oleh

Pabrik Gula Tjolomadoe, 158 Tahun Kemudian

 

Berfoto di depan cerobong di Museum Pabrik Gula Tjolomadoe, Solo, Kamis (28/3) (binar vina indri)

Khairul Jasmi

TJOLO Koffie, menghidangkan secangkir kopi di meja kayu persegi panjang dan berkaki besi. Saya nikmati. Aduhai. Bukan kopinya namun lokasinya. Kafe ini berada di dalam bangunan jangkung masa lampau, bekas kilang gula yang dibangun 1861.

Nama kilang itu, De Tjolomadoe, terletak di Jalan Adi Sucipto, Karang Anyer. Orang menyebutnya, museum Colomandu, Solo. Siang merunduk menuju senja, Kamis (28/3), hujan turun sebentar, membuat udara jadi sejuk. Remaja Solo mulai berdatangan, guna menikmati museum mereka. Tentu saja berselfie, yang spot-spotnya memang disediakan. Di halaman, umbul-umbul bank dan berbagai produk berkibar disapa angin.

Pabrik gula ini terdiri dari dua bangunan seperti los tapi lebih tinggi. Berdiri di atas lahan seluas 3,1 hektare, lahan parkir leih luas lagi, total kompleks pabrik gula ini 6,4 hektare. Di dalamnya malang melintang besi-besi dan perkakas pabrik buatan Jerman dan Belanda. Benar-benar tak terawat. Itu doeloe. Kini? Jangan disebut, necis semua. Sabtu malam besok, akan mentas di sana, Kla Project-nya Katon Bagaskara.

Bangunan bergaya Indis ini dari jauh sudah terlihat apalagi karena ada cerbong setinggi 110 meter, menjulang menusuk langit. Sekarang, bekas pabrik gula ini menjadi museum yang canggih, dipermak gaya milenial, ada audotorium sebesar milik Inna Muara Hotel, Padang. Itu bekas gudang tebu, bisa memuat 2000-an orang.

Di sana, beberapa bagian pabrik tertanam kokoh di lantai. Lalu dipercantik. Ada lagi yang aula agak kecil untuk maksimal 700 undangan, bekas aula pengantongan gula. Orang mulai pesta pernikahan di sini dengan tarif mulai Rp39 juta. Kafe tempat kami minum tadi, ada di areal pabrik, dengan mesin-mesin yang dipakukan di lantai, seperti sejarah yang sedang bercakap-cakap dengan setiap pengunjung.

Marketing
Anak muda bergaya milenial, bernama Achmad Ridho. Berbaju putih celana hitam dengan gaya rambut spike, terlihat kece. ID card, tergantung di lehernya, dengan kantong kecil di belakangnya tempat kartu nama, telah membentuk sejarah baru. Dia Marketing Maneger Museum De-Tjolomadoe, menguasai ilmu marketing. Pria tambun ini, mengantarkan kami berkeliling. Pertama ke ruangan bekas katel, kini jadi ruang oleh-oleh. Di depan museum nan jangkung itu tertulis hurup kapital besar, “PG Tjolomadoe,Tahun 1861.

Kami yaitu saya dan kawan-kawan dari Semen Padang, Hasmeru Hasler, Ajeng Dwiutami, Rausyan Fikri dan Lilik A Sugiyanto diajak memasuki kawasan pabrik. Melewati security, begitu masuk, kita disergap, roda-roda pabrik gula dengan diameter dua kali tinggi orang dewasa. Besi-besinya bak besi pedagang Sparta, kuat. Kini, pabrik usang itu dipermak, jadi obyek wisata dalam museum yang besar.

Di dindingnya ada foto-foto sebelum dan sesudah pemugaran. Sangat lengkap, bahkan ada cetak birunya. Tak lama kami diajak lagi masuk ruangan lain, lebih detail. Perjalanan tebu dari ladang-ladang penduduk, masuk ke pabrik, diolah dan seterusnya berliku-liku. Di ruangan ini ada, pembukuan zaman lampau, ada kuitansi, ada kalkulator zaman old. Semua museum ini berisi 27 konten dan semua ada dioramanya.

