oleh

Pilgub Sumbar, Siapa yang Diusung Partai Gerindra?

Effendi. (*)

Oleh Effendi

Hingga penutupan pendaftaran cagub di DPD Partai Gerindra Sumbar, yang mendaftar ke partai pemenang Pemilu legislatif Sumbar 2019 ini, hanya tiga orang. Pertama mendaftar Anggota DPR sekaligus Ketua DPD Partai Demokrat Sumbar, Mulyadi. Menyusul Edriana, kader Gerindra dan terakhir Nasrul Abit, wakil gubernur yang juga Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar.

Saat Edriana mendaftar ke ‘rumah besar’-nya itu, Kamis (14/11) seperti diwartakan berbagai media, kedatangan tokoh wanita yang dekat dengan para petinggi DPP Gerindra, kurang mendapat sambutan dari pengurus. Meski begitu, wanita pengagum Ruhana Kuddus ini tetap bersemangat mencatatkan namanya di Gerindra.

Mendaftarnya Edriana ke Gerindra, ada yang menilai sebuah langkah berani seorang bundo kanduang. Tapi ada pula yang berpendapat, Edriana hanya penggembira atau parami-rami alek.

“Bisa jadi begitu dan sebaliknya,” ungkap pengamat politik dan komunikasi Unand, Najmuddin M. Rasul seperti diwartakan  klikpositif.com, 15 November 2019.

Perlu dicatat, lanjut Najmuddin, Edriana berpotensi menghancurkan hasrat bakal calon lain termasuk Nasrul Abit yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Sumbar sekaligus Wakil Gubernur. Sebab Edriana punya jaringan yang cukup kuat ke tingkat elit Gerindra.

Pendapat Najmuddin bisa-bisa jadi kenyataan. Sebab sejarah juga membuktikan. Ingat Pilgub Jawa Tengah (Jateng) 2010? Sebagai partai pemenang Pileg 2009, PDI-P ternyata tidak mengusung kadernya yang sedang menjabat sebagai Wagub Jateng, Rustriningsih.

Bahkan sebelum menjadi Wagub, Rustriningsih sukses menjadi Bupati Kebumen selama dua periode. Saat songsong Pilgub, nama Rustriningsih juga harum. PDI-P memutuskan kadernya yang lain yaitu Ganjar Pranowo. Pilihan DPP PDI-P tepat. DPP PDI-P memilih Ganjar ketimbang Rustriningsih, pasti sudah dipertimbangkan masak-masak. Cara melihat DPP ternyata lebih komprehensif.

Selain Edriana, sosok Mulyadi bisa pula ditetapkan DPP Partai Gerindra sebagai cagub Sumbar. Dia  mendaftarkan diri sebagai cagub di Partai Gerindra Sumbar, Senin (11/11). Langkah berani anggota DPR itu, direspon banyak pihak. Apalagi hampir semua media baik cetak maupun online  lokal, memberitakannya.

Juga tersebar di berbagai media sosial. Komentar publik,bermacam-macam pula. Ada yang mendukung sekaligus menyatakan salut dengan anggota Komisi III DPR ini, tetapi ada pula yang menilai, langkah Mulyadi tersebut sia-sia. Dianggap perhitungan politiknya kurang matang. Ya, wajarlah pro dan kontra muncul. Itu dinamika berpolitik.

Mulyadi sepertinya juga sudah menyatakan siap menatap Pilkada 2020. Dari syarat minimal persyaratan pencalonan sebagai kepala daerah, sebetulnya Mulyadi sudah memenuhi syarat. Partai Demokrat sukses meraih 10 kursi di DPRD Sumbar. Ini ditambah dukungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kepada Mulyadi. PPP meraih 4 kursi di DPRD Sumbar.

Ketua DPW PPP Sumbar, H. Hariadi seperti diwartakan Singgalang edisi Kamis (14/11) menegaskan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendukung sekaligus mengusung Anggota DPR Mulyadi sebagai Calon Gubernur Sumbar pada  Pilkada serentak 2020.

“PPP bukan sekadar mendukung saja, tetapi sesuai arahan DPP dan juga didiskusikan, agar dalam  Pilkada serentak 2020, benar-benar mengusung figur yang sudah jelas rekam jejaknya dan berkontribusi terhadap kemajuan Sumbar,” kata Hariadi.

Koalisi dua parpol ini, melebihi syarat minimal pencalonan sebagai kepaa daerah. Syarat minimal adalah 13 kursi dari total 65 kursi di DPRD Sumbar atau 20 persen. Dengan kata lain, dari sisi persyaratan parpol yang mengusung menuju Pilkada 2020, Mulyadi boleh dikatakan sudah terpenuhi.

Lantas kenapa pula Mulyadi ikut mendaftar ke Partai Gerindra Sumbar sebagai Cagub? Padahal di Partai Gerindra sendiri ada sosok Nasrul Abit yang menjadi orang nomor satu di partai besutan Prabowo Subianto itu.

Penggagas dan pengawal anggaran pembangunan Fly Over Kelok 9 ini menyebutkan, tentunya dia sebagai cagub yang diusung Partai Demokrat alangkah baiknya juga menjalin silaturahmi dengan partai lain yakni Partai Gerindra yang notabane partai pemenang Pemilu di Sumbar. Dia juga tak riskan, meski Gerindra disebut sudah memiliki calon internal sendiri.

