Pujon Kidul, Desa Wisata Beromzet Miliaran

Desa Pujon Kidul. (tomy)

SEBUAH tempat wisata kuliner dengan pemandangan areal persawahan yang membentang luas, berlatar bukit nan berjejer dan dibalut hawa sejuk khas pegunungan berdiri megah di sebuah pinggiran desa.

Prolog di atas bukan mimpi. Bukan pula penulis sedang membayangkan sebuah tempat makan seperti itu. Tapi tempat itu sudah ada. Tempat makan bernuansa alam itu ada di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Penulis pernah berkunjung ke sana.
Nama tempat wisata kuliner itu Kafe Sawah. Kafe bernuansa alam yang merupakan salah satu dari sekian unit usaha yang dijalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Sejahtera Desa Wisata Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.
Kafe ini konsepnya tradisional. Bernuansa kampung. Tapi bukan kampungan. Tampilannya elegan. Cocok untuk semua kalangan. Menunya-pun bervariasi. Masakan tradisional hingga masakan internasional tersedia di sini.
Saung-saung tempat makan Kafe Sawah dibuat terbuka, kreatif dan nyaman. Cocok buat kongkow bareng teman. Tempat makan siang bersama dengan keluarga. Bahkan cukup romantis buat tempat mejeng muda-mudi yang lagi kasmaran.
Sesuai namanya Kafe Sawah, saung-saung tempat makan dibuat seolah-olah memang pengunjung sedang duduk dan makan di gubuk petani yang biasanya ada di tengah areal persawahan.
Seperti layaknya persawahan, dalam areal kafe seluas hampir dua hektar, sengaja dibuat aktivitas petani sedang bekerja di lahan pertanian. Sembari makan, pengunjung bisa melihat petani beraktivitas.
Saung-saung tempat makan ada yang berdiri di tengah areal padi yang sedang menguning, di tengah areal tanaman palawija yang siap dipanen, bahkan ada yang berdiri di atas kolam dengan ikan-ikan yang menggoda dan siap dipancing kapan saja.
Petik buah, tangkap ikan dan aktivitas agro wisata bisa dilakukan di desa ini. Mau pilih yang mana? Bebas memilih. Tapi aktivitas tersebut tak gratis. Harus bayar. Karena itu semua adalah bagian dari paket wisata yang dijual di kawasan kafe dan desa ini.
Mau wisata petik buah? Ada apel, strowberi, cabe, bawang dan aneka tanaman buah lainnya. Silahkan pilih saja. Tapi, syaratnya sebanyak buah yang dipetik, mesti ditimbang, kemudian wisatawan harus bayar ke pemilik lahan.
Begitulah sekelumit tentang Kafe Sawah milik BUMDes Sumber Sejahtera Desa Wisata Pujon Kidul. Pendapatan BUMDes dari unit usaha kafe ini rata-rata di atas Rp5 miliar per-tahun. Ribuan pengunjung tiap pekan menyambangi kafe ini untuk berwisata kuliner.
Kepala Desa Pujon Kidul, Utdi Hartoko mengatakan, dari unit usaha kafe sawah yang dikelola BUMDes ini, pemerintahan desa menerima Rp700 juta lebih dana segar sebagai pendapatan asli desa (PADes) tiap tahun. Sebuah angka cukup besar bagi Pendapatan Asli Desa (PADes).
Awal unit usaha Kafe Sawah digagas dan dibangun, semuanya atas inisiasi masyarakat lalu dikerjakan bersama-sama oleh masyarakat. Tujuan awalnya ya untuk mendukung keberadaan Desa Pujon Kidul sebagai destinasi wisata.
Kafe Sawah dimaksudkan sebagai amenitas atau fasilitas pendukung kegiatan wisata. Desa Pujon Kidul saat itu sudah ramai dikunjungi wisatawan. Desa ini punya daya tarik wisata berupa keindahan alam.
