Tak Berkategori  

Pada Sebuah Masjid

Khairul Jasmi (ist)

Khairul Jasmi

Sansai saya, tapi apa hendak dikata. Geleng-geleng kepala saja. Geleng kecil. Kalau kuat, nanti dianggap orang ratik.

Dan tak ada. Ada yang pakai masker tapi tak sampai 5 persen dari jamaah. Jaga jarak? No. Tak ada. Inilah prosesi Shalat Jumat (27/11). Saya berdoa semoga semua jemaah sehat wal afiat.

Sudah sejak Maret wabah melanda negeri, hasil survei di Sumbar menunjukkan, 40 persen rakyat di sini yakin Covid itu, konspirasi. Gawat. Sementara itu rumah sakit penuh. Gawat.

Saya layangkan pandangan di masjid ini, ternyata sedikit yang pakai masker, memasangnya di dagu. Yang jaga jarak ada di bagian belakang, tapi kemudian datang jemaah lain, duduk di sisinya.

Tikar? Ya tikar masjid terkembang. Sajadah? Sangat sedikit yang membawa. Kutbah? Biasalah. Ada soal Covid? Tidaklah.

Ini benar-benar kerumuman, di masjid. Bedanya, duduknya rapi. Rapat-rapat. Ini ibadah. Shalat mulut tak boleh ditutup. Oke, namun bawalah sajadah sendiri. Oh no. Oh tidak. Jangan khawatir  di sini tak ada Covid 19.

Menurut kajian ilmiah, di dunia, prialah yang banyak kena Covid 19. Kompas.com pada 13 Mei 2020 melansir sbb: sebuah studi baru menunjukkan pria lebih rentan terpapar virus corona penyebab Covid-19 ketimbang wanita.

Hal ini karena tingginya kandungan enzim pada darah pria yang digunakan virus untuk menginfeksi sel, sehingga membantu virus bertahan di paru-paru.

Melansir dari Science Alert, Selasa (12/5/2020), studi yang telah dipublikasikan pada 10 Mei 2020 di European Heart Journal tersebut, melakukan penelitian pada lebih dari 3.500 orang. Semua sampel merupakan pasien gagal jantung dan lanjut usia di 11 negara Eropa.

Enzim bernama Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang ditemukan pada jantung, ginjal,  paru-paru, dan organ lainnya, memiliki kaitan dengan virus corona.

Walau begitu, saya salut juga sama jemaah di sini, tak terdengar kabar ada yang kena wabah, walau tiap Jumat mereka ke sini tanpa masker. Mudah-mudahan saja.

Inilah kisah prokes alias protokol kesehatan di sebuah masjid di Padang Kota Tercinta Kujaga dan Kubela. Kota yang berbenah, kota yang punya masjid-masjid baru. Kota tanpa taman bermain anak. Inilah kota yang memiliki banyak ambulans tapi damkarnya sangenek bana. Inilah kota yang suka mengantarkan orang ke kuburan dengan ambulans dengan mobil berbagai merek. Baru atau usang, layak atau tidak. Kota yang kalau ada rumah terbakar, damkar tak ada. Inilah kota sehat tapi warga abai prokes. Inilah kota yang tiada tara. Kucinta. Aku sedih. (khairul jasmi)