Tak Berkategori  

RSUP M. Djamil jadi Rujukan Orang yang Alami Efek Samping Pascavaksinasi

RSUP M Djamil. (infopublik)

PADANG – RSUP M Djamil Padang disiapkan menjadi tempat rujukan untuk orang yang mengalami efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) vaksin Covid-19. Sejauh ini terdapat nakes yang telah divaksin hanya menunjukkan gejala ringan, seperti pegal, demam dan rasa mengantuk.

Ketua Komisariat Daerah Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI) Covid Sumbar, dr Raveinal SpPD-KAI FINASIM mengatakan, dari 3.367 yang sudah disuntik vaksin, hanya 9 orang yang dilaporkan KIPI.

“Nakes yang mengalami gejalan kecil sekali, 9 per 3.367 kasus yang melaporkan. Itu pun ringan dan tidak berat,” katanya di-sela-sela vaksinasi serentak di RSUP M Djamil Padang, Minggu (31/1).

Disebutkannya, efek samping dari vaksinasi Covid-19 tidak dialami semua orang. Tertentu saja yang mengalami efek samping. Atas hal demikian, dia mengimbau kepada masyarakat bahwa vaksin Sinovac aman.

“Jangan takut dan ragu. Bagi yang merasakan gejala KIPI, silakan dilihat no kontak yang tercantum pada kartu vaksin. Silakan kontak nomor tersebut. Lalu kita tangani. Jadi tidak perlu khawatir akan vaksin Sinovac. Kami pun masih tetap memantau nakes yang sudah divaksin,” ungkap Raveinal.

Dirut SRUP M. Djamil Padang, dr. Yusirwan Yusuf menjelaskan sebagai antisipasi efek samping vaksin rumah sakit milik pemerintah pusat tersebut juga menyediakan dokter penyakit dalam khusus konsulen KIPI baik gejala yang ringan maupun berat.

“Jadi bila warga yang sudah divaksin Covid-19 dan mengalami KIPI, maka segera melapor ke RSUP M Djamil Padang,” katanya.

Dikayakannya, vaksinasi serentak ini diikuti ribuan tenaga kesehatan, satpam maupun cleaning service baik dari lingkungan RSUP M Djamil maupun rumah sakit lainnya di Sumbar. Proses vaksinasi ini melibatkan sebanyak 121 orang vaksinator yang terdiri dari dokter, perawat dan tenaga administrasi. Kemudian, juga disediakan 20 meja pelayanan sehingga tidak terjadi tumpukan-tumpukan dan protokol kesehatan tetap berjalan.

Yusirwan menegaskan vaksinasi ini penting bagi tenaga kesehatan. Bila tenaga kesehatan tersebut orang tanpa gejala akan tetapi tetap melayani pasien daya kekebalan tubuh rendah sehingga menjadi penularan Covid-19. Atau pasien sendiri yang membawa virus Covid-19 mengakibatkan tenaga kesehatan tertular.

“Jadi ada dua hal menyebabkan vaksinasi diperuntukkan pertama kali untuk tenaga kesehatan,” sebut Yusirwan.

Usai vaksinasi, Yusirwan mengingatkan tenaga kesehatan tetap memperhatikan protokol kesehatan. “Jangan sampai lepas masker dan tidak jaga jarak. Itu salah besar. Karena vaksin yang disuntik adalah virus yang sangat lemah. Dan diinjeksikan ke darah yang bukan tempat hidup virus,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Arry Yuswandi mengungkapkan kasus Covid-19 di Sumbar semakin hari makin menurun.

“Alhamdulillah di Kota Padang, sudah berada di zona kuning. Artinya, tingkat penularan Covid-19 mulai berkurang. Jika kita bersama-sama mendukung vaksinasi ini, InsyaAllah di Sumbar khususnya Kota Padang akan makin cepat penurunan kasus Covid-19,” harapnya.

Di Sumbar sendiri, sebut Arry, jumlah kasus Covid-19 mendekati 27 ribu. Sementara nasional sudah diangka 1 jutaan. “Kami berupaya vaksinasi salah satu cara yang jitu menekan angka penyebaran kasus Covid-19,” sebutnya.

Tahap pertama, Arry menyebutkan diprioritaskan untuk sumber daya manusia tenaga kesehatan termasuk tenaga pendukung lainnya berkaitan dengan pelayanan kesehatan. “Karena memang, tenaga kesehatan paling risiko tertular,” tutur Arry.
Arry sendiri menargetkan 37 ribu lebih tenaga kesehatan yang divaksin. Dengan target selesai pada 21 Februari 2021. “Vaksinasi serentak ini optimistis kami targetkan untuk 2.000 orang. Mudah-mudahan ini menjadi jumlah terbanyak secara nasional,” ungkap Arry. (yuke/yose)