Portal Berita Terkini Sumatera Barat
Opini  

Orang Eropa Pertama ke Puncak Gunung Marapi

Oleh Novelia Musda
Gunung Marapi di Sumatera Barat tak sekedar toponimi bagi masyarakat sekitar. Dalam tambo-nya, orang-orang Minangkabau menyebut silsilah mitologis mereka: dari mano asa niniak kito/ dari puncak Gunuang Marapi. Terdengar absurd, tapi kaya makna. Menjadi obyek favorit pendakian menjelang tahun baru dan rutin dikunjungi di hari-hari biasa, gunung ini tak pernah pudar pesonanya meski sesekali asap tebal mengepul dan abu menyembur disertai gempa-gempa vulkanis dari masa ke masa. Melihat keperkasaannya pada langit cerah niscaya membangkitkan rasa hormat sekaligus rasa takut. Siapa gerangan yang pertama kali merekam pendakian ke Gunung Marapi?
Tidaklah bisa dipastikan tentunya siapa yang benar-benar pertama kali mendaki Gunung Marapi sampai ke kawah, tapi yang jelas adalah Salomon Müller (1804-1863) orang kulit putih pertama berbangsa Jerman yang menaikinya dengan misi ilmiah, beserta Pieter Willem Korthals (1807-1892), botanis Belanda. Salomon Müller ini adalah naturalis yang sama yang disebut memuat peta kota misterius Saranjana di Kalimantan tahun 1845. Müller dan Korthals merupakan ilmuwan anggota De Natuurkundige Commissie voor Nederlandsch-Indië (Komisi Ilmiah untuk Hindia Belanda) yang ditahbiskan Raja Willem I tahun 1820 dan beroperasi hingga 1850.
Catatan ekspedisi ilmiah Salomon Müller dan rekan ke Sumatera Barat, di antaranya ke Gunung Marapi, ditulisnya dalam artikel ilmiah: Berigten over Sumatra (Berita tentang Sumatera), terbit di Amsterdam 1837. Trip Sumbar itu sendiri dilakukan tiga tahun sebelumnya, 1834, dengan terlebih dulu menghabiskan berbulan-bulan di Padang, Bungus dan Lembah Anai. Barulah pada bulan November 1834, Salomon Müller dan Korthals dengan lima belas orang pemandu pribumi mulai mendaki Merapi. Perjalanannya tersebut boleh dibilang amat berani, karena Belanda masih dalam kecamuk masa perang dengan Kaum Paderi yang baru pada 1837 berhenti.
Rute pendakian Müller berbeda dengan rute favorit masa sekarang yang lewat Koto Baru. Müller dan rekan-rekan berangkat dari Batusangkar, Lima Kaum, lalu belok ke Parambahan, Sungai Jambu dan terakhir kampung yang disebutnya Limboatan (Labuatan). Di Labuatan suhunya ketika tengah hari diukur dengan barometer 25 derajat Celcius, dan mulai dari sini tidak ada lagi pohon kelapa, hanya bambu dan pohon aren yang mendominasi. Kopi ketika itu sudah banyak ditanami pada ladang dan halaman penduduk pribumi.
Tak lama setelah mendaki Labuatan mereka masuk ke rimba, tapi ada jalur ke puncak di sisi jurang dan bukit yang makin ke atas makin menyempit. Mulai ketinggian 7000 kaki, sang naturalis mulai merinci nama spesies tumbuhan dan hewan yang ditemukan. Dia mencatat semak-semak Rhododendron, Leucocarpa, Gaulteria, Gnaphalium. Di antara jenis-jenis burung, ia menemukan Psilopogon pyrolophus, Edolius rotifer, Tisnalia concreta, Pomatorhimis montanus, Muscicapae, Columba ruficeps, Columba Capellei, Izos bimaculatus dan Dicaeum flavum. Lebih dekat ke puncak yang menggersang, mereka mencatat aneka tanaman Thibautia, berdaun dongker dan diberati buah.
Namun, ada keanehan yang dirasakan oleh Müller, yakni tidak ada mamalia yang ditemukan. Tak ada jejak badak, tak terdengar pekik siamang. Ketika pemandu pribuminya mengatakan bahwa di seluruh Gunung Marapi tak satu pun kera, Müller seakan tak percaya karena biasanya pada rimba-rimba Sumatera sangat lazim menemui primata.
Panen ilmiah kedua naturalis tersebut tidak hanya di bidang botani dan zoologi. Justru pada aspek geografi khususnya geologi, Müller menyampaikan banyak hal seputar Gunung Marapi. Dengan melihat kontur puncak yang seperti terpenggal dan terpadatkan, volume lebar kaki dan pinggang, serta dianalogikan dengan gunung-gunung api lain yang umumnya mengerucut runcing (seperti Merapi di Jawa Tengah), menurutnya, gunung ini telah kehilangan setidaknya 600 meter dari ketinggian asali, karena erupsi luar biasa pada masa lampau. Jika memang demikian, maka kasus gunung Marapi ini kemungkinan sama seperti Tambora, di mana pra letusan tingginya 4.300 mdpl, dan setelah letusan sebagian puncaknya lenyap menyisakan ketinggian hanya 2.851 mdpl, meski skala erupsinya tentu lebih kecil. Bukti bahwa tidak ada satu pun mamalia seperti kera di gunung itu bisa jadi semacam trauma fauna akan erupsi luar biasa sang gunung di masa lalu.
