feature

Rindukan Rumah yang Layak, Rumah Marnawati Dibedah UPZ Semen Padang

×

Rindukan Rumah yang Layak, Rumah Marnawati Dibedah UPZ Semen Padang

Sebarkan artikel ini
Marnawati di rumahnya yang sedang dibangun UPZ Semen Padang di Padayo Kelurahan Indarung, Kota Padang.yose

PADANG – Sebuah rumah semi permanen sudah berdiri, pondasinya nampak kuat tapi belum rampung seutuhnya. Disebelahnya masih ada rumah papan tanpa kamar beratap seng yang tiris.

Rumah itu milik, Marnawati bersama suaminya Syafrinaldi di Padayo RT 02/012 Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang.

Marnawati, adalah warga Padayo daerah peladangan yang berada di belakang komplek pabrik PT Semen Padang. Orang tuanya juga mantan pekerja di Semen Padang.

Sekarang, Marnawati masih menempati rumah berdinding papan. Rumah itu tidak ada ruangnya, ukurannya sekitar 4×5 meter. Dindingnya papan yang dipaku rapi, tapi nampak celah pada bagian tertentu.

Lantai dibuat panggung, tingginya sekitar 1 meter. Di bawahnya langsung beralas tanah. Di depan tempat tidur dibuat tungku dari batu sebagai dapur. Disudut itulah tempat memasak.

Tidak ada kamar. Hanya lantai yang dibatasi menjadi dua bagian. Bagian terkecil, sekitar 1×2 meter menjadi tempat makan yang juga digunakan untuk shalat.

Bagian ini untuk duduk bersama saja tidak bisa. Mereka harus bergantian menggunakan bagian itu, apakah untuk shalat atau makan.

Sementara bagian terbesar sekitar 3×4 meter menjadi tempat tidur. Semuanya menumpuk pada ruang tanpa dinding itu. Mulai dari pakaian, sampai semua kebutuhan lainnya.

“Disini lah kami tidur, bagaimana lagi ini kondisinya,”katanya.

Siang hari, rumah itu tampak pengab, gelap. Apalagi dinding dan atap tampak menghitam karena asap tungku. Penerangan hanya ada di pintu depan. Sedangkan jendela kecil jarang dibuka.

Tidak ada kamar mandi. Mereka menggunakan sungai kecil ada di ladang untuk mandi dan buang air. Selain itu anak sungai itu juga dimanfaatkan untuk tempat mencuci.

Mereka menempati rumah itu bersama empat orang anaknya. Manarwati punya dua anak perempuan, yang sulung dan yang bungsu. Mereka tidur dalam satu ruangan.

Dari empat orang anaknya, dua orang sudah kuliah, yakni Nurwajihan Safitri dan Hanif Nurbarazzaq. Satu orang lagi Al Nurwan Syukur masih SMA dan yang kecil Nurhijah Harsyalaina masih SMP.

“Alhamdulillah, sekarang sudah ada listrik. Sebelumnya kami hanya pakai lampu minyak tanah. Ini baru sekitar satu tahun ini,”katanya.

Marnawati bersama keluarga tinggal di Padayo sekitar 3 tahun. Sebelumnya sempat mengontrak Koto Baru, Pauh. Karena rumah yang dikontrak sudah tidak bisa diperpanjang, akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan rumah di tanah peninggalan ayahnya.

Dia memang ditinggalkan tanah sekitar 2,5 hektar oleh ayahnya. Tanah diperoleh dengan hibah dari orang tuanya. Sebenarnya seluas 2,5 hektar itu untuk Marnawati bersama 9 orang saudaranya. Tapi saudaranya yang lain masih memiliki rumah, maka lahan itu dia sendiri yang menggarap.

“Kami pindah ke sini sekitar 2019 lalu. Dibangun dengan uang seadanya. Bahkan uang beasiswa anak saya juga terpakai untuk membangun ini,”katanya.

Untuk mencapai rumah Marnawati ini memang belum memiliki jalan yang rata. Selain terjal, badan jalan masih tanah dan bebatuan cukup besar. Kondisi itu juga menyulitkan untuk diakses dengan kendaraan roda empat.