oleh

Perajin Atap Rumbio, Masih Eksis Hingga Kini

Silis, dengan telaten menyelesaikan pesanan pelanggannya di Simpang Kalumpang, Lubuk Buaya, Padang, Kamis (27/12). (givo alputra)

PADANG – Silis (66) perajin atap rumbio asal Rawang, Pasie Nan Tigo, Padang, masih bertahan membuat kerajinan.

Umur ibu enam anak ini sudah tak muda lagi untuk bekerja, namun masih mampu menganyam 40 lembar atap rumbio per hari.

Saat ditemui Singgalang, Kamis (27/12), Silis sedang menganyam rumbio di gubuk kecil di bawah pohon mahoni di kawasan Simpang Kalumpang, Lubuk Buaya, Padang. Perempuan itu fokus.

Seiring bertambahnya usia, ia mengakui tangan dan jari-jarinya sudah tidak cekatan seperti dulu.

Biasanya hanya perlu waktu beberapa menit untuk membuat satu lembar atap. Namun sekarang ia butuh hampir setengah jam.

Setelah selesai menganyam satu lembar atap, lalu diletakan persis di depannya, untuk dijadikan alas pada lembaran atap lainnya. Kemudian, atap rumbio itu dikeringkan.

“Saya sehari hanya sanggup mengerjakan 40 lembar atap rumbio,” ujar Silis pelan.

Kata dia, pekerjaan ini tidak dilakukan setia hari, tapi berdasarkan pesanan.

Ia sudah 20 tahun bekerja sebagai perajin atap daun rumbio itu.  Dalam sehari, ia diupah kurang lebih Rp25 ribu hingga Rp 40 ribu, tergantung banyaknya lembaran atap yang ia selesaikan.

Dengan sisa tenaga, wanita ditinggal pergi suami tiga tahun lalu itu sempat disuruh berhenti bekerja oleh anak-anaknya.Namun Silis mengaku tak tenang jika hanya bersantai duduk di rumah.

“Dari pada tidak ada kerjaan di rumah, suntuk. Kalau saya kerja juga bisa bantu,”sebutnya.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Silis biasanya diantar jemput anaknya ke tempat kerja yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari rumah.

Berbicara ramai atau tidaknya pesanan, ia mengakui usaha ini tak seramai dulu karena kebanyakan rumah telah mengunakan atap dari bahan lain.

“Walau begitu tetap banyak juga yang pesan seperti  pengusaha cafe dan rumah makan memakai konsep zaman dulu serta pondok di kebun,” ujarnya lagi.

Harga perlembar atap rumbia dijual kisaran harga Rp7.000 hingga Rp8.000. Bahan baku masih mudah dicari.

Ia menambahkan, masih banyak langanan datang, karena kualitas jahitan dan atap rumbio tahan lama dibandingkan beli di tempat lain.

“Penjualan sudah sampai ke Pekanbaru, Dharmasraya. Untuk di Padang, biasanya ke Bungus, Kuranji,” tutupnya.

Hingga Singgalang pamit, ia masih sibuk mengerjakan pekerjannya. (givo)

News Feed