Penegakkan Perda AKB Perlu Dibarengi Kecerdasan Masyarakat

×

Penegakkan Perda AKB Perlu Dibarengi Kecerdasan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Para Penyintas Bicara yang digelar Harian Singgalang, Jumat (13/11). (rahmat zikri)

“Kalau ada hasil yang terlambat di laboratorium daerah. Bisa jadi pula karena pegawai tak sebanyak di laboratorium seperti Unand. Memang kala pandemi tak boleh ada alasan seperti itu apalagi semisal libur. Namun untuk di daerah kita harus memahami jumlah pegawai terjadi tidak memungkinkan ganti shift,” ujarnya.

Untuk membuat masyarakat tidak termakan berita bohong yang mengatakan corona tidak ada dan hanya sekadar konspirasi, sangat tepat membagi pengalaman para penyintas, yakni mereka yang pernah terinfeksi corona dan berhasil sembuh. Mereka adalah saksi mata.

Pada FGD ini, tiga penyintas diberikan ruang bicara, berbagi pengalaman mereka tentang bagaimana mereka melawan covid 19 dan akhirnya berhasil sembuh. Selain apa pula pesan mereka pada masyarakat.

“Jika ada yang percaya konspirasi tentang corona tidak ada, itu berarti sangat naif sekali. Corona jelas- jelas ada. Saya pernah terinfeksi dan keluarga saya juga. Tidak mungkin 300 negara semua termakan konspirasi. Jelas corona ada,” ujar Tan Rajo, salah seorang penyintas.

Masih teringat jelas dalam pikirannya, bagaimana pengalamannnya selama satu bulan terisolasi dan tak bisa keluar rumah demi mencegah penyabaran Covid-19. “Saya beruntung tidak mengalami gejala yang berat. Hanya badan pegal-pegal saja. Namun pengalaman isolasi mandiri lebih kurang satu bulan itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Itu merupakan hal yang berat apalagi seluruh anggota keluarga juga terinfeksi,” ujarnya.

Hal serupa juga dikatakan bidan yang bertugas di Pesisir Selatan, Aswiliarti. Dia diisolasi di RSUP M. Djamil Padang selama 16 hari di ruangan yang tertutup. “Benar-benar di ruangan tertutup dan tak bisa keluar ruangan. Saya bahkan sempat dikabarkan telah meninggal dunia. Jadi percayalah corona itu ada. Jagalah diri,” ujarnya.

Dia mengatakan tidak tahu darimana tertular corona. Namun, dari pengalamannya, dia mengatakan bukan interaksi lama atau sebentar yang menjadi patokan. Melainkan memakai masker dan jaga jarak atau tidaklah yang menjadi perlindungan.

“Ini terbukti dari rekan kerja saya hanya dua orang yang tertular dari corona dari saya. Namun ada yang  sering bersama saya tapi tidak positif corona. Ini menjadi bukti memakai masker adalah hal wajib,” ujarnya.

Hal yang sama juga ditegaskan Ketua IJTI Sumbar, John Nedy Kambang. Saya ingin titip pesan untuk semua. Penyakit ini benar adanya. Saya dan ribuan orang sudah merasakan bagaimana terinfeksi virus ini. Berhentilah dengan asumsi-asumsi bahwa ini konspirasi, karena sudah banyak korban di seluruh belahan dunia,” katanya.

Jurnalis CNN Indonesia TV ini menekankan, hal yang harus dilakukan adalah menerapkan protocol kesehatan sebaik-baiknya. “Hal paling kecil tentu saja adalah menggunakan masker. Jangan sampai ikut terpapar, bahkan sampai meregang nyawa. Nanti menyesal,” katanya. (401)