Sebagai destinasi wisata, Desa Pujon Kidul terkendala belum didukung amenitas berupa fasilitas tempat makan representatif sebagai daya tarik kuliner bagi wisatawan betah berlama-lama menikmati keelokan wisata desa ini. Dari sinilah muncul ide membangun Kafe Sawah.
Sebagai desa wisata, Desa Pujon Kidul bisa disebut sudah sempurna. Desa ini sudah memenuhi unsur 3A (Aksesibilitas, Amenitas dan Atraksi). 3A yang merupakan unsur utama pendukung sebuah kawasan disebut sebagai destinasi wisata.
Aksesibilitas. Desa ini gampang diakses. Jalan sudah sangat memadai. Akses ke desa ini dari pusat Kota Wisata Batu dan Malang sudah bagus dan lancar. Begitu pula akses dari satu lokasi ke lokasi wisata lain yang ada di desa, semua sudah saling terhubung.
Amenitas. Fasilitas pendukung kepariwisataan di desa ini juga sudah terbilang memadai. Boleh disebut lengkap. Wisatawan yang datang berkunjung tak perlu kuatir akan kesulitan mendapatkan kebutuhan harian. Semua kebutuhan harian wisatawan sudah ada di desa ini.
Sudah ada sejumlah homestay berstandar internasional, sudah ada pusat kuliner, sudah ada pusat oleh-oleh, pusat jajanan serta toko-toko penjual kebutuhan wisatawan, begitu pula kebutuhan teknologi informasi, semua lancar jaya di sini.
Atraksi. Desa Pujon Kidul telah punya iven wisata mandiri. Desa di pelosok pegunungan ini sudah punya beberapa iven sebagai agenda wisata budaya tahunan. Salah satu yang sangat terkenal adalah iven Pujon Kidul Culture Carnaval.
Pujon Kidul Culture Carnaval adalah sebuah iven kirab yang menampilkan semua potensi budaya yang ada di Desa Pujon Kidul maupun desa-desa sekitarnya. Iven dikemas sedemikian rupa sebagai atraksi berkelas yang layak ditonton oleh para wisatawan.
Kalau boleh dibandingkan, pengelolaan pariwisata Desa Pujon Kidul bisa dibilang sudah layaknya manajemen pengelolaan pariwisata di sebuah kota tujuan wisata terkenal. Semua sudah berjalan di rel-nya. Hebat desa ini.
Bedanya dengan pariwisata kota, di sini pengelolanya desa dengan anggaran maupun SDM masyarakat yang masih serba terbatas. Tapi plusnya mereka punya tekad dan kemauan kuat serta semangat kebersamaan untuk maju.
Konsep desa wisata yang kemudian berafiliasi dengan BUMDes lalu menjelma jadi kekuatan ekonomi masyarakat desa ini, tahap awal dibangun dari dasar kesadaran dan semangat gotong royong warga desanya.
Pemerintahan desa dan warga menyadari bahwa desa mereka tak punya sumber daya alam yang melimpah untuk kekuatan perekonomian. Kalaupun ada usaha pertanian dan peternakan, itupun belum maksimal hasilnya.
Melalui konsep pengembangan desa wisata berbasis agro-wisata, pemerintahan desa dan warga berharap potensi yang sedikit dimiliki bisa lebih maksimal dikembangkan, sehingga potensi itu mampu memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat maupun desa.
Berkat kerja keras, tekad kuat dan semangat kebersamaan yang didasari oleh kelihaian membaca peluang, bertahap namun pasti asa yang dibangun itu membuahkan hasil. Apa yang diimpikan dalam membangun desa tak berselang lama terwujud.
Sawah yang dulu cuma lahan untuk bertani, kini sudah berkembang menjadi daya tarik agro-wisata edukasi, tanpa mengganggu aktivitas utama dan produksi pertanian itu sendiri. Sebaliknya, aktivitas wisata malah memberi nilai tambah ekonomi bagi para petani.
