Tak Berkategori  

Begini Suasana Ramadhan di Negeri Jiran

Pasar Ramadhan (pasa pabukoan) di salah satu ruas jalan di Kampung Baru, Kuala Lumpur sekitar pukul 05.00 sore (04.00 WIB), Rabu (22/6). Satu jam lagi akan penuh sesak oleh manusia, kendaraan akan tidak bisa lagi masuk. (dirwan ahmad darwis)
Pasar Ramadhan (pasa pabukoan) di salah satu ruas jalan di Kampung Baru, Kuala Lumpur sekitar pukul 05.00 sore (04.00 WIB), Rabu (22/6). Satu jam lagi akan penuh sesak oleh manusia, kendaraan akan tidak bisa lagi masuk. (dirwan ahmad darwis)

Oleh: Dirwan Ahmad Darwis

Sebentar lagi berbuka, langit Kuala Lumpur gelap. Benar saja, hujan turun deras sekali. Orang berlarian menghindari guyuran dan tempias.  Padahal tadi, pasar Ramadhan (pasa pabukoan) di Jalan Kampung Baru, ibukota Malaysia itu, ramai. Seperti di kampung sendiri. Penulis menikmati Ramadhan di negeri jiran ini, terasa syahdu, mendalam dan indah.

Tak ada beda Minangkabau dan Malaysia. Tapi itu doeloe. Penulis teringat tulisan, Prof Ezrin Arbi, arsitek terkenal putra asal Minangkabau yang mendisain Bandaraya Kuala Lumpur dalam buku otobiografinya berjudul: “Liku hidup perantau Minang, dari Bukit­tinggi ke Kuala Lumpur,” mengatakan, dulu sebelum memutuskan jadi rakyat Malaysia terlebih dahulu ia bertanya kepada Buya Hamka dan Buya Natsir dalam kesempatan terpisah. Kedua tokoh itu mengata­kan, Indonesia dan Malaysia itu sama saja, sama-sama negeri Melayu.

Kedua negara sama-sama Melayu benar adanya pada 30-40 tahun yang lalu. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, di Malaysia telah terjadi beberapa perubahan baik sosio-politik, ekonomi atau pun sosio budaya. Perobahan itu terlihat sangat signifikan dengan membanjirnya kedatangan etnis lain terutama dari Timur Tengah dan Afrika mulai pertengahan 2000. Mereka memilih Malaysia sebagai destinasi wisata, pendidikan bahkan untuk bekerja, berusaha dan 
hidup berdomisili.

Setelah peristiwa pemboman gedung WTC di Amerika pada 11 Septem­ber 2001, Amerika mulai mempersulit warga Arab untuk masuk ke sa­na dengan alasan terorisme. PM Mahathir dengan cerdas membaca keadaaan, memanfaatkan momen itu dia mengirim Menteri Rafidah Aziz berpromosi ke Timur Tengah. Maka sejak itulah Malaysia terkenal sebagai destinasi wisata di Timur Tengah.

Belakangan Malaysia juga menjadi destinasi pavorit untuk belajar bagi anak-anak warga Timur Tengah dan Afrika. Keadaan ini dengan sendirinya merubah peta demografi Malaysia yang tadinya hanya dihuni tiga ras utama yakni Melayu sebagai mayoritas, lalu Cina dan India, sekarang menjadi lebih variatif dengan hadirnya komunitas Arab dan Afrika termasuk Iran. Keadaaan ini sangat kentara terlihat dengan munculnya berbagai macam restoran Arab khususnya di ibukota dan kota-kota besar lainnya di Malaysia, saat ini adalah hal biasa melihat bertebarannya wajah-wajah Arab dan Afrika di kampus-kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Lalu apa kaitannya keadaan ini dengan nuansa Ramadhan di Malay­sia? Ketika Singgalang meminta penulis membuat naskah, dicobalah melakukan pengamatan dan survei ke tempat-tempat tertentu seperti kampus, masjid, restoran dan juga ke shopping mall.

Didapati memang ada suasana berbeda dibanding tahun-tahun dulu. Mangingat kembali suasana Ramadhan 80-90-an, maka yang tidak berubah sampai sekarang di Malaysia ini suasana di shopping mall atau di Malaysia dikenal sebagai gedung membeli belah. Gedung-gedung ini tetap setia mengumandangkan lagu-lagu khusus tema hari raya, walaupun ada lagu baru namun lagu lama tetap diputar. Di Indonesia setahu penulis kita tidak punya budaya seperti ini dengan lagu-lagu khusus hari raya.

[button color=”red” size=”medium” link=”http://hariansinggalang.co.id/nuansa-ramadhan-di-negeri-jiran-3/” ]2[/button]

[button color=”red” size=”medium” link=”http://hariansinggalang.co.id/nuansa-ramadhan-di-negeri-jiran-2/” ]3[/button]

[button color=”red” size=”medium” link=”http://hariansinggalang.co.id/nuansa-ramadhan-di-negeri-jiran/” ]4[/button]