Dari hasil perhitungan geometris Müller dan Korthals serta menggunakan formula Biot, dengan peralatan barometer Fortin serta thermometer, titik tertinggi gunung Marapi yang merupakan permukaan puncak dinding bukit pasir yang mengelilingi kawah dalam bentuk setengah lingkaran adalah 2.898,2 meter. Ketinggian ini hanya berbeda beberapa meter dari ketinggian Gunung Marapi seperti yang kita kenal sekarang, yakni 2.891 meter. Kita tidak tahu apakah sudah dilakukan perhitungan-perhitungan ulang ketinggian Marapi, atau hanya hitungan pada 1834 tersebut yang menjadi pedoman, mengingat dalam kurun 200 tahun tentu ada selisih ketinggian signifikan gunung yang terkenal sering erupsi dan dilanda gempa bumi ini.
Dari informasi yang diperoleh Müller dari para pribumi yang mendampinginya mendaki gunung, dipastikan bahwa kegiatan mendaki gunung hingga ke puncak kawah sudah biasa dilakukan oleh orang-orang Minangkabau sejak dulu kala. Jalur pendakian yang sang ilmuwan dan rekan ikuti sudah jalur setapak yang mudah dilacak. Bahkan, ketika Perang Paderi masih berkecamuk secara horizontal mulai akhir abad 18 antara kaum adat dan kaum Paderi, jauh sebelum Inggris dan Belanda dimintai bantuan untuk mengintervensi, penduduk dari lereng gunung dari kawasan Agam dan Tanah Datar menyelenggarakan pasar sekali sepekan di dekat kawah-kawahnya. Hanya di puncak gunung itu penduduk dari berbagai nagari bisa aman berlalu lintas dan bertransaksi, jalur di bawah sangat tidak aman dengan banyaknya pertikaian, perampokan dan perampasan. Namun, tentu hal ini memiliki resiko; pernah sembilan penduduk Sungai Jambu ketika hampir sampai ke kawah membawa barang-barang dagangan diserang kabut, hawa dingin dan angin mengerikan sehingga tiba-tiba semuanya membeku dan jatuh terkapar tanpa nyawa lagi. Karena itu, untuk menghormati arwah gunung (berggeesten), sebelum diizinkan mendaki, Müller, Korthals dan rekan-rekan pribumi harus menjalani ritual yang diadakan penduduk (tidak jelas penduduk nagari mana). Dalam ritual ini, satu ekor kerbau dibantai dan kemenyan dibakari, tentu dengan diiringi berbagai doa-doa keselamatan.
Dengan menggunakan nama-nama yang diberikan penduduk pribumi, Müller menyebut ada tiga buah kawah di puncak Marapi: Pakuntan Tua, Pakuntan Tengah dan Pakuntan Bungsu. Pakuntan ini salah satu kosakata unik yang sekarang tidak digunakan orang-orang Minangkabau lagi, jika memang yang dimaksudkan adalah kata kawah.
Pakuntan Tua panjangnya lebih kurang 519 meter, lebar 324 meter dan tinggi dinding kawah 114 meter. Menurut observasi sang naturalis, kawah Marapi yang paling awal ini tak aktif lagi, hanya ada genangan air, dan tak satu pun api yang hidup. Agak berbeda dengan Pakuntan Tengah, yang pada beberapa tempat asap mengepul terus menerus dengan dasar kawah yang kering. Pakuntan Tengah dalamnya hanya 40 meter dengan diameter sekitar 142 meter. Seluruh aktivitas vulkanis Marapi yang sekarang terpusat di kawah paling muda, Pakuntan Bungsu, yang dalamnya 153 meter dan diameter 403,2 meter, terletak di ujung Barat Daya puncak Marapi. Pada dindingnya yang curam, 38 sampai 40 derajat, di sela belah-belah batu dan tanah keluar senantiasa uap air dan belerang, tapi tanpa sedikit pun suara. Bahan-bahan dinding kawah selain tanah lempung, ada abu vulkanis, pasir, batu apung dan batu grit. Suhu di ketinggian ini pada saat tengah hari berawan diukur oleh sang ilmuwan 15,7 derajat Celcius.
Dalam ekspedisi di mana Müller dan Korthals tinggal selama enam hari dalam cuaca berhujan, dingin dan berkabut di atas puncak Marapi, lima belas pemandu pribumi-nya dibuat gelisah berhari-hari. Mereka tidak tahu persis apa yang diinginkan orang-orang kulit putih ini dengan berbagai peralatan anehnya, dengan gerak gerik ke sana kemari yang tak tentu arah di atas itu sehingga berkali-kali mereka ingin minta turun. Hanya dengan upaya luar biasa serta kata-kata yang paling ramah dan lemah lembut kedua ilmuwan berhasil membuat mereka tetap bertahan.
Ekspedisi tersebut membawa pengetahuan yang sangat signifikan tentang gunung Marapi. Tidak hanya catatan komprehensif tentang flora dan fauna di gunung itu, tapi catatan geografis, geologis dan bahkan budaya diperkaya. Dan ternyata di luar dugaan kita, meskipun Marapi adalah gunung mistis yang menjadi bagian dari silsilah mitologis orang-orang Minangkabau, toh tidak menghalangi para pribumi pemberani mendaki ke puncaknya, memberi nama kawah-kawah dan bahkan mengadakan pasar sekali seminggu di atas sana! Dan mungkin ekspedisi serius ilmiah serupa ke gunung Marapi, baik dari aspek biologis maupun geografis, perlu dilanjutkan sekarang ini untuk meng-update pengetahuan kita tentang gunung Marapi. Sebab, hanya dengan keseriusan itulah ilmu pengetahuan bisa terus maju. (***)
* Novelia Musda (Alumnus MA Islamic Studies Universiteit Leiden/ ASN Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat)