Opini  

Prasangka Buruk Bisa Membunuh, Prasangka Baik Itulah yang Elok

Gamawan Fauzi (antara)

SEWAKTU belajar di Sekolah Dasar awal tahun tujuh puluh, saya membaca sebuah kisah pendek.

Di pagi hari yang dingin, sepasang suami istri yang hidup di kaki bukit hendak berangkat ke kebunnya yang tak terlalu jauh dari rumahnya yang sederhana. Dia mempunyai seorang bayi yang tak mungkin dibawa ke kebun, khawatir kesehatan anaknya tersebut, karena cuaca sulit di łebak.

Dengan hati was was, akhirnya sang bayi ditinggalkan di rumah dengan seekor anjing peliharaannya. Dia berharap anjing iłu dapat menjaga anaknya dari berbagai hal yang membahayakan sang anak. Setelah sang bayi terlelap sehabis disusui, mereka berangkat menuju kebun.

Setelah sejenak bekerja, mereka istirahat mengurangi rasa letih sambil melahap sedikit makanan dan minuman yang dibawa dari rumahnya. Saat iłu muncul ingatan dan kekhawatiran dari sang istri, jangan jangan bayi yang ditinggal di rumah sendiri iłu dimakan serigala atau bahkan dimakan oleh anjingnya sendiri. Makin lama dia makin khawatir, dadanya gemuruh dan hatinya sangat cemas.

Kerinduannya hatinya itu kemudian disampaikan kepada sang suami. Suaminya pun akhirnya punya kekhawatiran yang sama. Dan mereka pun bergegas pulang ke rumah

Setelah dekat dari rumahnya, dia melihat anjing peliharaannya berlumur darah dan duduk di depan pintu. Darah sang suami bergemuruh, benar katanya dalam hati, anjing nya sudah melahap sang bayi sang buah hati. Ini anjing laknat, kurang ajar, pikirnya. Setelah dekat dengan anjing tersebut, maka sangat berang, diayunkan golok tajamnya yang ada di tangannya ke leher sang anjing itu hingga anjing tersebut tewas seketika .

Setelah itu, pasangan petani tersebut bergegas melihat anaknya. Tapi ternyata, sang bayi masih tidur dengan lelapnya.

Di bawah ranjang, darah berserakan dan mereka menemukan bangkai ular yang yang tercabik cabik karena dibunuh anjing peliharaannya.

Pasangan petani itu menangis meraung raung karena dia membunuh anjing yang menyelamatkan anaknya dari patukan ular. Lalu dia membayangkan kembali ketika sang anjing berkumur darah itu duduk lelah di depan Pintu rumahnya. Mungkin saja saat itu dia sudah di patok ular, bisanya sedang mengalir di sekujur tubuh, dia menunggu kematian juga…

Dia sangat menyesal karena dia keliru, salah dan khilaf, betapa dia justeru mengeksekusi dengan bengis sosok pahlawan dan penyelamat anaknya. tapi semua sudah terlambat. Penyesalan tak berarti apa apa. Darah sudah tertumpah, nyawa sudah melayang, yang pergi tak mungkin kembali.

Saat masih kecil, saya membaca banyak buku cerita, seperti cerita Pelarian Dari Digul, Liliput Dalam Lobak, Pistol si Mancil, Serigala Emas, Lima sekawan dan sejumlah cerita Lainnya dalam buku Matahari Terbit.

Tapi kisah sepasang petani tadi hingga kini masih saja membekas dalam hati saya. Rupanya benar kata Leonardo Da Vinci, bahwa Air mata tidak keluar dari otak, tapi muncul dari hati , sehingga hati sulit melupakan bila dia tergores.

Dalam kehidupan manusia, kesalah kesalah semacam ini amat sering terjadi. Dan saya kira akan terus saja terjadi, karena dalam Alquran Allah mentakdirkan manusia sebagai makhluk yang lalai dan sekaligus tergesa gesa.

Kedua sifat itulah yang amat memungkinkan kisah seorang petani tersebut atau semacamnya akan berulang.

Tahun 70 an, ada sebuah berita hukum yang menggemparkan negeri ini. Yaitu tentang dua orang anak manusia bernama Sengkon dan Karta. Mereka divonis hukuman mati oleh pengadilan, setelah melalui proses hukum yang panjang sejak tingkat kepolisian, kejaksaan dan hingga Vonis yang Mulia para hakim karena dituduh melakukan pembunuhan berencana. Setelah beberapa masa menjalani hukuman dan menunggu eksekusi hukuman mati, tiba tiba mendung di langit bersibak, cahaya kebenaran muncul dari sang Khalik, ternyata pembunuh itu bukanlah mereka, melainkan ada sosok lain yang melakukannya.

