Pakiah, Baguru dan Saguru

×

Pakiah, Baguru dan Saguru

Bagikan berita
Pakiah, Baguru dan Saguru
Pakiah, Baguru dan Saguru

Oleh: Duski Samad (Guru Besar UIN Imam Bonjol dan Pakiah 1973-1980)Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا كَا نَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآ فَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَـتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَ لِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْۤا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya."(QS. At-Taubah 9: Ayat 122)

Pakiah pada awalnya adalah panggilan kemuliaan yang dipakaikan oleh masyarakat terhadap orang-orang belajar agama Islam dengan cara berhalakah di Surau, disebut juga mangaji duduk, kemudian berubah menjadi Madrasah, di Sumatera Barat bernama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI).Sebutan Pakiah kemudian oleh sebahagian orang dipahami sebagai panggilan kurang baik, ketika istilah Pakiah mendapat kritikan oleh kaum pembaharu atau modernis Islam, seperti Buya Hamka dalam bukunya Ayahku, menuliskan istilah "Pakiah Saringgik" bagi anak-anak yang belajar di Surau atau di sebahagian MTI yang meminta sedekah dari rumah ke rumah untuk bekal kuliahnya.

Sebutan Pakiah bagi pelajar-pelajar muda asal surau mengaji duduk ini aslinya ditujukan untuk melatih jiwa sabar, tabah dan tawakal dalam menerima perlakuan masyarakat. Mamakiah sejatinya adalah pendidikan pembiasaan untuk membentuk sikap, prilaku dan jiwa tawadhu', walaupun kemudian ada yang menyalah gunakan sebagai meminta-minta sebagai sumber pendapatan belaka.PERAN FAQIH

Baca juga:

Istilah Pakiah di Minangkabau cukup dikenal luas masyarakat sebagai figur calon ulama yang belajar di Surau atau Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang memberikan layanan pendidikan agama awal dan ritual agama di masyarakat. Aslinya sebutan Pakiah, berasal dari Faqih diangkat dari kandungan al-Quran surat al-Tawbah, 122.Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan Islam dari pendidikan halakah, (mengaji duduk), menjadi Madrasah dan Perguruan Tinggi Islam, maka sebutan Pakiah mulai memudar, lebih lagi saat istilah Pakiah dikonotasikan kuno, dan terbelakang. Pakiah identik juga dengan Anak Siak, terakhir kini keduanya sudah berganti dengan istilah santri.

Pakiah, yang kata aslinya Faqih bagi alumni MTI dan jamaah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) adalah unsur penting, sebab Pakiah itu kader utamanya. Pakiah adalah kader ahlussunah wal jamaah sebagai penyambung estafet ulama Perti.BA GURU (BERILMU)

Tradisi Pakiah awal abad 20 dulu satu di antaranya adalah ambisi keilmuannya tinggi. Pakiah dulunya seringkali belajar ke daerah-daerah jauh kepada ulama yang mumpuni sesuai keahliannya. Tradisi belajar berpindah-pindah (rihlah ilmiah) adalah kekuatan generasi awal pelajar Islam, pakiah.Ulama Minangkabau generasi abad 20 lalu dikenal memiliki keahlian tertentu, misalnya Inyiak Candung dicari oleh Pakiah untuk mendapatkan ilmu fiqih yang menjadi spesialisasi beliau. Pakiah dari MTI Canduang sebelum tamat akan belajar pula ke Inyiak Jaho untuk belajar ilmu Nahwu dan Syaraf yang menjadi keahlian utamanya.

Jaringan intelektual ulama yang memiliki Madrasah atau Surau Mangaji duduk masa lalu terbangun karena begitulah sesama ulama mereka mengarahkan muridnya belajar kepada sahabatnya sesuai keahliannya. Hasilnya kelak sesama Pakiah mereka menjadi satu guru, walau tempat pendidikannya berbeda. Sebutan Ba Guru (artinya belajar sama guru yang ahli), ilmunya memiliki sanad dan silsilah yang sama.Semangat keilmuan dan belajar dalam waktu lama begitu kuat dalam tradisi belajar dan mengejar pada awal kemajuan Islam di ranah bundo kanduang ini adalah modal sosial lahirnya ulama-ulama mumpuni.

Adanya kemajuan yang dibawa pembaharuan pendidikan dengan adanya lembaga pendidikan Thawalib, Diniyah Putri, Mualimin dari kalangan modernis Islam, dan dari kalangan tradisionalis surau yang menyelenggarakan sistim halakah mengubah diri menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah disingkat MTI, kini masih berjalan, walau disani sini ada perubahan mendasar.SA GURU (GENEOLOGI)

Kekuatan lain yang tumbuh dari tradisi Pakiah, dan ba guru adalah terbangunnya soliditas sosial sesama murid dari guru yang sama, muncul istilah kawan sa paguruan.Ikatan satu guru atau seperguruan dalam realitasnya begitu kuat dan kemudian menjadi modal awal lahirnya organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Inyiak Canduang, Inyiak Jaho dan ulama pengasuh Surau Mangaji Duduk (halakah) kemudian mengubahnya menjadi MTI adalah ulama-ulama mumpuni dalam berbagai bidang keahlian, sesama mereka saling mengajurkan muridnya untuk belajar ke sahabat mereka.

Editor : Eriandi
Bagikan

Berita Terkait
Terkini