Tak Berkategori  

Puisi Berbasis Satire Horatian: Kritik Cerdas bagi Mahasiswa

Oleh: M. Firdaus

Satire dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni satire horatian, dan satire Juvenalian. Satir Horatian berkonsep “to tell the truth, laughing” tentang masalah sosial dan etika, serta dibentuk bukan hanya sekedar memberi hiburan, melainkan untuk memberi pengajaran Sementara itu, Satir Juvenalian berkonsep yang lebih pasti, kasar, dan amarah. Satir Horatian berbatasan dengan komedi, Satir Juvenalian dekat dengan tragedi. Jika Satir Horatian membangkitkan tawa, maka Satir Juvenalian memancing kemarahan, yang bahkan menghadirkan konflik. Tujuan satire horatian adalah untuk mengatakan yang sebenarnya dengan senyum sehingga tidak membuat tersinggung penerima sindiran tersebut. Satire jenis ini juga bisa disebut sebagai satire lembut karena menggunakan kalimat yang pantas dalam memberikan kritikan. 

Satire memiliki fungsi retoris sebagai hiburan (unsur humor), pendidikan, dan evaluasi, serta sangat penting dalam mendukung kritik sosial. Namun, penggunaan satire horatian kurang dimanfaatkan dalam budaya akademis. Padahal, dengan memanfaatkan satire horatian dalam pembelajaran, dapat meningkatkan kesantunan berbahasa sebagai indikator kecerdasan linguistik. Indikasi kecerdasan linguistik perlu diperhatikan lebih lanjut dan menjadi sorotan ilmu kebahasaan terutama dalam hal berbahasa yang baik dan benar dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Kritik harus dilakukan agar sesuatu yang buruk tidak selalu terjadi. Dalam penyajiannya, kritik yang baik disampaikan dengan bahasa yang halus, sopan dan tidak menyinggung. Kritik tidak selalu enak didengar atau sesuai dengan keinginan pihak yang dikritik, terutama kritik di ruang publik atau dalam debat terbuka. Ide dan pemikiran cerdas seorang mahasiswa mampu merubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Untuk itulah perlu adanya gaya bahasa yang digunakan dalam penyampaian kritik tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan satire horatian. Gaya bahasa sindiran untuk mengkritik dengan prinsip kesopanan, santun, dan halus adalah Satire Horatian. Melalui satire horatian, merupakan jalan kreatif untuk mengkritik, dengan menyerang penyakit sosial dengan tujuan ‘membersihkan’nya dengan prinsip kesopanan dan bahasa yang halus.

Satire berbeda dengan penghinaan (hate speech). Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, dan parodi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “satire” adalah ‘gaya bahasa yang dipakai dalam kesusastraan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang’ dengan tujuan memperbaiki keadaan tersebut. Sementara itu, arti kata “menghina” adalah ‘merendahkan, memandang rendah, memburukkan nama baik orang, menyinggung perasaan dengan memaki atau menistakan’. Penghinaan memuat ucapan kebencian, yakni tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dengan bentuk provokasi maupun hasutan.

Presiden RI Joko Widodo, dalam masa jabatannya, pernah meminta masyarakat untuk aktif mengkritik pemerintah. Hal ini merupakan tanggung jawab moral utama, khususnya bagi mahasiswa Dalam tanggung jawab moralnya dapat menjadi inspirasi atau panutan masyarakat yang mampu mengubah (generosity) dan konstruksi nilai (compassion). Dengan demikian, mahasiswa akan mampu menjadi penjaga nilai-nilai kebenaran (Guardian of Value). Untuk menjaga nilai-nilai kebenaran, mahasiswa harus cerdas dan kreatif dalam memberi kritik terhadap suatu permasalahan atau keadaan sosial. 

Satire Horatian sebagai ‘satire cerdas’ karena untuk menggunakan satire horatian seseorang harus memiliki pemikiran yang tajam. Sebab, penggunaan satire ini berupaya untuk memberikan penilaian terhadap suatu permasalahan atau kenyataan sosial yang terjadi di masyarakat dengan cara mengamati, menyatakan kesalahan, memberi pertimbangan, dan sindiran. Satire horatian sering digunakan oleh para sastrawan sebagai senjata cerdas untuk mengekspos sekumpulan gagasan dan perilaku masyarakat ke dalam perbaikan. Satire bertujuan untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat di suatu tempat agar mereka dapat memperbaiki kekurangan mereka, sehingga dibutuhkan ketajaman kritik. Mengucapkan kritik dengan kata apapun tidaklah salah, tetapi menggunakan kata apapun memerlukan telaah. Maka dari itu, kecerdasan linguistik sangatlah diperlukan seseorang untuk dapat memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola diksi dan emosi sesuai konteks situasi.

