oleh

Narkoba, Belati yang Menusuk Ubun-ubun

Mulyadi

Oleh Mulyadi/Anggota DPR RI

Narkoba adalah belati yang menusuk ubun-ubun anak-anak kita. Anak bujang yang gagah, berangsur-angsur kurus. Muak-muak lalu melawan. Kerjanya minta uang terus-menerus. Ayam jantan penjaga lesung itu, kini jadi masalah rumah tangga. Tak lama benar ia ditangkap, atau terkapar. Mati.

Lalu orang tua dan sanak saudara menangis, tapi sesal kemudian tiada berguna. Jika mau menyesal maka, jangan sentuh narkoba, Anda berpotensi besar mati muda.

Kisah-kisah pilu keluarga korban narkoba sering kita dengar dan lebih banyak yang tersembunyi. Semua itu adalah tragedi yang terjadi akibat kelalaian. Sumbar sendiri sudah berada di tubir. Gawat

Data yang dirilis Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumbar sebanyak 66.612 orang di provinsi korban narkoba. Yang coba-coba sampai pecandu berat. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya. Statistiknya demikian, namun ada yang lebih perih yaitu, generasi muda kita jadi korban.

Saya memandang, sudah mendesak, narkoba harus dilibas habis, bak perang dengan korupsi. Sebuah lembaga anti narkoba harus bisa seperti KPK.

Narkoba adalah hantu, extra ordinary crime, lebih gawat dari korupsi dan terorisme. Jika tidak sungguh-sungguh, maka bisnis dunia terhebat setelah bisnis perang ini, akan memutus generasi bangsa. Anak-anak muda sekian tahun dari sekarang, jadi pemimpin pecandu narkoba. Jadi orang tua, yang otaknya sudah rusak.

Maka keluarga, mamak, guru, wakil rakyat, eksekutif, ulama, tokoh, harus keras menjaga generasi kita supaya jumlah korban bisa dikurangi. Bekerjasamalah dengan kepolisian dan atau BNNP.

Ini keadaan darurat sebab anyaman kebudayaan kita sudah centang perenang dirusak narkoba. Serbuannya begitu masif dan kita telah kecolongan. Jamaknya orang kecolongan, satu demi satu hilang. Lalu pada saatnya semua sudah habis. Ketagguhan kita, tiang-tiang baru rumah tangga patah-patah. Rumah masa depan kita bersimpuh karena tiangnya sudah tak berdaya.

Narkoba hanyalah satu dari sekian banyak musuh anak-anak kita. Musuh lain game online, pergaulan bebas dan kebebasan serta segerobak permasalahan sosial lainnya. Benteng pertahanannya ada pada hati, kalbu dan kecerdasan.  Pada rumah tangga dan masyarakat luas.

Kita tak perlu membangun, cukup menjadikan benteng itu benar-benar berfungsi sebagai benteng.

Maka saya yakin suatu Ranah Minang akan semakin baik kalau kita benar-benar mau serius menghentikan gerakan masif narkoba. Harus ada niat kesepakatan dan aksi bersama. Aksi itu dari kelompok-kelompok peduli, perkumpulan, anak sekolah dan pemerintah, pemuka dan para intelektualnya. Jika tak dimulai maka korban akan terus berjatuhan. (*)

Loading...

Berita Terkait