Tak Berkategori  

Pagi Gempa, Malam Hujan Lebat

suasana pengusian korban gempa di kantor bupati dan rumah dinas bupati Pasaman Barat. Ribuan warga mengungsi di sini. (Andika)

SIMPANG AMPEK  – Langit berat, seperti menjuntaikan lidah badai. Menyisakan celah, untuk memandang Gunung Talamau yang longsor. 

Dan, malam pun tiba, hujan turun dengan lebatnya di Kajai, daerah paling remuk dihantam gempa. 

Hujan itu menambah ketakutan. Hujan yang sama membuat anak-anak gigil dalam peluknya sendiri. Orang tua mereka juga ketakutan untuk kembali ke rumah. 

Dalam hujan itu, para pengungsi, telah di rumah ibadah, untuk mengungsi. Juga ke tempat – tempat lain. Sebagian ke komplek bupati di Simpang Ampek, yang kala senja tenda belum berdiri juga. 

Ini malam pertama 10 ribu lebih pengungsi tidak tidur di rumahnya. Akan di luar di bawah tenda seadanya. Anak-anak, telah disediakan selimut apa adanya, namun rasa lapar didera sebagian pengungsi, sebagian lain tidak. 

Gempa menderu sejak pagi, dengan 6,1 SR terus-menerus hingga menjelang Magrib, gempa susulan terus terjadi. Benar-benar bagai di atas ayakan tepung.

Gubernur Mahyeldi pada Jumat senja telah tiba di kediaman bupati Pasbar. Setelahnya ia meluncur ke lokasi gempa paling parah: Kajai. 

Singgalang yang menyertai gubernur disambut hujan lebat. Dan listrik pun mati. Malam hitam, sehitam kuda hitam. Ini malam pertama setelah musibah. 

Cari lokasi Pengungsian

Banyak pengungsi tak tahu entah kemana. Dalam rombongan-rombongan kecil dan sporadis, mereka bergerak mencari tempat aman. Akhirnya sampai di kompleks bupati Simpang Ampek. 

Mereka mengaku harus mengungsi ke kantor bupati karena kondisi di rumahnya tidak memungkinkan untuk ditinggali. Selain karena belum adanya tenda pengungsian, masyarakat korban gempa juga mengaku belum mendapatkan makanan.

“Kami dari gempa tadi sibuk mencari tempat untuk mengungsi, rumah kami hancur rata dengan tanah,” kata salah seorang pengungsi, Et (60) yang datang ke kantor bupati dengan menumpang mobil truk.

Kepada Antara ia mengaku rombongannya yang terdiri dari orang-orang sekitar rumah sudah berkeliling mencari tempat mengungsi. Namun, akhirnya memilih mengungsi di kantor bupati karena tempat lain tidak memungkinkan.

Pengungsi lainnya Endi (28) mengatakan rumahnya di daerah Kajai Kecamatan Talamau juga rusak parah akibat gempa bumi sehingga malam ini harus mengungsi.

“Tidak bisa ditinggali lagi rumah kami, tenda juga belum ada,” ujarnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat per Jumat (25/2/2022) hingga pukul 16.30 WIB, warga yang meninggal dunia akibat bencana gempa magnitudo 6,1 di wilayah Pasaman Barat, Sumatera Barat berjumlah tujuh orang dan luka-luka 85 orang.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB menginformasikan jumlah korban meninggal teridentifikasi 3 orang di Kabupaten Pasaman Barat dan 4 di Kabupaten Kabupaten Pasaman.

Sedangkan total korban luka-luka mencapai 85 orang, dengan rincian luka berat 10 orang dan luka ringan 50 orang di Pasaman Barat, serta 25 orang di Pasaman.

Gempa juga berdampak pada pengungsian warga. Hingga kini sebanyak 5.000 warga mengungsi di 35 titik. BPBD melaporkan sebaran titik pengungsian di Kecamatan Talamau, Kecamatan Pasaman dan Kinali.

“Petugas di lapangan masih mendata warga yang mengungsi,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Jumat (25/2/2022).

Warga diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga terhadap potensi gempa susulan. BNPB meminta warga untuk tidak terpancing pada kemungkinan isu negatif yang beredar dan dapat menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

Di samping itu, pastikan terlebih dahulu kekuatan bangunan pasca gempa sebelum memasukinya kembali. (Givo, andika, rian)