oleh

Petani Sibarasok Kembangkan Kopi di Bekas Kebun Belanda

LUBUK BASUNG – Petani Kopi Sibarasok, Kecamatan Tanjung Raya, berkomitmen memajukan pertanian kopi, mulai proses pembibitan, penanaman, pemeliharaan sampai pasca panen.

Bukti keseriusannya, enam kelompok tani pembudidayaan kopi Sibarasok gelar pertemuan dengan penyuluh pertanian, penggiat kopi, camat dan tokoh masyarakat, di Jorong Koto Panjang, Tanjung Sani.

Camat Tanjung Raya, Handria Asmi, Sabtu (4/5) mengatakan, selama ini petani budidaya kopi dengan sistem tumpang sari, sehingga hasil produksinya tidak maksimal. Untuk itu, enam kelompok tani bakal mengembangkan perkebunan kopi tersebut.

“Saat ini enam kelompok tani miliki kebun kopi sekitar 60 hektare dan juga terdapat berbagai tanaman di dalamnya. Ini perlu dilakukan peremajaan dan disterilkan dari tanaman lain,” katanya.

Tokoh masyarakat bersedia membantu dalam hal mendapatkan bibit kopi unggulan.

“Kopi Sibarasok telah dikembangkan sekitar 15 tahun lalu. Bahkan sudah terkenal sampai ke provinsi lain dan mengisi pemeran-pemeran yang berhubungan dengan pertanian, “katanya .

Hal lain yang membuat Kopi Sibarasok terkenal, karena adanya situs gudang kopi yang konon ceritanya dibangun zaman Belanda sekitar 1930 silam. Hal ini dikenal dengan sebutan ameh hitam.

“Ameh hitam dari Agam, begitu paparan Bupati Indra Catri pada acara talk show dan ngopi bareng senator dengan tema kopi daerah Indonesia kopi dunia, di Jakarta beberapa waktu lalu,” kata Handria.

Intinya, sebelum Kopi Sibarasok dikembangkan, jauh sebelumnya di Sibarasok sudah ada kebun kopi. Untuk itu, camat mengharapkan bagaimana petani dapat mengembangkan kopi secara profesional. Sehingga kopi itu miliki kualitas lebih baik.

“Kita berharap suatu saat Sibarasok akan jadi agrowisata kopi. Selain miliki kebun kopi, juga didukung dengan situs gudang kopi pada zaman Belanda,”katanya . (mursyidi)

Loading...

Berita Terkait