Tak Berkategori  

Obat Lokal

Elfindri (ist)

Elfindri
Profesor Ekonomi dan Direktur SDGs Unand

Tahun 70-an, terkenal seseorang yang sudah tua, bernama Datuak Dalu. Beliau, sehari-hari menjual obat di kaki lima. Namun di sela-sela waktu, juga menjadi pemandu wisata, sehingga gaya dan tingkahnya seperti orang bule. Awalnya ia merintis hidup dengan jualan obat tradisional, di Pasar Atas Bukittinggi dan Blok A Pasar Raya Padang. Rutin setiap akhir pekan. Entah apa bahan-bahan yang digunakan di dalam racikan obatnya. Obat penurun panas, batuk, kurap, sakit kulit sampai obat kuat untuk pria.

Beliau berjualan tidak di dalam toko, melainkan di tempat terbuka, dengan dialaskan kain dan jualannya diletakkan di tengah-tengah kerumunan. Mulai orang tua sampai anak-anak, ada yang berdiri dan mencongkong. Beliau juga menyampaikan cerita tentang obat-obat yang ia jual. Diselingi dengan guyonan yang jenaka dengan ritme suara yang membuat pengunjung senang. Selama satu jam, kemudian, obatnya dijual.

Mahal dan Impor
Penemuan obat-obat modern kian bekembang pesat. Saat mengunjungi dokter umum atau spesialis, obat yang diberikan seringkali adalah obat bermerek.Tidak banyak dokter yang memberikan obat generik.
Sekali berobat, pasien biasanya harus meronggoh kocek dari Rp100.000,- hingga Rp500.000,- tergantung keluhan yang dideritanya. Pasien yang pergi ke Puskesmas tentu tidak membayar mahal karena retribusi berobat dan harga obat generik terjangkau, walau masih banyak masyarakat yang tidak percaya dengan ampuhnya obat generik. Pada akhirnya obat generik atau obat dengan biaya yang mahal, hal yang utama adalah kesembuhan. Tidak terkecuali, obat tradisional.

Dalam industri farmasi di sisi ekonomi ada yang salah. Distribusi obat menjadi tidak efisien: margin laba yang diambil oleh distributor atau komponen harga obat yang disihkan untuk keperluan biaya manajemen. Kesemuanya masih rahasia dan regulasi selama ini masih minim.

Masyarakat sudah tahu kalau batuk, secara tradisional mereka minum daun Sirih. Kalau sakit maag, mereka bisa minum air kunyit tumerik atau makan ubi jalar merah. Jika demam, minum air tempayang. Masing-masing daerah, sudah menentukan jenis daun atau kulit kayu, yang dipercaya dapat mengobati sakit yang diderita.

Di China pengobatan tradisional diakui sebagai bagian dari sistem kesehatan nasional selain pengobatan modern. Ini membuat industri obat nasional, memiliki perkembangan, baik pendidikannya, produksi racikan obatnya, sampai jenis pelayanan rumah pengobatan tradisional. Bahkan di daerah-daerah, angka impor obat tradisioan sebenarnya cukup tinggi. Ketika obat yang diberikan di rumah sakit ada, maka pasien tertentu juga menambahkan dengan obat china tradisional.

Sementara di Indonesia obat tradisional tidak diakui. Dalam kurikulum sekolah kedokteran mereka mengajarkan obat modern. Sehingga tidak ada yang mengajarkan pembuatan obat tradisional, dan pendidikan pengobatan secara tradisional. Meskipun masyarakat juga tidak dilarang untuk berobat secara tradisional. Karena selama ini berbagai virus hampir tidak ada obatnya, kecuali dengan cara meningkatkan imunitas tubuh. Local knowlege semestinya lebih diapresiasi.

Kemandirian Obat
Di masa masa sulit seperti ini, masyarakat banyak yang bergerak sendiri. Mereka mencari obat tradisional, seperti jahe, kunyit, daun sirih, sereh dan jenis dedaunan lainnya. Dengan ketidaktahuan, takaran dan konsekuensi, pengobatan secara tradisional tetap akan jalan.

Para peneliti Unand mesti secepatnya membantu, menyarankan apa yang bisa dilakukan masyarakat jika obat umum terlalu mahal. Di balik kesulitan obat, ternyata Datuak Dalu telah membawa cara lain tersendiri. Jika kita ceritakan ke dokter, mereka malah tidak akan percaya. Tapi mesti kita terus berupaya mencari tahu, bagaimana obat lokal bisa menjadi salah satu akternatif bagi masyarakat.

Apalagi masa-masa dimana obat belum tersedia untuk mengatasi masalah Covid19. Agar kita bisa menjadi mandiri suatu saat. Oleh karenanya, kemandirian pengadaan obat secara tradisional bisa ditingkatkan, bahkan menjadi alternatif industri farmasi. Selama ini perkembangan penjual jamu memang didominasi oleh daerah Wonogiri.
Untuk ke depan, universitas bahkan bisa memilih jenis obat yang selama ini sangat dibutuhkan masyarakat, namun masih belum mampu diproduksi. Jika saja dalam satu tahun ditemukan 3 jenis obat tradisional, maka ini bisa dijadikan produk baru. Jika pengujian dan inovasinya sudah dapat dipatenkan, maka pemerintah daerah, melalui BUMD dapat memanfaatkan temuan itu untuk diguakan oleh masyarakat.

Jika gerakan ini tidak dilakukan secara serius, maka impor obat yang dilakukan oleh Indonesia, akan semakin besar. Harganya selangit. Namun jika ditemukan obat tradisional yang dapat digunakan oleh masyarakat, maka produksinya bisa dikembangkan ke UMKM, dan kemudian bisa menghemat devisa. Selain kita memiliki kekayaan hayati, orang-orang yang berjualan seperti Datuak Dalu, juga akan berkembang. Ini merupakan lapangan kerja dan kemandirian.