Idul Fitri: Momentum Kebangkitan Islam Berkemajuan

Foto Muhammad Najmi
×

Idul Fitri: Momentum Kebangkitan Islam Berkemajuan

Bagikan opini
Ilustrasi Idul Fitri: Momentum Kebangkitan Islam Berkemajuan

Idul Fitri adalah momentum kemenangan. Ia bukan sekadar perayaan, bukan sekadar kembalinya kebolehan untuk makan dan minum di siang hari. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah pintu bagi kesadaran baru, sebuah refleksi mendalam tentang sejauh mana kita memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam yang sejati. Idul Fitri mengembalikan kita kepada makna fitrah—kesucian jiwa yang mengakar pada tauhid, keadilan, dan kepedulian sosial.

Dalam konteks yang lebih luas, Idul Fitri seharusnya mengembalikan kita kepada Islam yang mencerahkan, Islam yang tidak hanya berorientasi pada kesalehan individu, tetapi juga membangun peradaban yang adil dan makmur. Islam Berkemajuan adalah Islam yang bergerak dinamis, menolak stagnasi, dan menghadirkan solusi atas persoalan umat. Islam yang tidak hanya bicara tentang pahala dan dosa, tetapi juga menegakkan keadilan, memerangi kebodohan, dan menumbuhkan kesejahteraan.

Namun, realitas yang kita hadapi hari ini kerap jauh dari idealisme itu. Idul Fitri seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar rutinitas tahunan yang penuh kemewahan dan kesemuan. Jika kita lihat hari ini, masih banyak di antara kita yang memahami Islam sebatas ritual tanpa spirit perubahan sosial. Masih banyak yang merasa cukup dengan ibadah personal, tetapi menutup mata terhadap ketimpangan ekonomi, kemiskinan struktural, dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar.

Kembali kepada Islam yang Mencerahkan

Islam hadir bukan sekadar sebagai agama yang mengatur ibadah, tetapi juga sistem nilai yang membebaskan manusia dari keterbelakangan. Islam mencerahkan manusia dengan ilmu, dengan keadilan, dan dengan prinsip keberpihakan kepada yang lemah. Sejarah mencatat, bagaimana Rasulullah SAW membangun peradaban Islam bukan hanya dengan shalat dan puasa, tetapi dengan membangun pasar, mengatur keuangan, mendidik umat, dan memastikan keadilan sosial tegak di tengah masyarakat.

Namun, kini kita justru menyaksikan wajah Islam yang seakan tercerabut dari ruhnya. Islam yang hanya menjadi simbol, bukan gerakan. Islam yang hanya menjadi pembeda identitas, bukan sistem nilai yang membangun keadilan dan kemakmuran. Masih banyak umat yang sibuk berdebat soal halal-haram di perkara yang remeh, tetapi diam ketika kemiskinan struktural melilit saudaranya. Masih banyak yang fasih berbicara sunnah dan bid’ah, tetapi tak peduli bagaimana memberdayakan umat agar tidak terus-menerus tertinggal dalam sektor ekonomi dan pendidikan.

Baca juga: Indonesia Lolos

Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik. Setelah satu bulan penuh kita dilatih untuk menahan diri dari hawa nafsu, bukankah kini saatnya kita menahan diri dari ego sektoral? Setelah kita dilatih untuk berbagi, bukankah kini saatnya kita menjadikan ekonomi Islam sebagai jalan menuju kesejahteraan umat? Islam yang mencerahkan bukan Islam yang sibuk pada simbol, tetapi Islam yang menghadirkan cahaya bagi mereka yang hidup dalam kegelapan.

Tag:
Bagikan

Opini lainnya
Terkini