Kita butuh Institut Pakang Minangkabau untuk Membangun Jaringan dan Peluang

Foto Yoss Fitrayadi
×

Kita butuh Institut Pakang Minangkabau untuk Membangun Jaringan dan Peluang

Bagikan opini

Sudah selayaknya di tanah Minangkabau berdiri Institut Pakang Minangkabau. Minangkabau Institute of Pakang. Sebuah lembaga pendidikan dan penelitian untuk urusan percaloan.

Saya yakin setiap kampung punya tukang pakang. Mereka adalah yang di dalam bahasa lain dikenal sebagai broker, calo, middleman, makelar dan sebutan lainnya. Perantara dalam jual beli, berharap komisi dan fee.

Tukang pakang sejati adalah mereka yang sanggup jadi perantara barang apa saja. Mulai dari jarum pentul sampai pesawat terbang. Tapi kalau kita bicara pakang level nagari, barang yang mereka perantarakan biasanya kendaraan atau anjing berburu. Di kampung saya, tukang pakang paling top adalah Buyuang Cakir. Pencapaian materinya di atas rata-rata warga kampung. Dan seingat saya, ia tak menamatkan SMP. Dalam urusan administrasi, ia banyak dibantu istrinya yang lulusan SMEA.

Kita juga bisa melihat contoh nyata di Pasar Tanah Abang. Banyak saudara dan teman kita yang menjadi tukang kantau, orang yang mencari pembeli tanpa memiliki toko. Mereka berkeliling pasar, mencari pelanggan untuk pedagang lain dan mendapatkan komisi dari setiap penjualan yang berhasil. Profesi ini seringkali dianggap sebagai batu loncatan. Banyak dari mereka yang kemudian berhasil memiliki lini produksi dan toko sendiri. Saat menjadi tukang kantau, mereka belajar ilmu pemasaran jalanan, membangun jaringan, dan mengasah kemampuan bernegosiasi. Ini menunjukkan bahwa profesi percaloan bisa menjadi pijakan awal yang kuat untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.

Baca juga: Sepi - sepi Saja

Banyak yang menyepelekan profesi pakang. Profesi yang katanya tidak bermodal. Hanya mengandalkan air liur. Tapi apakah sejatinya begitu? Saya rasa tidak. Ini profesi yang multi dimensi. Butuh pendalaman teknis, jaringan yang luas, dan keterampilan interpersonal yang tinggi.

Bayangkan jika tukang pakang anjing berburu hanya bermodal liur. Ia pastilah akan mengecewakan peburu babi yang ingin anjing bagus. Untuk mendapatkan anjing terbaik cap mau dengan harga layak, pastilah dia butuh akumulasi pengetahuan tentang anjing, jaringan yang tidak bisa dibangun dalam sehari, mulai dari penyuplai anjing sampai para sopir pembawa ke kampung halaman.

Singapura adalah negara pakang. Apapun yang kita cari, ada di sana. Singapura butuh proses lama dan berat untuk sampai di posisi ini. Mungkin karena mereka sadar tak ada sumber daya alam yang mereka banggakan. Dan tentu saja karena ada keuntungan lokasi. Mereka membangun reputasi, infrastruktur dan mental untuk itu. Puncak keberhasilan Singapura sebagai negara pakang, mereka bisa menjadi investor nomor satu di negara kita. Dana tersebut bukanlah milik mereka sendiri. Dana yang merupakan titipan dari orang-orang kaya dunia untuk dikelola, termasuk dari orang kaya Indonesia sendiri.

Bayangkan jika kita punya Institut Pakang Minangkabau. Menghasilkan tukang-tukang pakang terbaik. Banyak uang beredar dari fee dan komisi. Tak perlu risau lagi dengan sumber daya alam yang terbatas. Tenang saja kalau soal pendaftar. Secara alami, kita adalah etnis calo, tentu saja dalam nuansa yang positif. Etnis dengan mental middleman. Selama ini tak berkembang, mungkin karena kita sendiri yang agak sinis pada profesi ini.

Profesi pakang memang sering dipandang sebelah mata. Padahal, ia membutuhkan keterampilan dan kecerdasan sosial yang tinggi. Seorang pakang harus mampu membaca situasi pasar, mengerti kebutuhan klien, dan menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak. Ini bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Seorang pakang kendaraan misalnya, harus memahami seluk-beluk mesin, kondisi pasar, dan tren harga. Mereka harus mampu bernegosiasi dengan penjual dan pembeli, memastikan kedua belah pihak merasa diuntungkan. Begitu juga dengan pakang anjing berburu. Mereka harus mengetahui kualitas anjing, riwayat kesehatannya, dan kemampuan berburu yang dimilikinya. Semua ini memerlukan pengetahuan yang mendalam dan jaringan yang luas.

Bagikan

Opini lainnya
Terkini