Pacu Jawi, Ilang Patuik dek Katuju

Oleh: Khairul Jasmi

Ribuan orang hadir di kawasan persawahan Ampalu, Gurun. Di bawah terik matahari dan ditepuk-tepuk angin gunung, pengunjung tak beranjak, guna menyaksilan pacu jawi, Sabtu (30/7).

Alek pacu jawi adalah kisah bahagia petani apa adanya. Sejak ratusan tahun silam, tatkala panen telah selesai dan turun ke sawah segera dimulai, saat itulah alek dimulai. Jawi atau sapi adalah teman setia petani. Hewan piaraan ini adalah juga kekayaan. Bahkan satu sapi bisa dimiliki dua sampai empat orang. “Sato sakaki,” ungkapan yang sering didengar sekarang, berasal dari komunitas peternak sapi ini. Jual beli sapi di pasar ternak yang dikenal “barosok” ditiru dari pedagang antar bangsa di Jeddah seadab atau dua abad silam. Barosok adalah tawar-menawar harga sapi dengan bersalaman dan memegang ruas-ruas jari pihak sebelah dan ditutup dengan kain sarung, agar tak diketahui pesaing.

Pacu Jawi

Pacu jawi tak ada pemenang, tak ada hadiah. Yang ada, jika jawi bisa berlari lurus dan kencang, maka harganya naik berlipat-lipat. Jawi dipacu sepasang. Selesai muncul lagi sepasang berikutnya.

“Ilang patuik dek katuju,” kata Walinagari Gurun, Hanisben. Maksudnya, jika pecandu pacu jawi sudah jatuh hati pada sepasang sapi yang mantap gagah dalam pacuan, maka mereka berusaha membeli dengan harga tinggi, bahkan sangat tinggi. Tak patut sebenarnya harga seekor sapi lokal Rp70 juta, tapi demikianlah kenyatannya.

Pacu jawi khas Tanah Datar. Di kabupaten ini, kegiatan ini hanya ada di Kecamatan Sungai Tarab, Pariangan, Rambatan dan Kecamatan Limo Kaum. Konon, dari lokasi pacu jawi mestilah tampak Gunung Marapi, legenda yang dikagumi itu.

Pacu jawi sekarang masuk menjadi kalender wisata Tanah Datar. Menurut Kabid Olagraga wisata, Dinas Pariwisata setempat, Efrison, pacu jawi di Gurun sudah berlangsung beberapa kali Sabtu dan dihadiri ribuan orang. Di lokasi ada pedagang kuliner yang berjejer dan penuh pelanggan. Juga ada arena bermain. Pada 2022 ada 10 agenda pacu jawi.

Mendunia

Agenda wisata tradisional itu mendunia berkat bidikan para fotografer. Bahkan ada foto pacu jawi yang juara dunia, seperti foto Een alias Muhammad Fadli ketika ia bekerja di Harian Singgalang.

Di arena pacu jawi Gurun Sabtu banyak fotografer yang hadir, dengan kamera sebesar dan sepanjang gaban. Di antaranya, Dirut SIG, Donny Arsal dan Direktur Operasi SIG, Yosviandri. Namun, banyak yang hadir, termasuk saya “Memoto orang, memoto pula dia. Hasilnya tak ada gang bagus.”
Maka Yosviandri bilang ke saya, “menulis sajalah, memoto biar kami.”

Matahari rebah ke barat menyapu pipi Marapi. Tangkai senja mulai terlihat. Sinar mentari menyiram sawah berjenjang yang tetap seperti itu sejak bumi ini ada. Wisata belum selesai, akan ada silek lanyah. Wisata belum selesai, di sini, di sawah berjenjang itu, warga masih ramai. Motor menyemut di parkiran. Gadis dan bujang desa sehabis mandi, berdatangan, yang lain begerak pulang. Kisah alek pacu jawi adalah cerita tentang mereka, remaja, orang tua bertopi lebar. Semua berbelanja. Uang sedang bekerja di sini, rupanya… (*)