oleh

Politik Pilih-memilih

 

Oleh Khairul Jasmi 

Politik pilih-memilih adalah pesta demokrasi menuju kemenangan. Dalam pesta ini terlalu banyak yang mesti disingkirkan, hanya untuk berdiri di puncak yang sempit. Berbiaya mahal di tengah keluh-kesah pendapatan yang rendah. Di tengah tingkat korupsi yang membuat perih. Tatkala Jiwasraya dan Asabri yang aduhai itu.

Jalan menolak demokrasi adalah jalan sepi, yang diicemooh dan dianggap enteng. Jalan demokrasi, justru disukai karena itu suara rakyat banget. Di jalur demokrasi itu tipu-tepok terus dipraktikkan, permainan yang “menakjubkan” seperti tempo hari Ketua Mahkamah Konstituti, Akil Mochtar yang memainkan pedang hukumnya. Terakhir dari KPU, Wahyu Setiawan. Belum lagi sederatan panjang nama kepala daerah yang kena belenggu tangannya, lalu masuk kandang situmbin.

Demokrasi bak petani turun ke sawah serentak, meriah bukan main. Ketika mau panen (raya) demokrasi, buah hampa untuk rakyat, kusut masai untuk pengamat, caci-maki untuk siapa saja, hasil panen untuk pemenang demokrasi yang tersebar di seluruh Nusantara.

Di negeri kita demokrasi yang coba-coba, dengan biaya tak terhingga, ternyata, membuat buah masak secara dikarbit. Inilah tontonan paling hebat yang pernah disuguhkan untuk rakyat, minimal sejak reformasi.

Apa gunanya menangisi semua itu, jika demokrasi sudah melaju kencang, melewati stasiun demi stasiun. Dan sebentar lagi, pesta demokrasi serentak akan dilaksanakan di Sumatera Barat. Yang paling hangat untuk pilgub. Secara pribadi saya ingin memilih menteri sekaligus, mendapatkan pemimpin pula sekaligus. Sayang, pilgub bukan keinginan pribadi, melainkan keinginan rakyat yang diakumulasi dengan angka-angka.

Untuk mendapatkan angka-angka itulah diperlukan banyak biaya. Untuk itu pula banyak orang mesti disingkirkan. Bagi hal yang sama, jalan mesti lapang menuju puncak. Puncak yang sempit, tempat berdiri gagah dan melambai ke segala arah.

Pada saatnya yang dilambai akan datang, membawa apa saja. Apa saja itu antara lain, meminta Anda sang pemenang merogoh kocek. Kocek sendiri atau dari APBD.

Lalu apa itu politik dan demokrasi? Tak lain salah satu perkakas yang ditugaskan oleh uang untuk kejayaan uang. Anda yang menang juga bertungkus-lumus untuk uang, dari sudut manapun Anda berangkat. Demokrasi telah kembali ke rumahnya, hukum kembali ke tiang-tiang jangkungnya, para simpatisan dan pemilih sudah terbenam dalam kesehariannya. Sang pemimpin akan sepi sendiri, memikul beban berat di pundaknya yang sakit.

Ketika itulah, pemimpin tidak suka pers yang kerjanya mengeritik terus. Mengusik saja. Datang dengan demokrasi, sendirian di puncak kekuasaan, diganggu oleh pers sebagai pilar demokrasi. Ini malah tak disukai.

Politik pilih-memilih yang mahal itu, yang melahirkan banyak residu itu, bukan untuk dijadikan kandang besi, tapi untuk direcoki setiap hari, sama halnya seperti bapak sang pemimpin setiap hari memetik buah masak di batang. Karambia randah, buah lebat, tumbuh di halaman, buah bisa dijangkau saja, kapan mau dipetik, terserah. Hasil demokrasi sering membuahkan kemewahan juga bisa lupa diri. Setiap kemewahan, mudah menghanyutkan. Jika hanyut, maka ketika itulah, pedang hukum yang bersandar di tiang jangkung tadi akan bergerak.

Lalu sekarang, siapa mau jadi gubernur, yang sebagian orang menuntut pertumbuhan ekonomi 7 persen, bukan ceramah, bukan pidato, bukan ota. Apapun, semua akan lumpuh karena gubernur yang akan terpilih pasti yang popularitas dan elektabilitasnya tinggi. Ketika itulah kita sadar, demokrasi hanyalah angka-angka. Angka apa saja. (*)

Loading...

Berita Terkait