Tak Berkategori  

PSBB DKI: Jangan Takut Pantat Dipentung Rotan

Catatan : Ilham Bintang

INI satu lagi bahan tontotan untuk meningkatkan immunitas di musim pandemi Corona. Adegan itu lucu, beredar dalam bentuk video sejak seminggu lalu di seluruh WAG. Adegan polisi India bersenjata pentungan rotan. Di India, yang kedapatan berkeliaran di luar rumah di masa lockdown langsung diganjar dipentung rotan pantatnya.

Video yang beredar beragam versi. Tapi peristiwanya sama: tentang aksi polisi yang memergoki warga melanggar aturan lockdown. Di mana- mana.

Kita bisa melihat bagaimana reaksi warga yang kepergok, wajahnya pucat pasi. Tidak ada dialog. Polisi tidak perlu memberi penjelasan. Pentungan rotan langsung diayun melecut bokong yang kepergok. Polisi menganggap semua warga sudah dianggap paham aturan lockdown di seluruh wilayah India sejak 24 Maret 2020. Tidak ada waktu berdebat.

Kontras dengan suasana di Tanah Air kita waktu yang sama. Pemerintah memang sudah menetapkan masa social distancing jauh sebelum India, sejak 15 Maret. Dua minggu setelah di Jakarta ditemukan dua pasien positif Corona.

Gubernur DKI Anies Baswedan mengumumkan pertama kali social distancing 15 Maret di wilayah Jakarta. Sekolah ditutup, murid diminta belajar dari rumah. Pekerja kantoran pun diminta bekerja dari rumah saja. Begitu juga kegiatan ibadah, diminta dilakukan di rumah. Presiden Jokowi berkali-kali tampil di depan layar televisi memperkuat itu. Namun, semua itu hanya bersifat anjuran, imbauan. Sekian lama. Tidak disertai dengan aturan hukum yang jika jika dilanggar warga dapat sanksi. Seperti di India itu : rotan menggebuk bokong.

Menjajah NKRI
Akibatnya, seperti kita sudah tahu semua: tidak direspon warga. Penerbangan dari dan ke luar negeri kurun itu, tetap beroperasi. Angkutan umum tetap sesak penumpang, mudik jalan terus. Gubernur DKI Jakarta malah didemo ketika mengurangi angkutan untuk mendukung program pembatasan sosial di DKI. Kita baru panik, kurang dua minggu setelah social distancing, ternyata virus Corona sudah menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Corona dalam waktu relatif singkat sudah “menjajah” NKRI.

Masa mengaji
Rotan mungkin sudah lama lepas dari memori kita sebagai alat efektif untuk taat aturan. Saya sendiri ingat dulu rotan itu menjadi senjata guru ngaji waktu mengaji di masa kecil. Maka, kita seperti sepakat adegan -adegan polisi India kita anggap jadul, zaman baheula, zaman penjajahan. Kita tanggapi sebagai lelucon semata. Lumayan lah bisa melepas ketegangan dan kecemasan. Ini bisa dilihat bagaimana respons masyarakat dalam bentuk meme di WAG – WAG, berhari hari. Saya sempat tanya DR AS Kobalen, turunan India, yang kebetulan menjadi tetangga. “Benar, itu polisi India. Senjatanya pentungan. Polisi itu juga disetai SOP, tidak boleh memukul bagian badan, hanya bagian pantat ke bawah,” jelasnya.

Ada satu meme yang merespons aksi polisi India itu bikin saya sampai ketawa terpingkal- pingkal. Lucu sekali. Isinya begini. “Lockdown di India menghasilkan 7000 pasien positif; 500 sembuh ; 200 wafat; dan 8.657 dirawat di RS akibat cidera pantat (bokong)”.

India Contoh Buruk
Di kalangan elit, lockdown di negeri Shahrukh Khan itu justru menjadi contoh buruk untuk diikuti. Setiap kali ada usul lockdown, pemerintah menyajikan data tentang kerusuhan India sebagai alasan tidak melakukan hal sama. Padahal, kerusuhan itu cuma beberapa saat saja, setelah itu bisa dikendalikan polisi.

PM India sudah minta maaf kepada rakyat kejadian yang menyebabkan kerusuhan itu. Bahkan, cium-cium kaki rakyatnya segala, begitu kabarnya. Mari kita lihat data India perhari ini, 10 April: kasus positif 6725; 625 sembuh; dan 226 meninggal. Bukan angka buruk jika dibandingkan dengan populasi penduduknya yang berjumlah 1,4 miliar. Enam kali penduduk Indonesia. India malah bisa menjadi cerita sukses dibandingkan Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia —tiga besar dunia dengan ratusan ribu positif Corona dan belasan ribu meninggal. Bagaimana dengan Indonesia ? Ini datanya : pasien positif 3.293; sembuh 252; dan wafat 280 (9/4).

Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) — serupa tapi tak sama dengan lockdown — mulai diberlakukan secara resmi hari ini di wilayah DKI. PSBB kini dilengkapi payung hukum untuk dapat menjadi alat pemaksa bagi warga yang melanggar. Alat pemaksa itu akhirnya terbit lebih sebulan setelah ditemukan pasien positif corona 1 dan 2 di Tanah Air. Dua puluh lima hari setelah pengumuman Social Distancing — 15 Maret lalu. Atau setelah melewati tarik ulur, perdebatan panjang, dan berbagai alasan politis lainnya. Semoga PSBB ini dapat segera menekan angka korban Corona di Jakarta dan di seluruh Tanah Air. Jangan khawatir kawan, taati aturan itu biar selamat. tidak akan ada pentungan rotan menggebuk pantat Anda yang bandel.