Islam yang Menggembirakan: Jalan Terang bagi Sumatera Barat

Foto Muhammad Najmi
×

Islam yang Menggembirakan: Jalan Terang bagi Sumatera Barat

Bagikan opini

Salah satu poin penting yang ditekankan oleh Prof. Haedar adalah perlunya mengedepankan musyawarah dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan beragama dan bernegara. Prinsip ini sejatinya telah menjadi warisan budaya Minangkabau yang sangat kuat. Dalam tradisi Minangkabau, musyawarah dan mufakat merupakan metode utama dalam pengambilan keputusan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, budaya ini mulai terkikis oleh pola pikir yang lebih individualistik dan kurang mengedepankan kebersamaan.

Dalam ranah politik dan sosial, Sumatera Barat mengalami tantangan dalam mempertahankan nilai musyawarah ini. Perpecahan antar kelompok, polarisasi dalam pemikiran keislaman, hingga konflik kepentingan dalam pemerintahan daerah menunjukkan bahwa nilai musyawarah yang dulu menjadi kekuatan, kini semakin lemah. Oleh karena itu, gagasan Prof. Haedar menjadi sangat relevan. Umat Islam, khususnya di Sumatera Barat, harus kembali kepada prinsip musyawarah sebagai metode utama dalam menyelesaikan persoalan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Menyiapkan Generasi Emas: Tantangan dan Harapan

Pernyataan Prof. Haedar tentang pentingnya menyiapkan generasi emas juga memiliki makna yang sangat mendalam. Indonesia, termasuk Sumatera Barat, sedang menghadapi tantangan besar dalam mencetak generasi muda yang siap menghadapi masa depan. Di tengah gempuran digitalisasi, globalisasi, dan tantangan moral yang semakin kompleks, generasi muda harus dibekali dengan pendidikan yang kuat, baik dalam aspek akademik maupun nilai-nilai keislaman yang moderat dan progresif.

Sayangnya, di Sumatera Barat, pendidikan berbasis Islam masih menghadapi berbagai kendala. Banyak sekolah dan madrasah yang belum memiliki fasilitas yang memadai, dan metode pembelajaran yang kurang inovatif. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka cita-cita menciptakan generasi emas yang mampu membawa Indonesia ke masa depan yang lebih cerah akan sulit terwujud.

Di sisi lain, peran orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter generasi muda. Dalam banyak kasus, masih terdapat pola asuh yang keras dan kurang memberikan ruang bagi anak-anak untuk berpikir kritis serta mengembangkan kreativitas mereka. Islam yang menggembirakan seharusnya menjadi pendekatan dalam mendidik anak-anak, di mana mereka merasa nyaman dengan ajaran agama, bukan justru merasa takut atau tertekan.

Islam yang Menggembirakan: Bukan Sekadar Retorika

Bagikan

Opini lainnya
Terkini