“Dalam politik itu semakin banyak kawan semakin baik.Alhamdulillah saya datang hari ini dan saya menjadi orang pertama yang datang sebagai bakal calon Gubernur yang mendaftar di partai Gerindra. Bahkan dari partai Gerindra sendiri belum ada yang mendaftar untuk calon Gubernur. Insya Allah, Partai Gerindra bisa memberikan apresiasi dan kesempatan kepada saya,” ujarnya kepada awak media usai mendaftar.

Meski Partai Gerindra disebut-sebut sudah punya kader yang akan diusung, Mulyadi tak patah arang. Kematangannya dalam dunia politik tak perlu diragukan, sehingga tiga kali dipilih sebagai wakil rakyat. Dia meyakini, dalam politik tak ada yang tak mungkin. “Kata kuncinya tidak ada yang tidak mungkin dalam berpolitik, bisa saja kita didukung oleh Partai Gerindra dan partai lainnya,” sebut Mulyadi.

Benar, dalam berpolitik tidak ada yang tidak mungkin. Contoh sudah ada. Selain Pilgub Jateng 2010, juga Pilgub Sumatera Utara 2018. Siapa menduga, Ketua DPW Partai NasDem Sumatera Utara, Tengku Erry Nuradi tidak diusung Partai NasDem. Padahal Tengku Erry Nuradi, ketika itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Incumbent tulen. DPP Partai NasDem lebih memilih Edy Rahmayadi.

Putusan DPP Partai NasDem tepat. Paslon yang diusung menang. Pertanda putusan yang diambil DPP lebih komprehensif, lebih objektif dan disigi pula di segala lini. Saat Edy Rahmayadi mendaftar sebagai cagub di Partai NasDem, juga muncul anggapan, langkah Edy sia-sia dan perhitungan politiknya kurang matang. Sebab NasDem sudah memiliki kader yang akan diusung. Ketua partai sekaligus incumbent.

Kita yakin, tak hanya DPP Partai NasDem dan DPP PDI-P, parpol lain termasuk DPP Partai Gerindra dalam menentukan pilihan akhir, pasti juga melihatnya lebih komprehensif, lebih objektif dan disigi betul di semua lini. Yang terbaik dari yang baik itulah yang ditetapkan.

Masih segar dalam ingatan kita, saat penentuan akhir, Ketua DPRD baik provinsi maupun DPRD kabupaten/kota se-Sumbar yang mayoritas adalah kader Partai Gerindra. Di DPRD Sumbar diperkirakan yang menjadi ketua adalah Desrio Putra. Secara struktural, dia adalah Sekretaris DPW Partai Gerindra Sumbar. Juga aktivis dan kerap membela rakyat kecil lewat organisasi kemasyarakatannya. Berpengalaman dalam berorganisasi.

Tapi itu saja tak cukup. DPP Partai Gerindra lebih melihat secara komprehensif, lebih objektif dan semua sisi positif dan negatif dari kandidat yang diusulkan, disigi. Akhirnya ditetapkan Supardi sebagai Ketua DPRD Sumbar.

Juga di DPRD Padang Pariaman. Ketua DPC Partai Gerindra setempat, Happy Neldy tidak ditunjuk DPP sebagai Ketua DPRD. Padahal, soal jam terbang, sudah tinggi. Sudah periode keempat, Happy duduk di DPRD setempat, meski dua periode sebelumnya dengan parpol beda.

Tapi lagi-lagi, DPP melihatnya lebih komprehensif dan juga disigi plus minus kandidat yang diajukan hingga DPP menetapkan nama Arwinsyah.

Tetangganya, di DPRD Pariaman juga demikian. Harpen Agus Bulyandi, yang ditunjuk menjadi Ketua DPRD sementara, akhirnya urung jadi Ketua DPRD definitif. DPP lebih memilih kader Gerindra lain, Fitri Nora. Padahal Harpen Agus Bulyandi yang akrab disapa Andi Cover ini, adalah pengusaha sukses di Pariaman. Berdaging tebal dia. Modal baginya untuk bisa menggapai kursi Ketua DPRD defintif. Tapi lagi-lagi DPP lebih melihat secara komprehensif dan plus minus kandidat yang diusulkan, disigi utuh.

Ya, politik sukar ditebak. Dalam berpolitik, tidak ada yang tak mungkin. Wajar jika pengamat politik dan komunikasi dari Unand, Najmuddin M. Rasul seperti dikutip dari klikpositif.com, menilai Mulyadi berpotensi menggeser Nasrul Abit dari bakal calon gubernur dari Gerindra pada Pilgub Sumbar 2020.

Alasannya, pertama, keputusan pencalonan ada pada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) ditambah lagi Gerindra merupakan partai keputusan tertinggi ada pada Ketua Umum Prabowo Subianto.

“Bisa saja terjadi, bahkan bisa terjadi Nasrul Abit mendampingi Mulyadi, sebab dalam politik apapun bisa terjadi. Apalagi kalau kita lihat keputusan di Gerindra sangat top down,” jelasnya.

Alasan lain, lanjutnya, sebagai anggota DPR, Mulyadi tentu punya akses yang bagus ditingkat elit (pusat). Kemudian dari segi kapasitas diri Mulyadi juga cukup baik. Nah, siapa yang bakal diusung Partai Gerindra Sumbar sebagai cagub? Edriana, Nasrul Abit atau Mulyadi? Tanyakan pada rumput yang bergoyang. (*)

Loading...

Berita Terkait