Tak Berkategori  

Pulang kerja, Mandi Bersih-bersih

PADANG – Pasca isolasi mandiri selama 21 hari, selepas masuk ke dalam ruang operasi RSUP M. Djamil Padang dengan risiko tinggi terpapar Covid-19, Andri berbagi tips bagaimana tetap aman dan tak tertular dari virus menular tersebut. Ini diungkapkannya sebagai pembelajaran untuk kawan-kawan jurnalis, ketika meliput kawasan yang berpotensi menularkan covid.

Menurutnya, sekembali dari kawasan berpotensi tinggi Covid-19, seorang jurnalis haruslah mandi sebersih-bersihnya. Jika mungkin mandi dengan air hangat. Kemudian pakai sabun atau sampo untuk kepala. Diamkan sabun dan sampo tersebut beberapa menit agar virus yang hingga di tubuh mati. Virus Covid-19 bisa mati karena uap sabun.

“Saya suka mandi dengan air hangat, sebab menurut teorinya air hangat lebih bagus digunakan untuk orang yang kembali dari kawasan yang berpotensi tinggi ada virus covidnya,” terang Andri Mardiansyah.

Kemudian, katanya seluruh pakaian yang dipakai saat meliput harus segera direndam dengan sabun, dicuci dan dijemur. Setelah semuanya bersih baik badan dan pakaian jurnalis yang baru kembali dari kawasan berpotensi tinggi diharusnya menjauh atau mengisolasi diri dari keluarga. Baik istri, anak-anak dan keluarga lainnya.

Jika ada gejala mengarah pada Covid, jurnalis harus sesegera mungkin melakukan tes swab. Jika tidak cukup hanya mengisolasi diri hingga waktu yang ditentukan ahli. Paling lama 21 hari.

“Alhamdulillah saya dan banyak teman-teman jurnalis lain yang liputan ke kawasan berpotensi tinggi hingga kini tidak terinfeksi. Insyaallah kami akan selalu aman dan terlindung dari Covid-19, karena melakukan protap ketat. Jika terpapar juga setelah mengikuti protap kesehatan, itu di luar kuasa kami sebagai manusia,” terang dia.

Sebelum masuk ke kawasan “berbahaya” seorang jurnalis harus melakukan riset dulu. Jangan sampai gegabah dalam bertindak konyol, sebab bisa fatal akibatnya. Imunitas tubuh juga harus tetap dijaga dengan mengkonsumsi multi vitamin, sayuran, buah-buahan, istirahat yang cukup dan menggunakan APD sesuai standar dari kementerian kesehatan atau WHO.

“Kemudian yang terpenting ketika sampai di lokasi berpotensi tinggi itu, segera mengabadikan moment yang terlihat. Ambil semua yang dianggap paling penting karena kita tidak tahu ke depannya seperti apa. Apakah pandemi akan terus berlangsung atau berakhir seperti keinginan semua orang. Jadi moment yang ada harus kita abadikan untuk kepentingan orang banyak. Bukan hanya untuk mengisi status di media sosial. Jika itu yang dilakukan terlalu konyol rasanya. Sebab risiko yang kita hadangan sangat tinggi,” beber Andri.

Dia sendiri, mengambil moment operasi cesar di tengah pandemi tak lain untuk menjadi bagian sejarah dari wabah Covid-19 yang mendunia. Setelah itu foto-foto yang diambil bisa dikirim ke media lokal, nasional hingga internasional dan akan dilihat orang banyak, sebagai sebuah karya jurnalistik yang akan menjadi saksi sejarah.

Selama dalam kawasan potensi tinggi Covid-19, seorang jurnalis juga harus mengikuti semua instruksi dokter, perawat, bidan dan lainnya. Misal saat dalam ruangan isolasi, operasi cesar atau ruangan berisiko tinggi terpapar covid lainnya, jangan menyentuh benda-benda yang ada di dalamnya. Sebab bisa saja droplet dari pasien positif tinggal dan menempel di benda tersebut.

Pegang saja, kamera sebagai senjata untuk mengabadikan moment bersejarah. Kemudian, APD, harus sesuai dengan standar kementerian kesehatan atau WHO.

“Soal APD jangan asal-asalan. Pakailah yang APD sesuai standar yang ditetapkan instansi berkompeten,” ujarnya.

Menurutnya, memakai APD sepintas memang gampang. Faktanya tidak demikian. Pakai buka APD harus sangat hati-hati. Semua harus sesuai dengan standarnya. Sedikit saja salah, bisa berbahaya bagi diri sendiri. Masker misalnya, jangan sampai ada udara yang masuk dari ruangan berpotensi tinggi dan terhirup oleh jurnalis dan berisiko masuknya virus ke tubuh.

Memakai dan buka APD sekembali dari ruang berpotensi tinggi Covid-19, harus berurutan tidak sembarangan seperti memakaipakaian biasa. Setelah itu pakaian yang sudah dipakai harus dibuang ke tong sampah infeksius.

Hal lain yang perlu disiapkan adalah mental. Jangan sampai setengah hati. Jika memang ingin terjun. Masuk ke sana, Jika ragu-ragu sebaiknya urungkan niat masuk ke kawasan berbahaya” tersebut. Jika mental sudah siap, maka berdoa adalah hal penting lainnya. Doa dan restu orang-orang dekat, mulai dari orangtua, istri anak dan keluarga besar bagi Andri, adalah bekal penting lainnya dari semua persiapan yang dia buat sematang mungkin, sebelum masuk ke kawasan potensi tinggi Covid-19.

“Untuk kawan-kawan yang tetap stay di rumah juga harus tetap menjaga kesehatan. Konsumsi makanan yang bergizi dan berimbang. Sebab orang yang di rumah saja belum tentu aman. Faktanya banyak juga mereka yang di rumah saja tapi tetap terpapar,” sebut Andri.

Dia mengajak semua pihak untuk tetap menerapkan protokol kesehatan di mana pun berada. Sebab jangan sampai terjangkit dulu baru taat protokol kesehatan. (*)