Tak Berkategori  

Pengenaan Biaya Saat Transaksi di ATM Link akan Memukul Nasabah Kecil

JAKARTA – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai, kebijakan pengenaan biaya terhadap nasabah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan melakukan transaksi cek saldo dan tarik tunai di ATM LINK akan memukul nasabah yang saldonya kecil. Menurutnya, hal itu kontra dengan kebijakan pemulihan ekonomi yang menyasar masyarakat miskin sekaligus program stimulus untuk usaha ultra mikro.

Seperti diketahui, kebijakan pengenaan biaya cek saldo dan tarik/setor tunai itu akan diterapkan mulai 1 Juni 2021. Dalam pengumuman di website BNI dijelaskan bahwa nasabah yang akan melakukan transaksi tarik tunai via ATM Link akan dikenai biaya Rp5.000 dari sebelumnya Rp0 dan cek saldo via ATM Link akan dikenai biaya sebesar Rp2.500 dari sebelumnya Rp0.

“Bayangkan, mau cek saldo saja harus bayar. Sedangkan tidak semudah itu membuat nasabah yang saldonya kecil di pedesaan pakai internet banking misalnya karena akses internet belum merata,” ujar Bhima, Rabu (26/5/2021), dikutip dari okezone.com.

Bhima menyebut, akar mula kebijakan pengenaan tarif pada ATM Link bermula saat laba bank BUMN merosot tajam sepanjang tahun 2020 lalu, disamping itu beban biaya operasional masih tinggi seperti sewa gedung sampai gaji karyawan, sedangkan investasi digital butuh modal besar dengan persaingan yang makin ketat.

“Jadi mereka coba cari jalan keluar dengan biaya tambahan atm untuk tutupi kehilangan penurunan pendapatan dari kredit. Fee based income yang dikejar,” kata dia.Menurutnya, dalam rangka mencari fee based income seharusnya tidak perlu ada beban tambahan ke nasabah bank Himbara, padahal selama ini nasabah loyal salah satunya karena layanan cek saldo dan tarik tunai tanpa fee di ATM Link. Selain itu, arah pengembangan sistem pembayaran khususnya bank juga dituntut untuk memberikan efisiensi, sehingga cost bisa ditekan dan ujungnya nasabah diuntungkan.

“Pengenaan biaya ini dikhawatirkan akan membuat provider layanan di luar bank Himbara bisa mengambil pasar khususnya pemain swasta baik bank maupun non bank. Sekarang mulai berkembang aplikasi untuk memangkas berbagai biaya yang sebelumnya dikenakan oleh bank,” ujarnya.

Bhima menyarankan agar Bank Himbara untuk mencari pendapatan lain seperti mendorong kenaikan permintaan kredit, dan mencari fee based income, misalnya dari bank insurance dan pendapatan transaksi digital.

“Perlu dicatat, ini kan era digital, bank himbara harusnya lebih kreatif cari pendapatan berbasis fee, jangan hanya bermain di layanan ATM,” tuturnya. (rn/*)