 orang, yang terdiri dari 69 perempuan dan 76 orang laki-laki. Santriwan/wati tersebut tidak hanya berasal dari daerah selingkup Sumatera Barat, tapi juga berasal dari pulau Sumatera dan Jawa. Santriwan/wati yang telah di ijazahkan meraih berbagai macam prestasi dibidang keagamaan seperti pemenang lomba baca kitab kuning, hafiz Qur’an, dan prestasi lainnya Selain itu, dari 145 santriwan/wati yang telah dinyatakan lulus, lebih dari separo telah diterima di beberapa perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia.

Proses pemberian ijazah di MTI Canduang, dimulai dengan pembacaan doa di makam Inyiak Canduang di halaman sekolah, lalu arak-arakan dari sekolah menuju Baso dan kembali lagi ke sekolah, kemudian dilanjutkan dengan proses pengijazahan. Rasa bahagia dan haru bercampur aduk terpancar dari wajah santriwan/wati, mengingat di MTI Canduang selama tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk belajar agama dan umum. Lebih dari itu, juga belajar hakikat kehidupan karena tidak semua santriwan/wati yang berasal dari keluarga mampu, guru sudah seperti orang tua tempat mengadu, teman sudah seperti saudara, jauh dari orang tua menjadi pelecut semangat belajar, ucap santri dan santriwati ketika bercerita.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli menyampaikan harapan kepada santriwan/wati bahwa mereka akan menjadi perpanjangan tangan bagi almamaternya untuk bisa berkontribusi demi kepentingan umat, bangsa dan negara. Silahkan berkiprah dimanapun berada, tapi jangan lupa ideologi Ketarbiyahan selalu akan melekat dalam diri masing-masing, karena itu amanah dari Syekh Sulaiman Ar-Rasuli. Semoga MTI ke depan semakin lebih bisa melahirkan kader-kader agama, bangsa, dan negara. (***)