Museum yang dikelola PT Sinergi Colomadu, konsorsium beberapa BUMN itu, juga menampilkan grafik produksi dan neraca keuangan zaman dulu. Hanya sekali, perusahaan turun labanya, setelahnya laba melonjak tajam. Kini masuk Stasiun Penguapan Tebu. Di ruangan panjang jangkung ini, terlihat tabung-tabung pabrik bersusun banyak diberi tiang tinggi. Di sinilah terdapat deretan kafe. Dari sana, melalui sebuah pintu kokoh, kami masuk ke ruangan bubut. Alat-alat bubut terpasang lengkap di lantai. Kini jadi kafe. Melangkah ke Stasiun Ketelan. Di sana ada besi bulat besar berlobang-lobang, namanya Ketek Tekanan Rendah, dipasang di bagian cerobong.

Tak lama kemudian Ridho pamit karena ada tamu, ia digantikan Marketing Museum, Binar Vina Indri H. Dia mengajak kami kembali memasuki aula besar, dengan deretan kursi-kursi teater dan pelantang suara yang empuk. Panggungnya luas. Di samping ruangan besar ini, ada ruangan VIP lengkap dengan kamar tidurnya.

Penat mengitari museum, kami keluar, mendongok ke atas melihat ujung cerobog yang tinggi itu. Berfoto di sana. Cerobong asap itu, sangat ikonik. Inilah satu dari 40-an pabrik gula di Jawa yang sebagian besar sudah ditutup. Cuma yang satu ini bernasib baik, karena dipermak jadi museum. Inilah ilmu marketing, bangunan tua mendatangkan uang, satu orang bayar Rp25 ribu untuk masuk. Museum dikelola dengan pendekatan, digital experient contant. Apa itu? Tanya kaum milenial. Sedangkankan parkir dikelola profesional seperti di Rumah Sakit Semen Padang.

Direvitalisasi
Dibangun pada 8 Desember 1861 oleh Mengkunegara IV, karena pasar gula kian menggiurkan, maka pada 1928, pabrik dirombak dan diperluas oleh Mangkunegara VII. Setelah kemerdekaan, pabrik diserahkan pada negara dengan berbagai perjanjian. Berjalan terus, namun pada 1979, mesin pabrik berhenti. Karyawan melangkah dengan lesu meninggalkan lokasi pabrik dan takkan kembali lagi. Sebuah sejarah berhenti berjalan. Pabrik tutup dan terlantar, nyaris tinggi semak dari gedung. Kotor, menakutkan, namun besi-besi nyaris tak ada yang hilang.

Ladang tebu di Jawa adalah kisah Taman Paksa, sedang di Minangkabau adalah ladang kopi. Ladang kopi kian merana, kian dan terus terlupakan. Pemerintah tidak lupa, maka pada 8 April 2017, Menteri BUMN Rini Soemarno meletakkan batu pertama revitalisasi pabrik gula ini. Pengelolaannya diserahkan pada PTPN 9, PP Construction &Invesment, PP Properti, TWC dan Jasamarga. Lalu? Kami pun tiba di sana saat siang, museum itu telah gagah bahkan sudah bisa disebut balik modal, meski baru mulai dikerjakan 2017. Sudah beres, tuntas. Selanjutnya tinggal menjual untuk MICE dan berbagai aktivitas.

Ketika saya keluar melawati pintu dengan lengkungan tinggi, saya tak sengaja melewati foto besar, Rini Soemarno sedang membatik. Kami terus ke halaman, melewati pintu, yang konsen temboknya sehasta lebih tebalnya. Bersusun batu bata merah direkat dengan air tebu dan bahan lain dan kabarnya dicampur pula putih telur. Dapat dimaklumi sebab pada 1861, belum ada pabrik semen di Asia Tenggara, apalagi di Hindia Belanda.

Meski begitu ketika bangunan pabrik ditambah pada 1928, maka dapat dipastikan, semennya didatangkan dari Padang yang telah dibangun pada 1910. Di bangunan “baru” itu tertulis besar-besar, Anno 1928. Kini 158 Tahun kemudian, bangunan tua itu tak berubah, malah diperancak.

Kopi di Tjolo Koffie, masih terasa nikmatnya, namun kami harus pergi. Lain kali kami datang lagi.**

News Feed