Tak Berkategori  

Pengunjung Danau Maninjau Sepi, Penghasilan Anjlok Setengah

Danau Maninjau. (desrian)

LUBUK BASUNG – Meski libur lebaran tahun ini lebih panjang, pengunjung Danau Maninjau dirasakan menurun. Alhasil, pedagang makanan kecil khas Danau Maninjau merasakan penghasilan mereka turun 50 persen dibandingkan lebaran tahun lalu.

Pengakuan beberapa pedagang kaki lima di pinggir Danau Maninjau kepada Singgalang, Selasa (19/6), untuk lebaran tahun ini awan mendung sepertinya sedang menaungi mereka. Harapan menanggukan uang di waktu lebaran tidak seperti yang mereka harapkan.

“Dibandingkan tahun ini penghasilan menurun cukup jauh. Sejauh ini dirasakan penghasilan lebaran tahun ini hanya separo dari saat yang sama pada tahun lalu,” kata Eli dan Eti, pedagang kaki lima di tepi Danau Maninjau.

Menurut Eli maupun Eti ada beberapa hal yang menyebabkan minimnya penghasilan mereka tahun ini. Diantaranya, pengunjung yang dirasakan cukup jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, pengunjung Danau dirasakan cukup lengang.

“Tahun-tahun sebelumnya lebaran ketiga atau keempat, danau ini sesak oleh pengunjung. Tahun sekarang terasa sangat lengang,” ujar Eti.

Selain itu, ketiadaan salah satu komoditas asli danau tersebut, rinuak, juga dirasakan menjadi salah pemicu penurunan penghasilan tersebut. Beberapa pengunjung yang ingin belanja selalu menanyakan makanan berbahan rinuak.

“Memang kita ada menjual palai rinuak, tetapi menggunakan rinuak dari daerah Solok. Ketika mendengar itu, sebagian mereka batal belanja,” terang Eli.

Tak hanya itu, peningkatan harga bahan dasar juga memicu pengurangan penjualan. Meski memilih tidak menaikkan harga, para pedagang terpaksa mengurangi porsi pensi, atau jumlah rinuak yang ada di dalam palai.

“Terus kami harus bagaimana lagi.” Kata Eli separo bertanya.

Pendapat yang tidak jauh berbeda dikatakan, Akmal, salah satu pengunjung dari Pariaman. Menurut pria yang hampir setiap lebaran membawa keluarganya ke lokasi itu, tidak ada perubahan berarti yang ditemukan di lokasi tersebut yang akan menjadi daya tarik untuk mendatangi tempat tersebut.

“Tahun ke tahun rasanya seperti ini saja. Tidak banyak mengalami perubahan. Berharap menikmati makanan dari rinuak, tetapi sayang tidak ada lagi. Makan pensi agak enggan mengingat danau yang masih belum bersih,” ujar Akmal, sembari menambahkan kenaikan harga yang cukup signifikan seperti bada yang mencapai 50 ribu perkilonya. (Hirval)