Pileg 2019, PSI Optimis Tembus Senayan

Ketua Dewan Pembina DPP PSI, Jeffrie Geovanie memberikan sambutan dan arahan kepada para caleg PSI, Minggu (3/2). (*)

PADANG – Sebagai parpol baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) optimis meraih raihan suara pada Pileg 2019 melebihi angka 4 persen. Dengan kata lain, akan mengantarkan kader terbaiknya menuju Senayan.

“Banyak yang bilang, PSI tidak tembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 2019 sebesar empat persen, tapi menurut saudara-saudara bagaimana?” ungkap Ketua Dewan Pembina DPP PSI Jeffrie Geovanie (JG) di hadapan 600-an caleg dan kader PSI dalam acara kopi darat khusus (kopdarsus), Minggu (3/2) di Padang.

Sebagian hadirin menjawab, PSI optimis lolos.  Menurut JG, dari seluruh parpol peserta pemilu, dari empat parpol baru yang dinyatakan sah oleh KPU sebagai peserta pemilu, hanya PSI-lah yang benar-benar baru. Dibangun dan dirancang betul-betul dari titik nol. Cikal bakalnya tidak bersumber dari parpol lain yang gagal di Kemenkumham. Dilahirkan berdasarkan kesungguhan.

Kemudian, dari struktur kepengurusan dan caleg yang didaftarkan ke KPU. Persentase perempuan  paling banyak itu ada di PSI. Bisa dilihat didata KPU dan bandingkan dengan parpol lainnya.

“Kenapa kita di PSI, mengutamakan perempuan? Jawabnya sederhana saja. Karena pada dasarnya, kemauan perempuan bertarung lebih kuat dari laki-laki. Ini modal untuk meraup simpati rakyat,” tutur JG yang pernah berkiprah sebagai anggota DPR RI dan DPD RI.

Faktor lainnya, sebut JG, Caleg PSI diisi orang-orang baru dan tanpa tokoh. Bahkan pernah tokoh yang masuk PSI, terpaksa ditolak. Sebab PSI berkomitmen untuk prioritas memberikan ruang kepada anak muda, perempuan dan orang-orang baru.

Sementara itu, Dedek Prayudi dalam pidato politiknya bertemakan “Minang Menangkan Indonesia”, menuturkan, Minang adalah sejarah dan minang adalah kemenangan. Bahkan dia menilai tanpa Minang, Indonesia mungkin tidak ada.

“Kita tentu kenal sosok Tan Malaka, tokoh Minang yang mencetuskan konsep Republik Indonesia sebelum Soekarno dan Hatta. Bahkan siapa yang meyakinkan dunia internasional, bahwa Indonesia sudah merdeka? Juga orang Minang, Agus Salim,” terangnya.

Bahkan tokoh Minang yang menjadi penentu perjalanan NKRI ini. Mereka semua mendirikan, tapi perlahan-lahan mulai hilang. Kemunduran orang Minang berdampak kepada kemunduran perpolitikan di Indonesia.

“Sekarang yang dikenal hanya dua orang. Satu Fadli Zon, salah seorang pendiri Partai Bulan Bintang (PBB) yang dalam perjalanannya karir politiknya ikut mengaktori kelahiran Partai Gerindra,” sebutnya.

Lainnya adalah Jeffrie Geovanie (JG). Bahkan di mata Didik, JG adalah maestro politik di Indonesia. Melahirkan PSI sebagai partai baru, warna baru Indonesia dengan konsep berbeda denan parpol sebelumnya.

“JG tidak tampil di panggung sepertinya lazimnya sebuah parpol, tapi memberi panggung kepada anak muda dan perempuan. Perjalanan karir politik yang fenomenal dan unik, mengingatkan kita pada sejumlah tokoh Minag di pentas nasional yang unik dan aneh,” terangnya.

Dalam acara yang dihadiri juga oleh Yosmeri Yusuf (ketua dewan pembina DPW PSI Sumbar), Prof Dasman Lanin, Benny Inayatullah, Endang Tirtana, Felix Iskandar dan lainnya, ikut memberikan sambutan Ketua DPW PSI Sumbar, Ari Prima. (pepen)

 

Loading...