Konsep Islam yang menggembirakan bukanlah sekadar slogan atau retorika semata. Ini adalah prinsip yang harus diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan. Di Sumatera Barat, beberapa langkah konkret bisa dilakukan untuk merealisasikan hal ini.
Pertama, penguatan dakwah yang inklusif. Para ulama, ustaz, dan pendakwah harus mampu menyampaikan pesan Islam dengan pendekatan yang lebih humanis, dialogis, dan membangun semangat kebersamaan. Dakwah yang menggembirakan bukan berarti mengurangi esensi ajaran Islam, tetapi justru membuat Islam lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Kedua, reformasi pendidikan Islam. Madrasah, pesantren, dan sekolah berbasis Islam harus berani berinovasi dalam kurikulum dan metode pembelajaran. Islam harus diajarkan sebagai agama yang membawa rahmat bagi semua, bukan sekadar kumpulan hukum dan larangan yang menakutkan.
Ketiga, memperkuat sinergi antar-elemen masyarakat. Pemerintah daerah, organisasi keislaman, akademisi, dan komunitas harus membangun ruang dialog yang sehat dan produktif. Persatuan umat harus menjadi prioritas utama dalam membangun Sumatera Barat yang lebih maju dan harmonis.
Islam yang Menguatkan, Bukan MelemahkanPernyataan Prof. Haedar Nashir tentang pentingnya menghadirkan Islam yang menggembirakan adalah sebuah refleksi yang harus kita renungkan bersama. Islam bukanlah agama yang membawa ketegangan dan konflik, melainkan agama yang menumbuhkan cinta, kebersamaan, dan kebijaksanaan. Di Sumatera Barat, prinsip ini harus menjadi dasar dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga kebijakan publik.
Kita tidak boleh terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif dan polarisasi yang memecah belah. Sebaliknya, kita harus menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih adil, harmonis, dan penuh dengan semangat kegembiraan. Dengan demikian, Sumatera Barat bisa menjadi contoh nyata bagaimana Islam yang menggembirakan dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata. (*)