Tapi sengkon dan Karta terlanjur rusak nama baiknya dan telah merasakan dinginnya penjara dalam rentang waktu tertentu. Cukupkah kata maaf atau ganti rugi untuk semua kekeliruan itu ? Hanya mereka berdua yang mampu menjawab.

Beberapa bulan lalu, saya membaca sebuah berita duka, sekaligus geli dan heran . Seorang laki laki, menggadaikan istrinya beberapa juta rupiah kepada seseorang yang berpunya di sebuah desa, karena dia memerlukan sejumlah uang. Saat dia akan menebus isterinya, laki laki tempat dia menggadaikan isterinya itu tak mau menerima tebusan tersebut. Sang penggadai marah. Di subuh hari yang gelap, dia menyeruak ke rumah laki laki yang hidup bersama istrinya, tiba tiba dia melihat sosok laki laki turun dari rumah tersebut. Dia berpikir, inilah saatnya, lalu di tebasnya laki laki dengan sebilah parang hingga meninggal seketika. Tapi ternyata kemudian diketahui bahwa sosok yang tewas itu adalah laki laki lain, bukan laki laki tempat dia menggadaikan isterinya.

Cerita sepasang petani dan dua kisah ( true story) itu, adalah secuil kecil diantara peristiwa kekeliruan atau kelalaian manusia.

Dalam hidup, sering dijumpai korban akibat keliru, salah sangka, dan lalai. Korban bisa berupa fisik, tapi juga bisa berupa non fisik.

Istri Rasulullah, Aisyah ra pernah pula difitnah berselingkuh gara gara tertinggal di malam hari dari rombongan sepulang dari peperangan dan kebetulan diselamatkan seorang pemuda yang bernama Sofwan , yang lewat di belakang Aisyah.

Beliau kemudian digunjingkan dan difitnah habis habisan, berbagai praduga muncul, berbagai ulasan tambah tambuahnya juga berkembang pesat, hingga Rasulullah sampai menyingkir sejenak dari rumah beliau, hingga akhirnya turun wahyu sebagaimana di jumpai dalam surat An Nur ayat 1 1 sd 20 yang menjelaskan bahwa semua itu berita bohong dan Allah murka kepada orang yang membuat buat berita bohong dan menyebarkannya dengan niat agar orang lain mengetahuinya.

Banyak korban sia sia akibat kelalaian atau memang kesengajaan manusia, tapi tidak semua menyesalinya, kalaupun ada, amat sedikit dijumpai kata maaf, dan kalaupun ada kata maaf, semuanya takkan mungkin mengembalikannya kepada keadaan semula.

Sepertinya dunia takkan pernah sepi dari semua itu. Ada yang zalim dan ada yang terzalimi, ada baik dan ada yang buruk, ada yang salah dan ada yang benar, ada yang bohong dan ada korban kebohongan, ada yang jahat, ada korban kejahatan, ada yang sengsara dan ada yang menari nari diatasnya, ada yang zalim dan ada yang terzalimi, ada yang memfitnah dan ada yang difitnah dan di ghibah, dan banyak bentuk ada ada lainnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan dalam panggung sandiwara/ drama dunia yang panjang itu adalah tentang peran. Tuhan sudah membuat aturan, rambu rambu, ancaman dan sanksi di dunia dan sesudahnya ( akhirat ) untuk setiap peran itu.

Manusia diberi kebebasan memilihnya.

Tuhan juga sudah mengingatkan hambanya saat Kakek kita Adam dan nenek kita Hawa dikeluarkan dari surga karena termakan rayuan iblis sehingga melanggar aturan yang sudah ditetapkan Allah. Hal itu dapat dijumpai dalam Kitabullah, QS2 ayat 36,… Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula. Dan kami berfirman ” Turunlah kamu ! ! , sebagian kamu menjadi musuh bagi yang Iain, dan bagi kamu, ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.

Menyambut memperingati tahun baru hijriah, mudah mudahan ada semangat baru untuk bermuhasabah, mengukur ukur diri, bukan mengukur orang Lain menjelang kita semua “pulang” agar kehidupan sosial makin sejuk dan Damai. Bukan seperti sekarang, ketika Hoax merajalela.

Padang, 7 Juli 2022

Selamat Idul Adha 1443 H.

Gamawan Fauzi