HeadlineOpini

PKL Tanpa Tenda

×

PKL Tanpa Tenda

Sebarkan artikel ini

Oleh Miko Kamal

Pedagang Kaki Lima (PKL) penting. Banyak yang menyebut begitu. Bahkan sering disebut-sebut sebagai tulang punggung perekonomian, baik daerah maupun nasional. Sektor ekonomi yang tahan banting. Di masa sulit, yang lain sudah pingsan, PKL tetap berdiri tegap.

Dalam pidato-pidato pejabat pemerintahan, aktivitas PKL sering disebut sebagai “kawah candradimuka” para calon pebisnis. Maksudnya, PKL adalah profesi sementara: langkah pertama untuk segera menjadi pebisnis besar dan tangguh.

Itu lebih ke ota saja. Jual kecap. Status PKL serupa diabadikan. Tidak ada pembinaan yang berarti. Upaya menaikkan kelas PKL nyaris tidak pernah dilakukan. Kalaupun ada, formalitas saja. Sekadar menghabiskan anggaran yang sudah teralokasikan di buku tebal dokumen anggaran. Kenyataannya, banyak PKL yang dari muda sampai tua tetap saja berstatus sama. Kalaupun ada PKL yang sukses menjadi pebisnis besar yang ulet, bukan karena lekat tangan pemerintah.

Selama ini, saya tidak melihat pembinaan serius dari pemerintah terhadap PKL. Bagaimana seharusnya menjadi PKL yang baik: PKL yang tidak menggangu hak orang lain dan tidak mencoreng estetika kota. PKL dibiarkan berjualan seenaknya di atas fasilitas umum serupa bahu jalan, trotoar dan jembatan rancak.

Tidak itu saja. PKL juga bebas mendirikan tenda-tenda mereka yang dilengkapi terpal plastik berwarna biru, hijau atau oranye. Tenda yang tidak tahan lama. Paling juga 3 bulan atau paling lama 6 bulan. Setelah itu, tenda-tenda itu akan terai: warnanya pudar dan sobek di sana-sini.

Sudah masanya kita serius membina PKL. Pertama, membina mereka agar kelak benar-benar bisa menjadi pengusaha besar dan kuat. Yang kedua, membina mereka agar ketika berjualan tidak mengganggu keindahan kota.

Soal yang terakhir (tidak mengganggu keindahan kota), saya mengusulkan PKL tanpa tenda. Semua PKL yang berjualan tidak diizinkan memakai tenda. Langit saja atap area berjualan mereka.