Tak Berkategori  

Polres Padang Pariaman Lakukan Rekonstruksi Kasus Pengeroyokan Terhadap Pengusaha CCTV

Suasana rekonstruksi kasus pengeroyokan pengusaha CCTV di Guguak, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Senin (7/6). (Ist)

PADANG PARIAMAN – Kepolisian dari Polres Padang Pariaman melakukan sekitar 30 adegan untuk memecahkan kasus pengeroyokan dan main hakim sendiri terhadap pengusaha CCTV dan rekannya yang terjadi di Nagari Guguk, Kayu Tanam, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung pada Maret 2021. Rekontruktsi dilakukan pada empat Tempat Kejadian Perkara (TKP), Senin (7/6/2021).

Menurut Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, AKP Ardiandyah Rolindo Saputra di lokasi. dalam adegan reka ulang kejadian, terdapat 30 adegan yang diperagakan oleh para pelaku terhadap dua orang korbannya. Seperti diketahui, pengeroyokan tersebut mengakibatkan pengusaha CCTV di Bukittinggi, Riki Arinoverizal (38) meninggal dunia dan rekannya Muhammad Syahri (33) luka berat.

Dikatakan, saat rekonstruksi, ada adegan yang tidak diakui oleh tersangka, tapi akhirnya terungkap karena salah satu korban selamat hadir di lokasi. Saksi-saksi juga telah membenarkan tentang kejadian tersebut.

Rekonstruksi dimulai dari penghadangan mobil korban oleh tersangka, lalu teriakan maling terhadap korban hingga akhirnya terjadi pengeroyokan. Di lokasi akhir, yaitu di Nagari Guguk, korban dikeroyok oleh massa hingga salah satu dari dua korban meninggal dunia. Jarak antara lokasi adegan pertama hingga akhir sekitar tujuh kilometer.

AKP Ardiandyah menyampaikan, tujuan rekontruksi adalah untuk mengetahui alur kejadian sebenarnya yang menyebabkan satu korban jiwa dan satu luka parah.

HIngga saat ini, polisi telah menetapkan 11 tersangka dalam kejadian itu. Satu di antaranya masih anak-anak dan berkasnya sudah P21.

“Dari 11 orang itu, enam sudah kita amankan dan sisanya masih DPO. Para DPO masih kita buru dan pastikan keberadaannya,” katanya.

Sementara itu, salah seorang keluarga korban, Lola Arinoverizal menilai, rekontruksi sudah berjalan cukup baik walaupun belum begitu maksimal karena beberapa adegan yang dilakukan oleh peran pengganti.

Ia berharap, pihak kepolisian bisa menangkap semua pelaku yang saat ini masih DPO agar mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia juga minta polisi mengungkap dalang kejadian, yaitu orang atau pengendara motor yang menjadi provokator dan meneriakkan maling terhadap korban. Apalagi, ada barang bukti berupa video yang sebelumnya banyak beredar.

Lola khawatir, jika kasus itu tak terungkap tuntas, hal yang sama bisa saja terjadi pada orang lain di jalanan. Ia berharap kejadian itu menjadi yang terakhir terjadi di Sumbar.

“Saya yakin dengan teknologi yang canggih saat ini polisi akan bisa menangkap semua pelaku,” katanya.

Sementara, korban Muhammad Syahri (33) yang hadir pada reka adegan tersebut juga agak kurang puas karena saat rekonstruksi menggunakan peran pengganti.

“Berdasarkan alur cerita tadi sudah oke, tapi pihak polisi bilang kalau tersangka yang masuk DPO tertangkap dan ada aksi yang tidak ada pada rekonstruksi tadi, maka akan dilakukan rekonstruksi ulang,” tambahnya.

Diketahui sebelumnya, aksi main hakim sendiri itu berawal dari sorakan maling yang dilakukan orang tak dikenal terhadap korban Riki (alm) dan Muhammad Syahri. Kedua korban dalam perjalanan menuju Kota Bukittinggi dari Padang mengunakan minibus Toyota Avanza BA 1148 LH.

Minibus yang dikemudikan korban Riki, sekira pukul 21.00 WIB, tepatnya di salah satu warung penyiaram di Korong Titian Panjang, Kayu Tanam, bersinggungan dengan sebuah pengendara motor. Korban sempat memberhentikan mobilnya untuk menyelesaikan persoalan. Namun, pengendara motor malah menyerang dengan meninju korban Riki hingga wajahnya berdarah. Korban Riki lalu meminta persoalan itu diselesaikan di kantor polisi terdekat.

Namun, begitu korban membawa mobilnya, korban malah diteriaki maling hingga menarik perhatian massa sekitar. Karena panik, korban memacu kendaraannya sampai mobil korban menabrak pembatas jalan hingga mengalami rusak parah di Nagari Guguk.

Karena provokasi teriakan maling tersebut, korban dikeroyok massa tanpa ampun. Korban Riki akhirnya meninggal dunia saat dirujuk ke RSUP M Djamil Padang setelah sempat dibawa ke RSUD Padang Pariaman. Sedangkan temannya Syahri mengalami luka parah hingga trauma. Ironisnya, korban diteriaki maling, tapi sejumlah barang korban malah dijarah, termasuk handphone korban. (darmansyah/rn)