Tak Berkategori  

Narkoba: Antara Obat dan Bahaya

Oleh : Suci Oktaria Ananda (1804126)/S1 Farmasi, Universitas Perintis Indonesia

Saat ini bahaya dan dampak narkoba atau narkotika dan obat-obatan pada kehidupan dan kesehatan pecandu dan keluarganya semakin meresahkan.

Bagai dua sisi mata uang, narkoba menjadi zat yang bisa memberikan manfaat dan juga merusak kesehatan. Seperti yang sudah diketahui, ada beberapa jenis obat-obatan yang termasuk ke dalam jenis narkoba yang digunakan untuk proses penyembuhan karena efeknya yang bisa menenangkan. Namun jika dipakai dalam dosis yang berlebih, bisa menyebabkan kecanduan. Penyalahgunaan ini mulanya karena si pemakai merasakan efek yang menyenangkan.

Dari sinilah muncul keinginan untuk terus menggunakan agar bisa mendapatkan ketenangan yang bersifat halusinasi. Meski dampak narkoba sudah diketahui oleh banyak orang, tetap saja tidak mengurangi jumlah pemakainya.

Bahaya narkoba hingga menjadi kecanduan tersebut memang bisa disembuhkan, namun akan lebih baik jika berhenti menggunakannya sesegera mungkin atau tidak memakai sama sekali.

Narkotika sendiri mengandung zat-zat yang berbahaya namun juga memiliki manfaat di bidang medis meskipun tetap memiliki efek tersendiri. Maka, pengaturan narkotika harus benar-benar diperjelas dalam hal pendistribusian dan dalam penggunaannya tetap dalam pengawasan yang ketat. Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1999/MenKes/SK/IX/1996, Pedagang Besar Farmasi (PBF) Kimia Farma mengemukakan bahwa kepentingan pengobatan dan Ilmu Pengetahuan dipertanggungjawabkan oleh Pengawasan Obat dan Makanan (POM) yang bertujuan untuk memudahkan pengawasan narkotika oleh Pemerintah. Tetapi masih banyak orang-orang yang menyalahgunakan obat-obatan tersebut. Awalnya digunakan untuk pengobatan dan rehabilitasi bagi pasien tetapi dijadikan sebagai aktivitas illegal. Tak sampai disitu, obat-obatan yang termasuk narkotika tersebut sangat diperlukan di bidang kedokteran khususnya dalam proses operasi dimana obat yang digunakan tersebut merupakan golongan I dalam tingkatan narkotika yaitu kokain.

Penggunaan psikotropika dalam bidang kesehatan juga bermanfaat karena asam barbiturate (pentobarbital dan sekobarbital) yang biasa digunakan untuk menghilangkan rasa cemas pada pasien sebelum melakukan operasi yang bertujuan untuk mengurangi jumlah bius yang dibutuhkan pada bagian pertama operasi karena pada awalnya sudah diberikan obat penenang sebelum operasi.

Kemudian timbul pertanyaan, mengapa narkotika dicap berbahaya ? Dilansir dari situs resmi Badan Narkotika Nasional (BNN), Napza bersifat psikotropik dan psikoaktif yang mempunyai pengaruh terhadap sistem saraf manusia. Narkotika yang umumnya digunakan sebagai analgesik (pengurang rasa sakit). Efek samping dari narkotika adalah munculnya pengaruh pada aktivitas mental dan perilaku penggunanya. Oleh karena itu, biasanya obat-obatan tertentu digunakan sebagai terapi gangguan psikiatrik pada dunia kedokteran. 

Obat-obatan untuk terapi ini termasuk dalam daftar obat G yang artinya dalam penggunaannya harus disertai dengan kontrol dosis yang ketat oleh dokter. Jika ditelaah lebih dalam NAPZA terdiri dari tiga kata, yakni narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Narkotika bisa menyebabkan penurunan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.

Sementara psikotropika bisa menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Terakhir adalah zat adiktif menyebabkan pengidapnya alami ketergantungan. Apabila penggunaan zat adiktif dihentikan akan timbul efek putus zat diantaranya rasa sakit atau lelah yang luar biasa. Penyalahgunaan narkotika bisa berbahaya dan perlu dilakukan rehabilitasi medis agar pengidapnya tidak mengalami ketergantungan lagi.

Selain itu, narkoba juga menyebabkan beberapa bahaya lainnya, yaitu:

Menurunkan Kesadaran hingga Hilang Ingatan. Narkoba mengakibatkan efek sedatif seperti kebingungan, hilang ingatan, perubahan perilaku, tingkat kesadaran menurun, dan koordinasi tubuh terganggu. Jadi, mereka akan sulit fokus atau tidak nyambung saat diajak berbicara.

Dehidrasi. Narkoba memicu dehidrasi parah dan ketidakseimbangan elektrolit. Dalam jangka panjang, efek samping ini bisa sebabkan kerusakan otak.

Merubah Sel di Otak. Mengkonsumsi narkoba secara terus-menerus dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan sel otak. Akibat narkoba, otak dipaksa bekerja lebih cepat, tetapi menekan saraf pusat dan memaksa diri untuk lebih tenang. Perubahan sel di otak ini juga mengganggu komunikasi antar sel saraf dan kerusakannya bisa menjadi permanen.

Mengganggu Kualitas Hidup. Penyalahgunaan narkoba yang berkepanjang juga bisa menyebabkan gangguan kualitas hidup. Mereka akan merasa tidak nyaman, putus asa, dan ingin terus menggunakannya kembali. Akibatnya, mereka bisa kehilangan pekerjaan, bertengkar dengan keluarga, hingga kesulitan keuangan dan berhadapan dengan kepolisian karena melanggar hukum. (*)