Tak Berkategori  

Penobatan Raja Alam Minangkabau, Pisau Pesilat Membuat Tegang

Dua pesilat Putra dan Thommy saling banting pada acara penyambutan tamu, sebelum penobatan Raja Alam Minangkabau di Istano Silinduang Bulan, Pagaruyuang, Sabtu (29/9) (kj)

LAPORAN  KHAIRUL JASMI DAN BACHTIAR DANAU

Dua pesilat Putra dan Thommy saling banting pada acara penyambutan tamu, sebelum penobatan Raja Alam Minangkabau di Istano Silinduang Bulan, Pagaruyuang, Sabtu (29/9) (kj)

GULAI kobau alah masak, sambah lah sudah lo” kata ibu-ibu di dapur Istano Silinduang Bulan, Pagaruyuang sesaat sebelum penobatan Dr Farid Tayib menjadi Rajo Alam Minangkabau.

Dapur berada di belakang sayap kanan Silinduang bulan. Dari sebalik bedug, bisa dilihat ke muka suasana tamu yang datang.

Tatakala Wakil Gubernur Nasrul Abit dan Bupati Irdinansyah Tarmizi tiba, disambut dengan pencak Silek Tuo dan Harimau Minangkabau. Saat silek dimainkan, harum dari dapur meliuk ke muka. Dan dua pesilat terlatih masuk ke halaman depan. Di atas karpet merah, keduanya pun tampil.

Yusuf Putra (31) dari perguruan Ganggang Sapadi, Bukittinggi dengan guru Hendra Susanto, berhadapan dengan Thommy (33) dari silek Harimau Minangkabau dengan guru Edwal dt Rajo Gampo.

Tak lama, namun mereka main pisau, tikam, banting, dan hempas. Pencak yang membuat tegang. Setelah selesai, mereka menghilang di sudut tenda besar di halaman istano tersebut.

Di tangga istano, seorang wanita dengan langgam Minangkabau mengajak hadirin naik. Di atas rumah, tetamu sudah penuh, termasuk sejumlah raja dari Nusantara.

Raja baru dikukuhkan dalam sebuah upacara yang panjang sekitar dua jam. Setengahnya untuk petatah-petitih yang selama ini tak pernah didengar. Inilah proses penobatan raja yang sudah 200 tahun tak ada.

Hikmah
Pepatah-petitih yang dibacakan bersahut-sahutan, membuat salah seorang undangan, Buya Mas’oed Abidin mengangguk-angguk. Terasa dagingnya, sesuatu yang tak terdengar dalam pesta-pesta adat lainnya. Kata-kata adat nan indah itu disampaikan sekitar satu jam, penuh hikmah, dalam dan indah. Tambo yang dicuplik dibaca dalam dendang. Bisa jadi tambo seutuhnya dibaca seperti mantun pula.


Ahli waris Kerajaan Pagaruyuang, Prof Reno Raudah Thaib memasangkan deta kepada raja baru Farid Tayib di Pagaruyung, Sabtu (29/9). (kj)

Hikmah lain adalah, negeri ini ada raja. Tatkala dinobatkan dan disumpah oleh ahli waris Prof Puti Reno Raudah Thaib, suasana hening. Selesai dan raja baru pun hadir. Dialah Yang Dipertuan Farid Thaib.

Ini Sabtu (29/9) Minangkabau beraja baru. Raja meminta agar pemerintah bergandengan tangan dengan kerajaan demi kemaslatan Minangkabau. Acara terus berlanjut, hidangan adat di meja berkaki pendek di depan para undangan, maimbau selera, walau begitu hadirin tabah. Raja-raja Nusantara, raja dari Malaysia dan utusan pemerintah Malaysia, ketua raja-raja Nusantara duduk dengan baik. Tak ada yang gelisah.

Di halaman depan, karpet merah menutupi halaman. Sayap kanan dan kiri Istano Silinduang Bulan penuh oleh tetamu. Tak ada lagi Taufiq Thaib. Ia telah pergi selama-lamanya. Kini adiknya naik tahta.

Peristiwa hebat dalam sejarah kerajaan itu dikunci Raudah Thaib dengan membacakan Sumpah Kewi, sebuah sumpah paling tua dalan khasanah budaya dan tradisi Minangkabau.

Dalam acara itu terlihat hadir, Wagub Nasrul Abit, Ketua MUI Buya Gusrizal Gazahar, Dirut Semen Padang Yosviandri dan Direktur Keuangan perusahaan tersebut Tri Hartono Rianto. Juga pejabat Semen Padang lainnya, Amral Ahmad dan Oktoweri serta undangan lainnya.

Semua hadirin memakai pakaian adat, badeta aneka corak. Banyak karangan bunga, marawa dikibas-kibas angin. Sesiang ini Pagaruyung tak terik benar.