oleh

Pearl Harbor, Sejarah Pahit di Tengah Laut Biru

Oleh Khairul Jasmi

Selasa (7/4) seorang anak lelaki, entah dari mana, tapi hati saya berdetak dia anak Amerika, serius sekali melihat maket kapal induk bangsa itu yang pada 7 Desember 1941 luluh lantak dilanyau bom-bom Jepang. Maket itu terletak dalam USS Arizona Memorial yang dibangun di atas kapal perang yang jadi sasaran Jepang. Saya menyaksikan anak itu dekat-dekat, tapi ia tak terganggu sama-sekali.

Pada Selasa kemarin (Rabu WIB), saya sampai di Pearl Harbor agak terlambat, sekira pukul 01.00. Naik kapal kecil, melaju agak ke tengah dan sampailah penumpang kapal di museum pahit itu. museum bisu tersebut menyisakan bangkai-bangkai kapal dan di dalam museum disusun nama-nama korban, pedih mata membacanya karena terlalu banyak.

Memang pada 7 Desember 1941, armada laut Jepang mengaramkan Pearl Barbor. Serangan mendadak itu, menggetarkan Washington karena instalasi militernya di Oahu, berkeping-keping, menyisakan darah. Serangan bergelombang itu berkekuatan 253 armada. Serangan pagi itu dilakukan di bawah perintah Laksamana Madya Chuichi Nagumo. Akibatnya seluruhnya, 21 kapal armada Pasifik tenggelam atau rusak, kerugian pesawat terbang 188 musnah dan 159 rusak, Orang Amerika yang tewas 2.403, termasuk 68 orang sipil. Begitulah, pokoknya Amerika tak berkutik, mati kutu di tengah laut biru itu. Baru beberapa tahun kemudian Paman Sam bisa membelas dengan menjatuhkan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Bom jatuh, Jepang menangis dan tak lama benar kemudian Indonesia merdeka.

Saya sudah lama ingin mendatangi situs bersejarah ini, tapi karena letaknya di Hawaii, tak mungkin saya bisa ke sana. Saya puas dengan melihat film ditambah pelajaran di bangku sekolah dulu. Tapi kini saya hadir di lokasi itu, menatap laut, melihat bangkai-bangkai kapal Amerika, memperhatikan wisatawan Jepang dan Amerika yang termagu melihat situs-situs tersebut. Saya tentu tak termagu, karena sebenarnya, museum itu adalah keniscayaan sejarah. Sebelum ke tengah laut, saya menyasikan film dokumenter tragedi Amerika itu terlebuh dahulu. Baru kemudian ke lokasi duka cita tersebut.Saya melihat rombongan siswa SMA Amerika berkunjung , sembari membawa karangan bunga duka cita. Lama benar duka cita itu terpahat di hati bangsa tersebut.

Balik ke darat saya masuk museum, foto-foto tragedi dipajang, radar, serpihan kapal, baju berdarah-darah milik petugas medis serta semua hal tentang poin penting Perang Pasifik yang menyeret Amerika masuk kancah Perang Dunia II.

Selesai di sana wisatawan disambut toko souvenir. Saya tak membeli apa-apa berat tangan saya mengeluarkan pecahan 100 dolar, he he he. Tapi tiba-tiba mata saya menangkap koran yang dijual. Koran itu Honolulu Star-Bulletin, edisi Sunday 7 Desember 1941. Headlinenya, War! Oahu Bombed By Japanase Planes.

“Ini baru berita,” kata saya dalam hati. Koran ini pasti dicetak tergesa-gesa dicetak 19 halaman. Isinya total tentang Pearl Harbor. Halaman terakhir merupakan galeri foto kapal- kapal yang binasa dengan asap hitam membubung.
Ada lagi koran St Louis Star Times edisi 8 Desember 1941. “War Declared”. Koran 28 halaman ini juga banyak bercerita soal perang di di Pasifik.

Saya termagu kenapa koran 1941 masih dijual pada 2015 atau 74 tahun kemudian. Rupanya plat koran itu masih disimpan dan dicetak ulang terus menerus dalam oplah terbatas. Ini gunanya arsip bisa membawa orang masa kini ke masa lampau.

Pearl Harbor hari ini bukan lagi tentang medan perang, bukan lagi soal duka dan balas dendam. Tanah dan laut itu sekarang adalah obyek wisata yang dikunjungi puluhan juta orang setiap tahun.

Adalah bisnis mulai dari karcis tanda masuk, mainan kunci, kaos, travel, taksi, makanan, serta banyak lagi. Inilah sejarah yang brandnya sangar hebat dan akan laku dijual sepanjang masa, selaris dokter ahli kandungan, selaris kopi dan selaris apa saja yang lekas terjual.

Tentu saja saya beruntung bisa ke tengah- tengah samudera ini. Bisa menyaksikan banyak hal termasuk petunjukan tarian hula-hula polinesia.

Hawaii memang tentang bisnis, sehingga pengunjung lupa apa makanan pokok orang sini. Wisatawan tak peduli apakah di sini ada desa. Saya malah lupa Universitas Hawaii yang di sana pernah mengajar Edy Utama, Mak Katik Darizal dan Hasan. Mereka jadi dosen tamu untuk kebudayaan, randai dan saluang.

Saya juga lupa membawa kacamata hitam ke Pearl Harbor sehingga tak bisa menggaya.

Saya meninggalkan kancah perang berkecamuk zaman lampau itu, tapi turis terus datang dan datang ke sana. Tak ada buku tamu tak ada catatan apapun tentang kita yang tiba, yang ada catatan orang nan pulang. Berkisah tentang sesuatu yang hebat dan menakutkan pada masa lalu. (Bersambung)

*) bagian 3, jalan-jalan ke Amerika April 2015

Loading...

Berita Terkait