Ogonna (2015), sangat optimis bahwa amoralitas dan pengaruhnya terhadap orang dan masyarakat dapat berkurang drastis jika orang membaca karya satire. Hal Ini akan membantu memerangi amoralitas dan pengaruhnya dalam masyarakat karena mempraktikkan hal-hal baik dari apa yang telah dipelajari. Penggunaan satire atau sindiran cerdas memainkan peran penting, untuk mengkritik perilaku. Bahkan, di negara Afrika yang tidak ada penjara, satire memainkan peran penting dan ini membuat orang-orang terus di jalan yang benar.

Mahasiswa harus memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi di sekitarnya. Sikap mahasiswa yang peka dan peduli terhadap kondisi di sekitarnya harus dibina. Sebab, sebagai kaum intelektual, mahasiswa mendapatkan tugas nurani untuk selalu bertanggung jawab atas situasi sosial, ekonomi, dan bahkan politik bangsa. Dalam mengkritik keadaan sosial, untuk menyampaikan aspirasinya, mahasiswa tidak harus melakukan aksi dan orasi. Hal itu dapat juga dilakukan melalui tulisan untuk menyampaikan kritiknya, sehingga, gagasan tersebut dapat dijadikan sebuah evaluasi. Salah satu wadah mengomunikasikan kritik adalah lewat puisi. Puisi dapat menjadi wadah bagi pengarang dalam menyuarakan pikirannya secara imajinatif.

Disayangkan, di lingkungan kampus banyak terdapat mahasiswa menggunakan kata kasar, bahkan dalam mengkritik dosennya. Kata-kata kasar yang mereka lontarkan juga mereka lakukan melalui berbagai media sosial. Sayangnya, kebiasan buruk ini seringkali dianggap biasa saja di kalangan mereka. Padahal, kebebasan berekspresi baik secara lisan maupun tulisan bukan berarti suatu kebebasan yang tanpa batasan, melainkan suatu kebebasan yang mampu dipertanggungjawabkan, serta mengikuti norma-norma yang berlaku. Kebebasan yang tidak mengikuti norma bisa jadi mengarah pada suatu ujaran kebencian (Hate Speech). Ujaran kebencian ini bertolak belakang dengan konsep kesantunan berbahasa sebagai indikator kecerdasan linguistik, dan merupakan awal dari bencana hingga terjerat UU ITE.

Dengan memanfaatkan gaya bahasa satire horatian dalam pembelajaran, dapat meningkatkan kesantunan berbahasa sebagai indikator kecerdasan linguistik. Indikasi kecerdasan linguistik perlu diperhatikan lebih lanjut dan menjadi sorotan ilmu kebahasaan terutama dalam hal berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Mengucapkan kata apapun tidaklah salah, tetapi menggunakan kata apapun memerlukan telaah. Maka dari itu, kecerdasan linguistik seseorang memperlihatkan kemampuannya dalam mengelola diksi dan emosi sesuai konteks situasi.

Pemanfaatan satire horatian sebagai basis pembelajaran menulis karya sastra di kalangan mahasiswa, tentunya merupakan salah satu jalan keluar mencegah atau menghindari kritik-kritik kasar bahkan menjadi ujaran kebencian dari mahasiswa yang berlabel kalangan intelektual tersebut. Melalui puisi, yang mempunyai bahasa unik dan estetik, serta dengan gaya bahasa satire horatian, kritik tentunya dapat dilakukan dengan baik, santun, dan disertai dengan ketajaman pemikiran dan sense of humor. Di samping itu, sense of humor memiliki peran yang signifikan dan cukup sentral dalam kehidupan pelajar. Hasil penelitian Walter (1990), Kuiper, McKenzie, dan Belanger (1995), Kristiandi (2009), Truett (2011), Hafzah (2014), dan Kamaliyah (2015), menunjukkan bahwa sense of humor dapat meningkatkan motivasi dari dalam diri untuk belajar. 

Dosen pengajar juga harus mampu memberikan kontribusi yang besar mewujudkan mahasiswa sebagai agent of change yang harus berdiri di barisan terdepan menyuarakan aspirasi rakyat. Dosen perlu memilih, mengimplementasikan, bahkan mengembangkan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan kritis dan kreatif mahasiswa dalam pembelajaran menulis puisi. Model pembelajaran haruslah disesuaikan dengan materi yang dibahas, kondisi mahasiswa, situasi, dan sarana pendukung pembelajaran, serta kemampuan dosen dalam menguasai model pembelajaran tersebut. Penggunaan model pembelajaran yang tepat tentunya sangat berpengaruh terhadap kualitas proses dan hasil belajar. Untuk itu, pembelajaran menulis puisi berbasis satire horatian merupakan langkah yang tepat dalam meningkatkan pedagogi kritis mahasiswa dalam memberikan kritik sosial, kecerdasan linguistic, dan mewujudkan tujuan lembaga pendidikan sebagai tempat perjuangan dan pemicu perubahan sosial. (***)