Tak Berkategori  

Sampai Jumat, BIM Belum Terapkan Rapid Test Antigen

Bandara Internasional Minangkabau (BIM). (Yusman)

PADANG – Pada libur Natal 2020 dan Tahun Baru (Nataru) 2021 ini diperkirakan akan terjadi lonjakan penggunaan pesawat udara di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Lonjakan diprediksi berkisar lima hingga 10 persen.

“Itu perkiraan kita dari jumlah penumpang pada bulan lalu yang sudah mencapai 4.000 an orang, apalagi juga ada penambahan ekstra flight dari Citilink dan kehadiran Air Asia dijalur domestik. Tapi, kita sekarang tidak bicara perbandingan dengan tahun, karena kondisinya sangat jauh berbeda,” kata Eksekutif General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II Cabang Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Yos Suwagiono usai Upacara Pembukaan Posko Terpadu Natal dan Tahun Baru 2021 di pintu Terminal Kedatangan Internasional, Jumat (18/12).

Namun, angka itu menurutnya bisa saja terkoreksi mengingat akan adanya perubahan dari surat edaran Gugus Tugas Covid-19, Menteri Perhubungan RI, maupun Menteri Kesehatan RI terkait keharusan penggunaan Rapid Test Antigen pada setiap orang yang melakukan perjalanan udara, laut, dan darat.

“Yah, kita tahu, dari sisi perbedaan harga, jelas masyarakat agak keberatan, yakni sekitar Rp150 ribuan,” ujarnya.

Tapi, ditegaskan EGM, di BIM berdasarkan kesepakatan bersama dengan Kepala Otoritas Bandara (Otban) Wilayah VI, penerapan rapid test antigen belum menjadi keharusan.

“Sementara ini, kita masih menunggu perubahan SE (surat edaran-Red) baik dari Gugus Tugas, dari Kemenhub, dan Kementerian Kesehatan. Karena sampai saat ini kita belum terima SE-nya, makanya kita sepakat dengan Kepala Otban sebagai regular untuk sementara ini masih menerapkan minimal rapid test antibodi. Saya sendiri juga tak mau masyarakat menjadi resah,” tegasnya.

Bila SE itu diterima, maka pihaknya juga akan segera pula menerapkan rapid test antigen kepada seluruh penumpang. Demi memudahkan masyarakat, PT AP II BIM akan meminta kesediaan salah satu labor kesehatan untuk membuat tempat pemeriksaan di bandara.

“Ini bukan bisnis Angkasa Pura. Tapi, lebih kepada upaya kami mempermudah masyarakat, terutama mereka yang dari daerah yang mungkin saja belum melakukan tes untuk perjalanan mereka,” tegasnya menampik isu miring soal keberadaan tempat tes di bandara. (yuni)