Tak Berkategori  

Pembelajaran Jarak Jauh Solusi Hadapi Pandemi

PBM dengan protokol kesehatan

PADANG – Pandemi Covid-19 membuat banyak sisi kehidupan berubah, termasuk sektor pendidikan yang terpaksa melaksanakan pendidikan secara daring yang telah berlangsung lebih dari setahun.

Kondisi ini menuai banyak keluhan baik dari siswa maupun orang tua. Banyak kalangan pun mendesak agar belajar tatap muka segera dimulai. Kita harus bangkit dari Pandemi ini.

Mencuci tangan sebelum masuk kelas

Mulai 12 Agustus lalu, pemerintah memberi sinyal memperbolehkan belajar tatap muka terbatas di daerar dengan PPKM level 3.

Hal itu pun disambut baik. Sekolah di daerah PPKM level 3 pun mulai melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) tatap muka terbatas.

Seperti di SMPN 4 Padang Panjang, yang mulai melaksanakan PBM tatap muka terbatas kapasitas 50 % sejak.
Disamping itu, untuk memaksimalkannya, PBM didukung dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) lewat siaran radio milik SMPN tersebut bernama Resfour serta Google Classroom dan Zoom Meeting.

Kepala SMPN 4 Lely Suarni, M.Pd mengatakan, PJJ dilakukan untuk menyiasati waktu PBM tatap muka yang sudah di pendekkan jam pelajarannya dari 45 menit satu jam pelajaran menjadi 30 menit, serta jadwal sekolah per shift, sehingga murid hanya memiliki tiga hari PBM di sekolah setiap minggunya.

Memakai masker

“Guru-guru siap membantu yang dirasa pembelajaran itu kurang dipahami anak,” katanya.

Terkait pembelajaran lewat radio, murid bisa mengontak guru yang sedang melakukan siaran langsung dengan jadwal pelajaran yang telah ditetapkan per tingkatan kelas dari jam 13.00 WIB-15.00 WIB.

Dikatakan Lely, siaran radio terhubung dengan livestreaming di Facebook yang bisa diulang kembali oleh murid.

“Guru setiap hari siaran di radio dengan jadwal yang telah ditetapkan. Per minggu, misalnya minggu pertama kelas 7, minggu berikutnya kelas 8 dan 9. Saat kelas tertentu menggunakan fasilitas radio, kelas lainnya memanfaatkan pembelajaran online lewat google class atau zoom meeting,” jelasnya.

Menurutnya, pembelajaran tersebut cukup memberikan dampak bagi peningkatan pengetahuan siswa meski tidak seperti saat belajar langsung di sekolah.

Guru mengajar memakai masker

Adapun sebelum melaksanakan pembelajaran terbatas, pihaknya telah melakukan persiapan terlebih dahulu.
“Persiapan terhadap prokes. Setiap lokal disediakan tempat cuci tangan dari galon, handwash, tisu, di depan kelas masing-masing. Semua wali kelas menyiapkan sebelum hari H. Pihak sekolah kemudian menjelaskan tata tertib PBM tatap muka melalui WA Group kepada wali murid,” ungkapnya.

Dijelaskannya, pembagian anak kapasitas 50 persen dibagi menjadi dua shift. “Satu kelas ada 32 murid, menjadi 15 orang satu shift. Gantian hari, sekolah tiga hari dalam seminggu. Mulai jam 7.30 WIB sampai dengan 11.50 WIB,” tuturnya.

Vaksinasi Pelajar
Selain PBM tatap muka terbatas, vaksinasi bagi pelajar pun diharapkan menjadi solusi agar PBM tatap muka dapat dilaksanakan. Seperti dilakukan di SMAN 1 Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman pekan lalu.
Sebanyak 1500 pelajar dari 7 sekolah lanjutan pertama dan atas di kabupaten itu, menjalani vaksinasi Covid19 tahap ke-2 yang dinisiasi oleh Badan Intelejen Negara (BIN).

Vaksinasi pelajar yang terpusat di SMAN 1 Batang Anai ini dilaksanakan serentak ditujuh provinsi lainnya di Tanah Air yang dihadiri secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dan diikuti secara virtual.

PBM dengan protokol kesehatan

Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Sumbar, Suwondo R. Baskoro dalam laporannya kepada Presiden menyampaikan target vaksinasi pelajar ditambah vaksinasi dari rumah ke rumah mencapai 5000 peserta.

“Jadi ini vaksinasi tahap kedua. Sebelumnya sudah kita lakukan vaksinasi pelajar yang pertama itu 1600, lalu ditambah 1700. Sekarang 1500 dan nanti ditambah dengan vaksin dari rumah ke rumah, mudah-mudahan target kita 5000 bisa tercapai,” ujar Suwondo.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi juga melaporkan kondisi terkini pandemi Covid19 di Sumbar.

“Alhamdulillah persentase tingkat kesembuhan di Sumbar sampai hari ini terus meningkat, jauh lebih besar daripada kasus aktif. Persentase vaksinasi juga bertambah seiring datangnya tambahan vaksin. Terimakasih atas bantuan Bapak Presiden untuk Sumbar,” ucap Mahyeldi.

Dalam komunikasi secara virtual dengan Presiden itu, seorang guru asal Pekanbaru, Riau, berbicara dengan gemetar menahan tangis mengungkapkan kerinduannya pada murid-muridnya dan berharap belajar tatap muka kembali diizinkan.

Menjawab harapan tersebut, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa dirinya pun berkeinginan belajar tatap muka kembali dilakukan. Menurut Presiden, vaksinasi pelajar dan displin prokes adalah syarat utama jika ingin belajar tatap muka kembali dilakukan.

“Saya juga berharap anak-anak semua segera belajar tatap muka, tapi kita harus hati-hati, jangan sampai nanti tatap muka dimulai ada yang terpapar. Ini harus dihindari. Makanya pakai masker ini harus, meskipun sudah vaksin.

Makanya vaksin pelajar ini penting. Sekarang tetap belajar daring, tapi kalau nanti sudah tatap muka, masker tetap dipakai,” jelas Jokowi. (mbeng)