oleh

Salawaik Dulang Jadi Pembuka Festival Nan Jombang

Salah satu pertunjukan randai pada Festival Nan Jombang Tgl 3 tahun lalu di Ladang Tari Nan Jombang.  (*)

PADANG – Salawaik dulang akan menjadi pertunjukan pembuka pada iven rutin tahunan Festival Nan Jombang (FNJ) Tgl 3 tahun ini. Berbeda dengan penampilan biasanya, Kamis (3/1) malam nanti tiga grup akan tampil sekaligus menghadirkan pertunjukan sastra lisan Minangkabau.

Jhon Cakra pimpinan Sinar Barapi, salah satu grup salawaik dulang yang akan tampil Kamis malam ini mengatakan dengan adanya pertunjukan ini bukan saja sebagai cara untuk lebih melestarikan budaya, namun kegiatan ini juga bisa menjadi ajang silaturahmi antara pelaku seni budaya dan masyarakat.

“Salawaik dulang merupakan bagian dari silaturahmi antara pelaku dan masyarakat. Selain itu Salawaik dulang adalah media bagi pelaku Salawaik untuk mengenal dan memahami budaya suatu kelompok masyarakat tempat mereka tampil,” jelasnya.

Selain Sinar Barapi, seperti diketahui, untuk pembukaan FNJ Tgl 3 ini hadir tiga grup salawaik dulang lainnya, yakni Bintang Purnama, dan DC 8. Ketiga kelompok ini sama-sama berasal dari Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Selain itu yang juga sangat istimewa pada FNJ tgl 3 kali ini yakni grup Salawaik Dulang Bintang Purnama merupakan grup salawaik Dulang dengan pemain wanita.

Kemudian, pada kegiatan seni dan budaya ini, selain pembukaan FNJ Tgl 3, Nan Jombang Grup bersama Komunitas Galombang Minangkabau juga akan meluncurkan sejumlah program dan iven di tahun 2019 ini, yaitu Kato Babega dan KABA Festival 2019.

Sementara itu, Pimpinan Nan Jombang Grup, Ery Mefri mengatakan pertunjukan salawaik dulang ini diharapkan mampu mengembalikan makna kesenian tersebut sebagai bentuk sastra lisan Minangkabau bernuansa Islam yang merupakan media dakwah keislaman berisikan bacaan selawat atau puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, kajian tarekat, kisah nabi dan rasul, dan juga masalah syariat.

“Kegiatan berkesinambungan yang diprogram oleh Nan Jombang Grup dan komunitas Galombang Minangkabau ini merupakan bentuk pelestarian serta wadah apresiasi terhadap keberadaan seni tradisi Minangkabau saat ini,” katanya. (wahyu)

 

News Feed