Begitu pula dengan aktivitas peternakan budidaya sapi perah. Memerah susu sapi yang selama ini cuma jadi aktivitas rutin bagi masyarakat petani, kini bisa dikembangkan sebagai aktivitas wisata edukasi yang cukup diminati oleh kalangan wisatawan.
Tanpa mengganggu aktivitas produksi yang dilakukan petani peternak, aktivitas wisata edukasi perah susu ternyata juga mampu memberi nilai tambah ekonomi yang cukup besar dan sangat berpengaruh dalam meningkatkan perekonomian serta derajat kesejahteraan petani.
Begitulah, di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Ada paha ada kaki. Ada usaha pasti ada rejeki. Hal itu dibuktikan oleh masyarakat dan pemerintahan Desa Pujon Kidul. Dalam hitungan tiga tahun, desa ini sudah mampu jadi desa wisata mandiri dengan seabrek inovasi dan prestasi.
Hebatnya lagi, sukses pengembangan konsep desa wisata dan BUMDes di Desa Pujon Kidul berimplikasi pada kebutuhan tenaga kerja. Unit-unit usaha BUMDes yang dibangun membutuhkan banyak tenaga kerja. Kebutuhan tersebut diisi dan diutamakan bagi warga desa setempat.
Selain kafe sawah dan wisata alam, ada beberapa kegiatan wisata berbasis masyarakat yang dikembangkan di desa ini yang juga membutuhkan tak sedikit tenaga kerja. Seperti usaha homestay, agrowisata edukasi peternakan dan pertanian, usaha penyediaan air bersih, usaha pengelolahan sampah terpadu serta lainnya.
Dari satu unit usaha pengembangan pariwisata saja, BUMDes Sumber Sejahtera nama BUMDes Desa Pujon Kidul, bisa membuka peluang kerja bagi sedikitnya 300-an tenaga kerja lokal dan memberi peluang peningkatan nilai ekonomi bagi ratusan usaha masyarakat lainnya.
Berkat inovasi bernas dan kemauan kuat pemerintahan desa dan masyarakat mengembangkan konsep desa wisata, ternyata juga ikut mengubah paradigma anak-anak muda. Anak muda Desa Pujon Kidul yang dulu hobi merantau, kini mulai enggan meninggalkan kampung.
Sebaliknya, melihat peluang usaha yang terbuka dan menjanjikan ada di kampung, anak-anak muda yang di tanah rantau justru yang tertarik pulang ke kampung halaman dan berlomba-lomba membuka lapangan usaha kreatif berbasis pariwisata.
Banyaknya anak-anak muda potensial yang kembali pulang dari rantau dan mengembangkan berbagai jenis usaha kreatif sebagai pendukung geliat desa wisata. Hal itu menjadikan suasana desa kian bergairah. Berbagai jenis usaha kreatif yang dilakoni anak-anak muda tumbuh dan berkembang.
Tak hanya itu, keberadaan anak-anak muda dengan latarbelakang pendidikan memadai dan berpikiran maju yang pulang dari rantau itu, juga berimbas pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) potensial sebagai motor penggerak pembangunan desa.
Berkat inovasi demi inovasi yang dilakukan itu, wajar rasanya kalau Desa Pujon Kidul dinobatkan oleh Kementerian Desa (Kemendes) sebagai Desa Wisata Agro Terbaik Nasional dan BUMDes Terbaik Nasional tahun 2017.
Selain itu, tak berlebihan pula rasanya kalau Desa Pujon Kidul dinobatkan sebagai peraih penghargaan dari forum ASEAN sebagai lima desa dengan pengelolaan Homestay Wisata Terbaik di Asia Tenggara.
Pujon Kidul setidaknya telah membuktikan bahwa konsep pengembangan desa wisata kalau dikelola dengan baik melalui unit usaha BUMDes ternyata bisa jadi sumber utama perekonomian desa dan terbukti bisa menyejahterakan masyarakat. (Tomi Syamsuar, Wartawan Harian Singgalang)
Loading...